Hari ini langkahku menuju kapal Rainbow Warrior bukan untuk berlayar bersama menyelamatkan lingkungan tetapi melepaskannya untuk perjuangan selanjutnya. Dari kejauhan terlihat tiga tiang kokoh Rainbow Warrior, tiga tiang yang selama hampir 22 tahun selalu siap mengembangkan layar dan membawa para satria pelangi menyelamatkan bumi dari para perusak di seluruh dunia.. Warna hijau yang khas dari kapal Rainbow Warrior terlihat begitu anggun membalutnya. Namun goresan warna pelangi sudah tidak ada dan nama Rainbow Warrior pun sudah tak terlihat. Dia terlihat siap untuk perjalanan selanjutnya.

Kapal Rainbow Warrior II adalah penerus Rainbow Warrior I yang dibom oleh agen rahasia Perancis pada 1985 di Selandia Baru. Rainbow Warrior II adalah kapal nelayan yang dibeli Greenpeace dan pada 1989 Rainbow Warrior II memulai perjalanan pertamanya bersama Greenpeace yang bertepatan  dengan peringatan empat tahun pengeboman Rainbow Warrior I

Saya melangkah masuk ke kabin Kapal Rainbow Warrior. Masih terlihat seperti yang dulu, namun yang berubah adalah sudah tidak terlihat lagi foto-foto kegiatan Rainbow Warrior selama lebih dari dua dekade terakhir.Banyak peralatan yang sudah dikemas dan siap diturunkan. Ya, kapal ini mulai kosong tapi saya masih merasakan semangatnya yang luar biasa besar untuk membela lingkungan. Dan perjalanan selanjutnya pasti akan membawa semangat itu.

Hari ini 16 Agustus 2011, Rainbow Warrior II akan mengakhiri kebersamaannya dengan Greenpeace dan akan memulai perjalanan barunya bersama sebuah organisasi Bangladesh yang bernama Friendship. Mereka akan bekerja bersama untuk pelayanan kesehatan dan bantuan darurat. Rongdhonu adalah namanya yang baru bersama Friendship. Rongdhonu dalam bahasa Bengali artinya Pelangi. Dia akan tetap menjadi pelangi di hati kami karena Rongdhonu akan berfungsi sebagai rumah sakit terapung yang melayani masyarakat disepanjang pantai Bangladesh dan Teluk bengal, memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang paling beresiko terkena dampak perubahan iklim didunia.

Rainbow Warrior II dan Indonesia

Kenangan saya dan Rainbow Warior sangat melekat. Semangat Rainbow warrior dan penyelamatan hutan Indonesia tidak akan terlupakan. Kapal ini telah menjadi saksi perjuangan Greenpeace di Indonesia untuk terus menyelamatkan hutan. Kapal dengan tiga tiang layar kokoh ini telah membantu kami mendokumentasikan kehancuran hutan alam Indonesia. Mendokumentasikan bagaimana para penghancur hutan membuat keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat kaya menuju kepunahan.

Di tahun 2006, dengan sambutan yang hangat di Papua, Rainbow Warrior berupaya menghentikan pemuatan kayu alam ke atas kapal di sekitar perairan sorong papua barat. Hasil pantauan di Papua dan Papua Barat kami serahkan pada pemerintah. Seruan Greenpeace di saat itu sangat jelas untuk moratorium penghancuran hutan Indonesia. Sebagai langkah awal penataan kembali tata kelola hutan agar tidak bertambah rusak dan lebih bermanfaat bagi rakyat Indonesia.

Perjalanan Rainbow Wariror di tahun 2007, singgah di pelabuhan Dumai, Riau. Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan ekspor minyak sawit terbesar di Indonesia, kami menyampaikan pesan bahwa pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit seharusnya dikembangkan dengan cara-cara yang tidak merusak hutan dan lahan gambut. Hutan sumatera telah hancur dan kita harus menyelamatkan hutan alam yg tersisa. Kami melakukan protes dipelabuhan Dumai selama beberapa hari, membentangkan spanduk ditangki minyak sawit diareal pelabuhan dan juga berusaha menghentikan pemuatan minyak sawit yang kami identifikasi terkait dengan perusakan hutan. Aksi kami menjadi salah satu bukti untuk Pertemuan perubahan iklim PBB (UNFCCC) di Bali pada saat itu bahwa penghancuran hutan adalah salah satu pemicu perubahan iklim global.

Tidak hanya ketika di Indonesia Rainbow Warrior menyuarakan penyelamatan hutan Indonesia. Di tahun 2008, di Rotterdam,Belanda kami mengkampanyekan penyelamatan hutan Indonesia dengan meminta para konsumen dieropa untuk ikut mendukung penyelamatan hutan dan gambut di Indonesia. Kami melakukan aksi diperairan dekat Belanda untuk berusaha menghalau kapal tangker yang memuat minyak sawit yang teridentifikasi dihasilkan oleh perusahaan perusak hutan di Indonesia.

Saya seharusnya ikut kembali bergabung dalam pelayaran Rainbow Warrior di tahun 2010 lalu di Indonesia, sayangnya Rainbow Warrior tidak diijinkan masuk keperairan Indonesia. Peristiwa ini sangat mengecewakan bukan saja buat saya tetapi bangsa ini, tapi saya percaya ini adalah bukti keberhasilan Rainbow Warrior dan Greenpeace dalam upaya penyelamatan hutan alam yang tersisa di Indonesia.

Tidak diizinkannya Rainbow Warrior memasuki Indonesia terkait dengan ketakutan para perusak lingkungan dan perusak hutan di Indonesia yang khawatir "kelakuan buruknya dalam membabat hutan Indonesia terungkap." Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sebuah kapal Rainbow Warrior, kami hanya ingin memastikan Pemerintah berlaku adil pada lingkungan, perusahaan menjadi lebih baik dan tidak lagi merusak hutan dan tentu semua itu untuk keuntungan seluruh masyarakat Indonesia.

Terima kasih Rainbow Warrior II dan semua awak kapal atas kerja keras dan inspirasi yang kalian berikan untuk masyarakat Indonesia. Selamat bekerja di tempatmu yang baru, Rhongdhonu.

Hari ini langkahku menuju kapal Rainbow Warrior bukan untuk berlayar bersama menyelamatkan lingkungan tetapi melepaskannya untuk perjuangan selanjutnya. Dari kejauhan terlihat tiga tiang kokoh Rainbow Warrior, tiga tiang yang selama hampir 22 tahun selalu siap mengembangkan layar dan membawa para satria pelangi menyelamatkan bumi dari para perusak di seluruh dunia.. Warna hijau yang khas dari kapal Rainbow Warrior terlihat begitu anggun membalutnya. Namun goresan warna pelangi sudah tidak ada dan nama Rainbow Warrior pun sudah tak terlihat. Dia terlihat siap untuk perjalanan selanjutnya.