Kota Pekanbaru adalah kota persinggahan kami setelah dua hari menempuh perjalanan dari desa Jumroh, Kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau. Beberapa fakta kehancuran hutan dan cerita yang sedih dari masyarakat yang tinggal dekat dengan habitat harimau sumatera sudah terdokumentasikan oleh tim mata harimau. Di Ibukota Propinsi Riau ini greenpeace berkerjasama dengan Aliansi Jurnalistik Indonesia  (AJI) Riau, Komunitas Fotografi Pekanbaru (KFP), Sindikat Kartunis Riau ( SIKARI) dan dibantu oleh volunteer sudah meyiapkan pameran foto dan karikatur untuk mengajak masyarakat ikut menyelamatkan Hutan rumah habitat Harimau Sumatera.

Selama dua hari Kegiatan yang berlangsung di Taman Kota pekanbaru mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Beberapa rombongan sekolah dan Mapala dari berbagai Universitas datang berkunjung, setelah sebelumnya ada yang diundang secara langsung melalui kegiatan Tiger “Goes to School and Campus” oleh Greenpeace. Kurang lebih seratusan anak-anak TK dan SD juga hadir dan berpartisipasi dalam acara dengan  menggambar dan menuliskan pesan penyelamatan hutan rumah harimau di kartupos yang nantinya akan di kirimkan kepada Presiden Republik Indonesia. Selain pameran foto, di hari pertama diadakan juga pelatihan citizen photography, social media dan lingkungan. Diharapkan dengan foto-foto yang di dapatkan dari seluh masyarakat dimanapun dapat  menggugah penyelamatan lingkungan terutama hutan Indonesia. Karena jika kita tidak bertindak menyelamatkan hutan sekarang mungkin hutan dan satwa yang ada di bumi ini hanya tinggal sejarah yang berupa dokumentasi atau cerita saja.

Penyelamatan hutan dan satwa yang ada di Indonesia adalah bagian dari penyelamtan budaya. Seperti cerita Datuk Rajo Gampo Edwel Yusri saat peluncuran Kampanye Mata Harimau dengan Silat Harimau. Sangat bahagia sekali di hari terakhir pameran foto kami berkesempatan bertemu dan mendapatkan petuah dari Tungganai harimau (Datuk Harimau) dari daerah Padang pariaman. Tungganai harimau berbagi cerita denga kami tentang bagaimana masyarakat sebenarnya bisa hidup berdampingan dengan Harimau jika saling menghormati.

Tungganai Harimau sebutan untuk orang yang mampu untuk menangkap Harimau secara hidup dengan cara adat ketika sang Raja Hutan tersebut bersalah karena memangsa ternak masyarakat desa. Hanya harimau yang bersalah yang bisa di tangkap Tunggannai. Di adat Minangkabau ada sebuah kearifan lokal jika Harimau menggangu kehidupan masyarakat desa maka harus di keluarkan dari wilayah tersebut dan diserahkan ke BKSDA (Balai Konsevasi Sumber Daya). Di Minangkabau konflik antara harimau dengan masyarakat tidak banyak karena kearifan lokal tetap mereka jaga.

Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Minangkabau di harapkan bisa menjadi contoh untuk daerah-daerah lain yang saat ini sering terjadi Konflik harimau. Menurut saya sudah saatnya masyarakat mencoba saling menghormati lingkungan tempat tinggal manusia dan satwa.

Petuah dari Tungganai Harimau memberi keyakinan pada saya bahwa hidup berdampingan dan saling membantu antara manusia, satwa dan tumbuhan lain itu pasti akan mendapatkan keuntungan. Dan kami saat ini telah  menjadi Mata Harimau yang mengajak masyarakat untuk peduli akan rumah kami, yang juga rumah untuk satwa lain dan ribuan  tumbuhan lain. Jika melihat dari peta tutupan hutan Indonesia saat ini kami merasa hampir putus asa karena sangat kecil sekali kemungkinan terlindunginya budaya Indonesia. Kebutuhan manusia akan kayu dan kertas yang semakin  tinggi tanpa memikirkan dampak lingkungan ketika pembukaan lahan.

Tim Mata Harimau mengajak masyarakat di seluruh Indonesia menjadi Mata Harimau. Selamatkan hutan rumah habitat harimau sumatera. www.greenpeace.or.id/mataharimau