Aktivis Greenpeace memegang spanduk di depan sekitar 400 kelompok aktivis di International Convention Center, Durban tempat COP 17 berlangsung.

Pembicaraan para wakil pemerintahan dunia di Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun ini di Durban telah berakhir, dan ditutup dengan kegagalan (lagi) dalam membuat kesepakatan global bersama yang mengikat, adil, dan ambisius untuk  menanggulangi ancaman perubahan iklim, dan menyelamatkan umat manusia dari bencana iklim global.

Perwakilan pemerintah dunia lebih mendengarkan korporasi pencemar lingkungan dan bukan keinginan rakyat, meski kekuatan masyarakat sipil baik yang berada di dalam dan di luar konferensi, dari berbagai organisasi, usia, dan negara, telah menyuarakan desakan untuk menyelamatkan bumi ini dan membuat tindakan segera.  Faktanya sangat sedikit kemajuan yang dicapai untuk menanggulangi perubahan iklim secara global.

Dua tahun lalu di Copenhagen, para poitisi dunia menjanjikan 100 milliar US Dollar dana yang akan dipersiapkan untuk menolong negara negara miskin agar mereka bisa berdaptasi dan memitigasi perubahan iklim. Dua tahun kemudian, mereka datang ke Durban, hanya untuk merencanakan sebuah desain cara untuk mengumpulkan dan menyalurkan dana tersebut. Dan ternyata mereka bahkan tidak berhasil melakukan pekerjaan tersebut.

Sementara detail dari pembicaraan Konferensi mungkin terlalu rumit, tapi kenyataanya sangatlah sederhana : Kita tidak berada di sebuah titik yang dibutuhkan dimana kita bisa mencegah malapetaka perubahan iklim, bahkan tidak mendekati sama sekali.

Pemimpin dari rombongan penghambat kesuksesan dalam negoisasi sejauh ini adalah Amerika Serikat, yang dengan sangat jelas beroperasi pada penawaran kartel karbon. Tidak ada tempat untuk negosiator mereka sama sekali di semua ruangan. Pemerintahan kuat lainnya dan blok, seperti Uni Eropa, Cina, dan India, seharusnya sudah mengalahkan mereka, dan bergabung dengan mereka yang paing rentan dan membuat kemajuan nyata.

“Berita buruknya adalah para penghambat yang dipimpin oleh Amerika Serikat telah sukses dalam memasukkan klausa jalan keluar penting yang dengan mudahnya mencegah kesepakatan iklim besar berikutnya untuk mengikat secara hukum. Jika celah itu yang dimanfaatkan, maka akan terjadi bencana. Dan perjanjian itu direncanakan untuk diimplementasikan “dari 2020” dan meninggalkan hampir tidak ada ruang untuk meningkatkan pemotongan karbon pada dekade ini, ketika para ilmuwan mengatakan bahwa kita butuh menurunkan emisi global dari puncaknya saat ini” ungkap Kumi Naidoo, Eksekutif Direktur Greenpeace International 

Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional bersama dengan para relawan Greenpeace turun ke jalan dan bergabung dengan lebih dari seribu aktivis iklim, anggota LSM dan perwakilan lainnya menuntut tindakan iklim yang mendesak dari delegasi COP17.


Indonesia, dengan komitmen besar Presiden SBY untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi sebesar 26 % dan 41% jika dengan bantuan negara lain, telah menunjukkan kepemimpinan dalam upaya ini. Untuk mencapai target tersebut diperlukan moratorium penebangan hutan yang lebih kuat, dengan cara mengkaji ulang izin konsesi yang telah dikeluarkan yang berada di hutan alam dan lahan gambut untuk bisa mencapai dan mewujudkan komtimen Presiden tersebut. 

Namun ironinya, paviliun Indonesia di Durban, malah disponsori oleh duo korporasi perusak hutan Indonesia yaitu Riau Andalan Pulp and Paper, serta Sinar Mas Grup, yang secara terang terangan telah mencederai komitmen Presiden SBY dengan terus membabat hutan alam dan lahan gambut yang sangat penting dalam penyimpanan karbon dan juga rumah bagi hewan langka seperti Harimau Sumatera yang jumlahnya di alam liar kini kurang dari 400 ekor.

Tim Mataharimau pada perjalanan bulan september lalu berada di areal konsesi PT Arara Abadi, pemasok ke divisi pulp dari Grup Sinar Mas.

Mereka, para wakil pemerintahan yang meninggalkan pembicaraan Konferensi Iklim PBB ini seharusnya malu.  Ketika mereka kembali ke rumahnya, kami bertanya tanya, bagaimana mereka akan mampu melihat kedalam mata anak anak dan cucu mereka. Mereka telah mengecewakan kita semua dan kegagalan mereka akan berakibat kepada kehdupan mereka yang miskin, yang paling rentan, dan paling tidak berperan dalam menciptakan krisis iklim global ini.

-- Yuyun Indradi, Juru Kampanye Hutan Greenpeace