Subuh hari di tanggal 24 Agustus 2010, ketika umumnya semua orang tertidur pulas setelah bersahur, seratus lima puluh warga Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan justru bersiap-siap berangkat ke Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bersama mereka, spanduk, spidol dan beberapa lembar kertas karton. Dengan semangat penuh mereka mulai bergerak.

Dua unit bus dan sebuah mobil terisi penuh. Umumnya adalah ibu-ibu. Perjalanan dari Desa Teluk Meranti menuju Kota Pangkalan Kerinci ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam lebih dengan menggunakan mobil biasa, sementara menggunakan bus akan lebih lama lagi karena kondisi ruas jalan yang becek, berlumpur dan penuh kerikil. Meski dalam suasana Ramadhan, namun semangat 150 warga Teluk Meranti yang berunjuk rasa di Kantor Bupati Pelalawan tidak pernah surut untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Secara bergantian ibu-ibu dan bapak-bapak menyampaikan aspirasi. Di antara aspirasi yang mereka sampaikan melalui orasi di depan pejabat Pemerintah Kabupaten Pelalawan adalah menolak keberadaan PT RAPP di kawasan hutan gambut Semenanjung Kampar -- yang sudah dirusak oleh perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut. Mereka juga menuntut adanya moratorium di Semenanjung Kampar.

Selain itu, mereka juga menolak kesepakatan yang dibuat oleh PT RAPP bersama dengan Tim 40 yang ternyata tidak disetujui secara menyeluruh oleh anggota Tim 40 dan masyarakat Teluk Meranti. Mereka menilai, butir-butir kesepakatan RAPP dengan Tim 40 merugikan masyarakat dan menghilangkan hak warga atas kepemilikan lahan di hutan Semenanjung Kampar yang mereka sebut juga tanah seberang. Ini merupakan aksi pertama mereka secara terbuka dalam menyampaikan aspirasi mengenai pengelolaan Semenanjung Kampar. Dan bersama kampanye Greenpeace di Kamp Pelindung Iklim akhir tahun 2009 lalu, mayoritas masyarakat Teluk Meranti memberikan dukungan atas aktifitas organisasi lingkungan tersebut. Aksi penolakan terhadap perusahaan RAPP juga pernah dilakukan oleh masyarakat Teluk Binjai yang marah karena hutan tempat pencaharian mereka itu dirusak oleh perusahaan kelompok APRIL ini. [caption id="" align="aligncenter" width="550" caption="Membentangkan banner di Semenanjung Kampar Oktober 2008"][/caption] Dalam aksi itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Riau, di antaranya Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Greenpeace, Scale Up, Walhi, Mitra Insani, Kabut Riau, Bahtera Alam dan organisasi kemasyarakatan seperti Tim Pendukung Penyelamat Semenanjung Kampar (TP2SK) serta Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) juga turut mendukung aspirasi masyarakat Teluk Meranti yang merindukan hutannya kembali.