Hari Nelayan Nasional tahun baru saja kita peringati pada, 6 April 2014, di tengah hingar bingar Pemilu legislatif. Tidak ingin larut terhadap sosok dan janji-janji dari para calon legislatif yang ingin sedang merebutkan kursi parlemen, beberapa elemen gerakan masyarakat sipil termasuk kelompok pemuda dan mahasiswa bersemangat merayakan hari nelayan kali ini dengan beragam cara. Berbagai aksi simpatik di jalanan, kunjungan ke komunitas nelayan, membentangkan poster, selebaran dan mengirimkan pesan-singkat secara massal turut dilakukan sebagai bentuk ekspresi perayaan.

Seperti tahun sebelumnya, minggu lalu saya kembali menerima pesan singkat dari Marzuki, Sekretaris Jenderal Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA). Dalam pesan singkat tersebut, bersama Abdul Halim, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), kedua sahabat saya ini, mengungkapkan bahwa dalam 10 tahun terakhir keberadaan UU No. 31/2004 Jo. UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan ternyata tidak mampu menjadi instrumen kebijakan untuk menyejahterakan nelayan.

Jaringan KuALA dan KIARA memandang bahwa Pemerintah justeru lebih berpihak kepada kepentingan modal asing dengan memberi keleluasaan untuk mengelola sumber daya perikanan nasional. Masih dibukanya keran bagi migrasi armada kapal ikan asing, contohnya dari Cina yang terjadi saat ini, turut menambah keprihatinan kita dan apa yang disuarakan oleh Jaringan KuALA dan KIARA menjadi sebuah ironi yang tidak terbantahkan.

Kesejahteraan nelayan prinsipnya didukung dan ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari pentingnya keberpihakan negara untuk mengakui dan mengembangkan perikanan skala kecil sebagai tulang punggung dan andalan kegiatan perikanan nasional, hingga salah satu yang terpenting adalah laut yang (kembali) sehat dan terlindungi, agar nelayan dapat sejahtera secara mandiri dan berdaulat.

Laut yang sehat dan terlindungi adalah kondisi lingkungan laut yang memungkinkan ikan dapat berkembang biak secara berkelanjutan. Laut yang menyediakan stok ikan berlimpah dan dikelola secara bertanggungjawab. Laut yang masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Sejalan dengan upaya pemulihan laut dan stok ikan dunia , di awal April 2014 lalu, sahabat saya, Zelda Soriano, dari Greenpeace Asia Tenggara, hadir di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York untuk mengikuti salah satu pertemuan serta membawa pesan dan mendesak agar kesepakatan baru bagi perlindungan keanekaragaman hayati di laut internasional yang lebih maju dan mengikat dapat segera disetujui dan didukung oleh banyak negara sebelum September 2015.

Kita perlu mengingatkan dan mendesak Pemerintah Indonesia agar berperan aktif dan mendorong adanya kesepakatan internasional baru yang lebih maju dan mengikat untuk melindungi stok sumberdaya ikan dunia. Kita harus memastikan bahwa pemerintahan mendatang hasil Pemilu 2014 mengambil langkah lebih maju, mendukung dan peran kepemimpinan agar kesepakatan baru tersebut dapat segera terwujud.

Mari pilih 100% laut yang sehat dan terlindungi. Dukung dan bergabunglah dengan jutaan pembela lautan di seluruh untuk mewujudkannya!