Kami tengah berada dalam perjalanan menuju Kota Dumai melewati Bangko Pusako, Bengkalis ketika kami mendapati banyak rumah yang ditinggalkan penghuninya berdekatan dengan lokasi-lokasi perkebunan yang terbakar. Kami berhenti untuk singgah di rumah-rumah kosong tersebut.

Rumah Kami di Riau

 Lokasi rumah-rumah ini berdekatan dengan jalan utama, dengan halaman belakang menjadi pemisah antara rumah dan jalan utama. Menurut perkiraan kami perkebunan yang terbakar di kawasan tersebut lebih dari 100 hektar.

Kami mengambil gambar beberapa rumah dan masih menemukan sejumlah barang-barang pribadi yang ditinggalkan pemiliknya di dalam beberapa rumah yang ditinggalkan.

 

Kami memutuskan untuk pergi ke desa terdekat untuk mendapatkan informasi tentang rumah-rumah ini.  Tak jauh, kami mendapati beberapa anak tengah bermain di sebuah rumah yang tak jauh dari perbatasan perkebunan yang terbakar.

Ternyata pemilik rumah itu adalah Suryadi (30) yang tinggal di sana bersama keluarganya.

Suryadi menyambut kedatangan kami di rumahnya. Ia memperkenalkan kami kepada dua orang putranya: Abdul Rahman, 5 tahun, dan Abdul Hamid, 1,5 tahun. Istrinya tengah sibuk memasak di dapur.

 

“Kami baru kembali kemarin”, katanya memulai cerita, “Ketika api membesar tanggal 22 Juni lalu, Saya memboyong seluruh keluarga ke tempat yang aman.”

Ketika ia menuturkan tentang lokasi evakuasi, yang dimaksudkan bukanlah tempat pengungisan. Melainkan rumah kerabat di beberapa tempat. Suryadi sendiri termasuk beruntung karena ayah mertuanya tinggal di desa Sringsing yang jaraknya hanya 5 kilometer dari rumahnya.

“Orang-orang lain harus pergi ke tempat yang lebih jauh, seperti Dumai atau Duri. Rumah itu milik saudara perempuan saya, Misti. Ia dan keluarganya masih di Dumai. Saya telah mengatakan padanya api sudah padam, mungkin besok ia pulang.”, Suryadi menunjuk salah satu rumah kosong.

Kami bertanya tentang sebuah rumah kosong yang hampir rubuh karena terbakar, “Oh, yang itu milik Baharuddin. Ia dan keluarganya ada di Bengkalis sekarang, tinggal di rumah abangnya. Saya rasa ia akan tinggal di sana lebih lama lagi karena istrinya baru melahirkan bayi laki-laki bulan lalu.”

Ia lalu bercerita tentang malam saat api pelan-pelan mendekati rumah mereka. “Diawali dengan api kecil dari salah satu konsesi di Jalan Pemuda, sekitar seratus meter dari sini. Saya tidak tahu siapa pemilik konsesi tersebut. Yang saya tahu api merambat dengan sangat cepat. Bisa dimengerti karena udaranya sangat panas dan angin bertiup kencang. Hanya dalam waktu sehari api sudah menyebar, termasuk ke perkebunan di belakang rumah saya. Itulah mengapa kami memutuskan untuk evakuasi.”

Suryadi bersyukur karena tidak seperti kebanyakan tetangganya, rumahnya selamat dari api. Dan tidak banyak barang-barangnya yang hancur termakan api. “Itu karena saya tidak punya banyak barang,” ia tersenyum. “Saya tidak memiliki konsesi perkebunan.”, Suryadi menjelaskan. Tapi kebakaran membuat Suryadi tidak bisa bekerja. Suryadi dan sekitar 100 orang lagi di desanya bekerja untuk pemilik konsesi kelapa sawit sebagai pemanen atau membantu menanam sawit. “Penghasilan saya sekitar tujuh puluh ribu rupiah per hari. Sekarang, saya harus menunggu hingga pemilik konsesi menanam perkebunan mereka lagi.”