Karbon dalam unsur kimia di lambangankan dengan C. karbon berada di setiap makhluk hidup di bumi ini. Banyaknya perdebatan dan pembicaraan tentang perdagangan karbon belakangan ini adalah tentang karbondioksida atau CO2 ke atmosfir bumi.

Menurut beberapa pihak perdagangan karbon adalah salah satu solusi dari perubahan iklim dan untuk menghentikan laju penggerusakan hutan yang tinggi di negara-negara penyerap karbon seperti Indonesia.

Lalu mengapa Greenpeace tidak setuju dengan konsep perdagangan karbon ini?

Greenpeace mengusulkan sesuatu yang berbeda. Greenpeace melakukan pendekataan fund based approach dimana Greenpeace MENOLAK offset carbon trading. Hal ini karena mekanisme karbon offset tidak memberi keuntungan dalam penghentian perubahaan iklim karena tidak signifikan menurunkan emisi di negara maju.

Dengan karbon offset negara maju bisa membeli karbon dari hutan-hutan tropis di negara berkembang dengan demikian negara berkembang harus menjaga hutannya sebagai cadangan karbon yang diperjualbelikan, sementara negara maju karena telah membeli karbon maka mereka akan tetap bebas melakukan emisi, padahal rata-rata emisi karbon global di hasilkan dari negara maju.

Ada beberapa ketidakadilan dalam konsep karbon offset:

1. penurunan emisi menjadi kewajiban bagi setiap negara, dalam karbon offset kewajiban negara maju untuk penurunan emisi dilimpahkan/dibebankan ke negara berkembang yang berhutan tropis melalui skema perdagangan karbon (offset), dimana negara maju akan tetap melakukan emisi seperti business as usual.

2. Karbon yang diperjualbelikan tidak boleh ada kebocoran (leakage) yang berdampak pada berkurangnya cadangan karbon di wilayah yang disepakati dalam kontrak. Untuk menetapkan, memonitor dan memverifikasi cadangan karbon di wilayah yang diperdagangkan dibutuhkan methodologi yang cukup rumit termasuk pelaporannya setiap periode. Kapasitas Indonesia dipertanyakan dalam hal ini, karena berdasarkan kasus illegal logging yang terjadi sampai saat ini belum juga bisa tertangani secara tuntas.

3. dampak jika terjadi kebocoran adalah si penjual (negara berkembang) harus mengkompensasi kebocoran tersebut ke pembeli (negara maju), padahal mekanisme perdagangan karbon (offset) adalah performance based, dan pembayaran dilakukan di akhir periode kontrak. Artinya jika terpantau terjadi kebocoran (leakage) maka negara berkembang harus membayar kompensasi kebocoran tersebut ke negara maju (meskipun negara berkembang belum menerima pembayaran dari negara maju). Hal ini akan menempatkan negara berkembang pada jeratan hutang yang berkepanjangan.

4. Jika semua negara berkembang yang berhutan tropis memasuki pasar karbon maka bisa dipastikan harga karbon akan jatuh, sehingga tetap saja penurunan emisi karbon tidak terjadi secara signifikan.

5.sehubungan dengan hutang ekologis (ecological debt) dari negara maju yang telah melakukan emisi terlebih dulu dari negara berkembang maka dalam konteks itu jumlah yang harus dibayar negara maju (seharusnya) jauh lebih besar dari pada yang dibayarkan dalam membeli karbon dari skema perdagangan karbon.

Anda bisa mendownload mekanisme pendanaan FOREST FOR CLIMATE

Kesimpulannya perdangangan karbon ini akan lebih banyak merugikan negara berkembang dan sesuatu yang sangat tidak adil untuk Negara-negara berkembang.

Salam Hijau Damai,

Yuyun Indradi Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara