Berbicara tentang keanekaragaman hayati di Papua, pasti tidak akan ada habisnya.

Setelah meninggalkan kehangatan Manokwari pada Sabtu sore 18 Mei, keesokan harinya Rainbow Warrior tiba di lepas pantai Jamursba Medi kabupaten Tambrauw, Papua Barat, di kawasan kepala burung pulau Papua. Tujuan kami kali ini adalah untuk menemui sosok reptilia mengagumkan yang bernama Penyu Belimbing atau Leatherback Turtle (Dermochelys coriacea)

Disini, di pantai pasir putih Jamursba Medi yang membentang hampir sepanjang 18 km adalah tempat bertelurnya Penyu Belimbing yang terbesar di kawasan Pasifik. Mulai dari bulan April hingga September, ribuan penyu belimbing akan mendarat dan bertelur di tempat ini, setiap tahunnya.

Penyu belimbing adalah spesies luar biasa, ia bisa berkelana jauh dari perairan Papua hingga lepas pantai barat Amerika Serikat untuk mencari makan. Jalur migrasi Penyu Belimbing tercatat sebagai salah satu migrasi terpanjang dari sekian banyak spesies laut. Dan jika tiba saatnya untuk bertelur, penyu betina yang dulu menetas disini pasti akan selalu kembali, karena itulah pantai ini disebut Jamursba Medi yang dalam bahasa lokal setempat artinya adalah:  ‘pasti kembali’  merujuk pada Penyu Belimbing yang selalu kembali walau telah berenang jauh hingga ke pantai Amerika.

Lokasinya yang sangat terpencil, sulit dijangkau, serta tidak adanya polusi cahaya menjadikan Jamursba Medi lokasi yang ideal bagi Penyu Belimbing untuk meletakkan telurnya dengan aman dan bagi tukik tukik kecil mereka memulai perjalanan menjelajahi lautan dunia. Namun, perjalanan pulang penyu belimbing ini akan menghadapi tantangan yang lebih besar dari ganasnya ombak di lautan.

Rencana pembangunan jalan Trans-Papua yang menghubungkan Manokwari dan Sorong  di sepanjang pesisir pantai utara Papua Barat akan membuat akses ke pantai Jamursba Medi ini menjadi mudah. Tidak hanya pencurian telur dan penangkapan penyu yang akan meningkat, namun polusi cahaya dari lampu kendaraan dan permukiman yang akan tumbuh di sepanjang jalan akan mengganggu navigasi binatang ini dan membingungkan mereka untuk mendarat.

Setelah dua jam berjalan kaki menyusuri pantai akhirnya kami tiba di jalur berbatu di tepi bukit hasil pembukaan hutan untuk pembangunan jalan. Jalan ini sangat dekat sekali dengan pantai. Kami lalu berbalik arah menelusuri jalan ini hingga masuk ke dalam hutan dimana pohon-pohon besar bertumbangan di tepiannya menyisakan akar yang membusuk, dan kemudian berakhir di sebuah muara. Debur ombak Jamursba Medi masih terdengar.

Malam itu kami bergantian berjaga di tepi pantai menanti kedatangan Penyu Belimbing. Kami harus menggunakan lampu khusus dengan filter merah agar tidak mengganggu mereka. Tepat jam 11 malam, cahaya merah berkerlap kerlip tanda bahwa penyu pertama telah mendarat. Tak pernah terbersit di benak saya bahwa spesies ini ternyata sangat besar, panjangnya bisa mencapai 1,5 hingga 1,7 meter, begitupun lebarnya jika dihitung dengan bentang siripnya. Ini pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan bagi semua anggota tim, kami semua hanya terdiam dan memandang dengan wajah kagum. Perlahan ia menyibakkan pasir pantai menggali kedalaman yang pas, lalu meletakkan telurnya. Seekor penyu belimbing mampu mengeluarkan 100 telur dalam satu kali proses bertelur, dan ia akan kembali empat hingga lima kali lagi kepantai ini dalam satu musim sehingga penyu yang kami saksikan ini kemungkinan akan mengeluarkan total 500 telur dalam tahun ini saja . Hingga jam 4 pagi total ada 6 ekor penyu yang kami jumpai, dan dari setiap penyu yang kami amati, selalu ada cairan seperti air mata yang keluar dari matanya saat ia bertelur. Mungkinkah ia menangis? Entahlah.

Namun dengan adanya rencana pembangunan jalan Trans Papua jelas memberikan ketidakpastian akan perlindungan terhadap satwa ini.  Jika proyek ini diteruskan,  tukik-tukik yang saat ini masih didalam telur yang tertutup pasir Jamursba Medi, tidak akan mengenali tempat kelahiran mereka dan tidak akan kembali lagi di masa depan, karena jalan yang kita bangun telah menghancurkan jalan mereka pulang.

Greenpeace mendesak pemerintah Papua Barat untuk menghentikan pembangunan jalan Trans-Papua yang melintasi pesisir utara Papua dan meminta pemerintah untuk memastikan perlindungan terhadap masa depan satwa langka yang berada dalam ancaman kepunahan ini.