Berbicara soal harimau, Sumadi hanya bisa mengungkapkan kekesalan pada saya, “Kemungkinan kalau dia dapat, mau dibikin mati. Karena dia telah memangsa manusia.”

Sumadi, warga Desa Jumrah, Kabupaten Rokan Hilir, Riau jengah dan terlihat frustasi jika ditanya tentang konflik satwa dilindungi Harimau Sumatera (Panthera tigris Sumaterae) dengan masyarakat sekitar. Dalam kurun waktu 2005-2011 terjadi sedikitnya 14 kali konflik atas warga Desa Jumrah dengan korban jiwa dua orang dan dua cacat tetap. Dan kini, harimau-harimau itu mulai sering keluar dari habitatnya yang gundul di hutan gambut Senepis ke dekat pemukiman dan ladang perkebunan warga.

1 Juli 2011, Harimau Sumatera ditemukan terjerat oleh jeratan warga di areal perkebunan akasia, milik PT Arara Abadi (Konsesi Sinar Mas) di Kabupaten Pelalawan, Riau. Harimau berusia 1,5 tahun akhirnya mati akibat dari komplikasi luka parah yang dideritanya. ©Melvinas Priananda/Greenpeace

"Sudah tak ada lagi hutan Senepis yang tersisa. Semua sudah hancur dibabat. Akibatnya, sekarang harimau sering menyerang warga karena kelaparan," kata Penghulu Desa Jumrah, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Riau Sukardi Ahmad, Selasa pertengahan September tahun lalu. 

Pemerintah sendiri melalui menteri kehutanan telah mencadangkan seluas 106.081 hektar hutan gambut di daerah perbatasan Rokan Hilir dan Kota Dumai itu untuk dijadikan suaka margasatwa pusat konservasi harimau Sumatera. Namun kini cadangan areal konservasi harimau Sumatera itu dalam kondisi mengenaskan.  

Sukardi mengatakan, keinginan pemerintah melalui Menteri Kehutanan yang sudah menerbitkan izin prinsip pencadangan kawasan pusat konservasi harimau Sumatera di Senepis mustahil terwujud.

Apa yang disampaikan warga Jumrah juga selaras dengan temuan Eyes on the Forest, gabungan LSM lokal di Riau. Dalam laporannya yang dipublikasi akhir tahun lalu ditemukan dua perusahaan milik APP (Asia Pulp and Paper) yang punya hak konsesi di hutan Senepis menebang pohon di areal konservasi harimau Sumatera. Sementara dalam kampanye dan iklan yang dibuat oleh perusahaan penyuplai kayu untuk grup Sinar Mas itu digadang-gadangkan telah mengalokasikan areal tersebut sebagai konservasi harimau Sumatera dalam proposal Rasionalisasi Senepis-Buluhala untuk Konservasi Harimau Sumatera. (1)

Jika Senepis dihancurkan oleh perusahaan untuk keperluan produksi kertas, lalu bagaimana dengan habitat harimau Sumatera lainnya di Sumatera? Pertanyaan ini membuat saya kembali terhenyak. Masih kuat dalam ingatan saya pada 1 Juli 2011 pagi lalu ketika saya tiba di perkebunan akasia milik PT Arara Abadi (APP) di Sorek, Pelalawan, seekor harimau Sumatera yang masih muda mengaum marah sekaligus kesakitan karena kakinya terjerat selama tujuh hari dan telah membusuk. (2)

28 September 2011, Pelalawan, Riau. Tim Mata Harimau di kawasan konsensi PT Arara Abadi, Grup Sinar Mas. Di areal habitat asli harimau yg telah di hancurkan untuk perkebunanan.©Ulet Ifansasti/Greenpeace

Habitat harimau di wilayah penyangga Taman Nasional Tesso Nilo yang seharusnya hutan lebat kini telah berubah menjadi perkebunan monokultur akasia dan bahkan hingga Februari lalu dipastikan Arara Abadi masih terus menghancurkannya.

Tahun demi tahun hutan habitat harimau kian terdesak. Data dari PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) Kementrian Kehutanan RI sendiri mengungkapkan konflik manusia dengan harimau terjadi di beberapa wilayah di Sumatera seperti Nanggore Aceh Darusalam 47 kasus (1998 – 2009), Jambi sebanyak 16 konflik (2008 – 2009), Bengkulu 10 konflik pada 2008 dan di Riau terdapat 134 kasus hingga akhir 2010. Angka itu jauh lebih banyak jika berdasarkan data dari Forum Konservasi Harimau Kita yang mencatat konflik hingga 2011 lalu.

Tingginya konflik harimau Sumatera dengan masyarakat kini semakin mengkhawatirkan. Banyak warga yang kesal dan frustasi dengan situasi ini sehingga terlintas di pikiran mereka untuk menangkap si belang. Pemerintah harus bertindak cepat jika tidak frustasi konflik yang meningkat antara harimau dan manusia menjadi kenyataan. Padahal, penghancuran hutan habitat oleh perusahaan lah yang menyebabkan konflik menjadi mengkhawatirkan.

“Kami ingin hutan itu dikembalikan lagi. Hutan itu adalah rumah mereka. Kami tahu harimau itu tidak akan ke desa kalau hutan mereka ada. Kami tidak ingin berkonflik. Tapi kini hutan telah dihancurkan perusahaan dan kami jadi korbannya,” ujar Pak De, warga Desa Jumrah yang anak perempuannya menjadi korban meninggal diterkam harimau pada akhir tahun 2010 lalu.