Hari masih terang,  ayam jantan belum lagi genap kokoknya, namun pagi itu, Rabu 5 Juni 2013 , aktivitas di dermaga kapal nelayan, Desa Roban Barat,  Kabupaten Batang sudah begitu sibuknya. Ratusan nelayan telah berada di atas perahu masing-masing. Perahu mereka begitu semarak dengan warna-warni bendera  serta spanduk yang berkibar sempurna ditambah tiupan angin laut yang semakin membuat meriah suasana. Sebuah pesan yang sama terpampang di setiap spanduk dan bendera di perahu mereka, pesan tentang harapan akan kelestarian laut dan lingkungan desa mereka.

Saya bersama beberapa teman sesama aktivis Greenpeace ada di salah satu perahu nelayan tersebut. Kami akan menyambut dan bertemu  Kapal Greenpeace Rainbow Warrior yang pagi ini akan melintas di perairan Batang dalam pelayarannya dari Bali ke Jakarta bertemakan “100% Indonesia : Bersama Melindungi Hutan dan Laut Kita”. Tema yang sejalan dengan perjuangan nelayan dan petani  Batang yang tengah berupaya keras  melindungi laut dan tanah mereka dari ancaman keserakahan industri batubara yang berencana mengubah lahan subur dan laut Batang yang kaya ikan menjadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara.

Sudah dua tahun terakhir ini ribuan nelayan dan petani Batang tanpa kenal lelah berjuang untuk melindungi tanah dan laut mereka, tanpa letih mereka menyuarakan aspirasi  untuk menentang rencana pembangunan PLTU Batubara terbesar se Asia Tenggara di desa mereka. Mereka tidak ingin mengalami nasib buruk yang sama dengan nelayan dan petani di Cilacap, Jepara dan Cirebon, dimana PLTU Batubara sudah berdiri dengan angkuhnya dan mengakibatkan dampak buruk terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, seperti hilangnya matapencaharian masyarakat karena lahan produktif yang digusur dan laut yang tercemar polutan beracun yang dilepaskan oleh PLTU Batubara.

Pagi itu ratusan perahu nelayan dari Desa Roban dan dari desa-desa di sekitar Batang dan Pekalongan bergerak bersama menuju satu titik pertemuan dimana ratusan perahu nelayan yang membentuk formasi armada akan menyambut dan bertemu dengan Rainbow Warrior. Wajah  para nelayan ini nampak penuh semangat, semuanya antusias, menggambarkan harapan mereka bahwa pada akhirnya perjuangan untuk melindungi tanah dan laut mereka dari ancaman PLTU Batubara akan berhasil. Saya dan semua kawan aktivis Greenpeace pun berbagi harapan yang sama, bahwa pada akhirnya pemerintah harus menempatkan keselamatan warga dan rakyat Indonesia diatas kepentingan segelintir elit pengusaha. Karena itu ratusan perahu nelayan yang membentuk formasi “Flotilla” ini kami beri nama “Armada Harapan”.

Setelah sekitar satu jam setengah bergerak dari Desa Roban menuju titik pertemuan, akhirnya di kejauhan samar-samar terlihat tiang-tiang Rainbow Warrior yang dengan anggunnya seperti memberi salam selamat datang kepada kami. Armada Harapan  bergerak dengan pasti menuju titik pertemuan dengan Sang “Ksatria Pelangi”. Kami semua antusias,  dan akhirnya Armada Haraparan bertemu dengan Ksatria Pelangi.

Setelah semakin dekat dengan Ksatria Pelangi, tampak jelas bahwa kedatangan Armada Harapan telah ditunggu-tunggu dengan antusias oleh seluruh kru Ksatria Pelangi, tersirat dari wajah para kru yang berbinar, dan menebar senyum, bahkan dua perahu karet Ksatria Pelangi sudah siap sedia menunggu perwakilan warga yang akan naik ke kapal untuk bertemu dengan kapten dan seluruh kru Ksatria Pelangi.

Lima orang perwakilan nelayan dan beberapa aktivis Greenpeace, LBH Semarang dan YLBHI  diundang naik ke kapal Ksatria Pelangi untuk bertemu dengan kapten dan seluruh kru. Kapten menyambut kami semua dengan hangat,  perwakilan warga menghadiahi Kapten Ksatria Pelangi dengan seperangkat batik tradisional dan blangkon, sebagai bentuk sambutan warga Batang. Terjadi dialog singkat antara Kapten Ksatria Pelangi dengan kami. Warga menyatakan bahwa ratusan kapal nelayan yang membentuk Armada Harapan ini merupakan bentuk sambutan kepada Rainbow Warrior yang melintasi Perairan Batang, dan warga juga menyatakan harapannya agar Greenpeace selalu mendukung perjuangan warga dalam mempertahankan tanah dan laut mereka. Kapten berkata bahwa meskipun Ksatria Pelangi hanya berhenti sebentar di Perairan Batang, namun ini merupakan bentuk dukungan Greenpeace kepada perjuangan warga, dan kapten juga menyatakan bahwa Greenpeace diseluruh dunia, berkampanye untuk menentang ekspansi industri batubara yang mengancam keselamatan seluruh penghuni planet ini.

Setelah melakukan tur singkat diatas Ksatria Pelangi akhirnya kami semua turun dari kapal tersebut, karena Rainbow Warrior akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta, untuk terus berkampanye menyelamatkan lingkungan kita. Meskipun berlangsung cukup singkat, namun pertemuan antara Ksatria Pelangi dan Armada Harapan sangat berkesan.

Armada Harapan kembali ke Desa Roban dengan semangat membara berkat dukungan dari Ksatria Pelangi.  Greenpeace dan Ksatria Pelangi terinspirasi dan kagum dengan semangat warga dalam memperjuangkan kelestarian laut, tanah dan penghidupan mereka. Sejarah membuktikan, Kekuatan harapan dan solidaritas pada akhirnya bisa mengalahkan apa saja. Bersama kita lindungi laut kita, tanah kita, dan masa depan kita dari ancaman batubara, saya yakin kita bisa.