Beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan oleh harga garam yang naik tinggi. Berbagai faktor dituding menjadi penyebabnya, namun sangat sedikit sekali yang melihat dampak perubahan iklim sebagai salah satu penyebab utamanya.

Produksi garam tidak bisa dipisahkan dari perubahan iklim. Kenapa? Karena produksi garam di Tanah Air masih bersifat tradisional. Sinar matahari menjadi andalan untuk menguapkan air laut di atas tambak garam. Cuaca mendung dan hujan berkepanjangan bisa membuat senyum petani garam kecut. Seperti yang terjadi pada tahun 2016. Di mana fenomena alam El Nina melanda Indonesia. Periode musim kemarau tahun lalu mengalami kondisi lebih basah. [1] 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan pada Agustus 2016: La Nina berdampak negatif pada sejumlah hal. Salah satunya penurunan produksi garam! Tahun lalu, karena El Nina, produksi garam rakyat memang menurun tajam. Bila melihat data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi garam rakyat tahun 2016 turun dari tahun sebelumnya. Di Kabupaten Bima, produksi garam melorot dari 152.439,2 ton (2015) menjadi 7.184,32 ton (2016). Di Kabupaten Cirebon, produksi turun jauh dari 435.439 ton (2015) menjadi 591,73 ton (2016). [2] Pernah juga terjadi hal serupa di mana El Nina membuat produksi garam nasional merosot selama tahun 1998-2001. 

Bagaimana kondisi cuaca tahun ini? Pada awal tahun, BMKG memperkirakan musim kemarau berlangsung normal. Perkiraan awal musim kemarau terjadi di bulan Mei-Juni-Juli. Namun demikian, potensi hujan lebat ternyata juga besar dalam kurun waktu tertentu. Beberapa kali BMKG mengeluarkan siaran pers terkait kondisi hujan lebat sepanjang Mei hingga Juni. Kondisi cuaca yang tak menentu ini dialami oleh petani garam di Jawa Barat. Produksi garam di provinsi tersebut tidak berjalan normal karena adanya gangguan cuaca regional. [3]

Anomali cuaca sangat berpengaruh pada produksi garam. Seorang petani garam di Sulawesi Selatan bahkan merasakan kondisi cuaca yang tidak menentu selama lima tahun terakhir. [4] Kondisi cuaca tampak menjadi kambing hitam dari masalah kelangkaan garam yang sekarang ini terjadi. Pemerintah pun menyikapi kelangkaan garam dengan cara cepat, yakni impor. Pemerintah membuka keran impor bahan baku garam konsumsi sebanyak 75.000 ton. Australia menjadi negara sumber impor karena lokasinya yang dekat. Ini adalah solusi sementara.

Lantas bagaimana ke depannya? Ada sebuah kajian menarik terkait La Nina–juga El Nino–di mana fenomena alam ini berpotensi lebih sering terjadi karena dipicu oleh perubahan iklim. Sejumlah peneliti dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization menyebutkan, La Nina ekstrem bisa terjadi lebih cepat, yakni setiap 13 tahun, bukan lagi setiap 23 tahun seperti yang kini terjadi. Selain itu, para peneliti juga menemukan kecenderungan sebanyak 75% kemungkinan La Nina ekstrem bisa langsung terjadi setelah El Nino ekstrem berlangsung. [5]

Cuaca tak menentu bahkan kondisi ekstrem pasti akan terus menghantui produksi garam. Hal ini juga terjadi di Filipina, di mana petani garam setempat masih mengandalkan matahari.[6] Ekstensifikasi lahan budidaya garam–yang kini ada di sekitar 44 kabupaten–tentu bukan solusinya. Malahan lahan budidaya garam cukup banyak mengalami alih fungsi, salah satunya untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) seperti yang terjadi di Cirebon. [7] Contohnya dalam dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup pembangunan PLTU Peluasan Cirebon (Jawa-1), tertera informasi bahwa pembangkit membutuhkan lahan seluas 204,3 hektar, di mana sebanyak 9,3 hektar merupakan lahan tambak garam milik masyarakat. [8]

Pengunaan teknologi pun didaulat menjadi solusi yang lebih pasti. Pemerintah kini melirik pengembangan teknologi untuk mengantisipasi cuaca yang tidak mendukung. Yakni dengan membangun lahan produksi garam tahan segala cuaca dengan proyek percontohan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. [9] Apakah ini bisa menjadi solusi di tengah perubahan iklim semakin memburuk? Mari kita tunggu hasilnya!

 

Catatan:

[1] http://www.bmkg.go.id/berita/?p=tahun-ini-kemarau-mengalami-kondisi-lebih-basah&lang=ID

[2] http://statistik.kkp.go.id/sidatik-dev/2.php?x=4

[3] “Gunung Garam Impor di Tengah Lumbung Garam”, Harian Republika, Selasa, 1 Agustus 2017, hal 9.

[4] “Garam Konsumsi: Cuaca, Harga, dan Senyum Petani,” Harian Kompas, Jumat, 4 Agustus 2017, hal 23.

[5] https://www.livescience.com/49572-la-nina-events-increase-climate-change.html

[6] http://www.philstar.com/region/2017/03/18/1682262/salt-industry-grapples-climate-change

[7] Laporan Greenpeace “Batubara mematikan: Bagaimana rakyat Indonesia membayar mahal untuk bahan bakar terkotor di dunia,” terbit Oktober 2010.

[8] https://www.jbic.go.jp/wp-content/uploads/projects/2016/07/49263/ANDAL_PowerBlock1.pdf

[9] “Pemerintah Kembangkan Lahan Garam Tahan Cuaca,” Harian Tempo, Jumat, 4 Agustus 2017, hal 13.