Tahukah Anda, saat ini masih kurang dari 1 persen kawasan laut global yang dilindungi?  Inilah alasan mengapa Greenpeace menyuarakan pentingnya perlindungan laut.   40 persen dari perairan internasional perlu segera dilindungi.

Laporan Greenpeace, “Oceans in the Balance: The Crisis Facing Our Waters” mengumpulkan dan memperkuat fakta-fakta mengejutkan tentang lautan. Selain mengungkapkan fakta bahwa  hanya 1% dari kawasan laut global (high seas) yang dilindungi, turut dibeberkan sejumlah ironi tentang betapa buruknya tata-kelola kelautan dunia dalam kurun waktu lebih dari 60 tahun terakhir.

Diperkirakan 80% dari sampah padat yang dijumpai di laut (marine debris) berasal langsung dari kegiatan di darat. Kapal penangkap ikan trawl di kawasan laut dalam dapat menggaruk dasar laut hingga kedalaman 2000 meter bahkan lebih. Sebuah kapal penangkap ikan dengan alat tangkap longline yang beroperasi di lautan Antartika dapat memiliki 10 ribu sampai  40 ribu mata kail yang panjangnya setara antara 15 sampai dengan 50 kilometer sekaligus menjadi maut tidak hanya bagi ikan tuna, tetapi juga terhadap burung laut, hiu, penyu dan lumba-lumba.

melakukan aksi menentang kapal trawling
Melakukan aksi menentang kapal trawling

Mengacu pada laporan FAO (2012) tentang status perikanan dan akuakultur dunia,  para pakar perikanan memperkirakan (secara ilmiah), bahwa saat ini hampir 80% sumber daya ikan global dikategorikan telah dieskploitasi secara penuh (fully exploited) dani secara berlebih (over-exploited).

Bahkan ancaman bagi kehancuran sumberdaya hayati lautan dunia ternyata tidak hanya datang dari  praktek eksploitasi sumber daya ikan yang merusak dan tanpa memperhatikan kemampuannya untuk beregenerasi secara alami dan lestari. Bahkan tidak pula hanya dari pengeboran minyak lepas pantai yang telah lazim terjadi selama ini.  

Perusahaan-perusahaan multinasional yang mewakili kepentingan beberapa negara dengan keahlian di bidang teknologi pertambangan seperti Kanada, Jepang, Korea Selatan, China dan Inggris mengklaim mereka tengah bersiap-siap untuk melakukan eksplorasi. Perusahaan-perusahaan ini bakal tancap gas untuk memulai eksploitasi pertambangan dasar laut (seabed mining) di sejumlah perairan negara-negara berkembang, terutama di kawasan pasifik serta di wilayah perairan internasional lainnya.

Kondisi diatas selain mencerminkan adanya kesenjangan tata-kelola (governance gaps) yang serius, juga mengkonfirmasikan  betapa lemahnya komitmen banyak negara dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan kelautan dunia, baik yang berada di wilayah yurisdiksi masing-masing, maupun di kawasan laut global diluar wilayah yurisdiksinya;  sebuah tata kelola yang bertanggungjawab, berkelanjutan dan berkeadilan.

seruan melindungi 40 persen laut global
Seruan untuk melindungi 40% Laut Global Dunia!

Oleh karena itu pula, pada bulan Mei 2013, Greenpeace kembali meluncurkan sebuah laporan berjudul “Emergency Oceans Rescue Plan: Implementing the Marine Reserves, Roadmap of Recovery“ sebagai pengingat dan “proposal” konkrit yang ditujukan kepada para pemimpin dunia untuk mengambil langkah nyata dalam melindungi sekitar 40 persen perairan internasional  dan menjadikannya sebagai jejaring cagar alam laut dunia (network of global marine reserves).

Laporan ini, selain mengindikasikan wilayah-wilayah laut di perairan internasional yang perlu dilindungi, juga merangkum secara umum sejumlah fakta ilmiah dan realita degradasi yang terjadi diberbagai kawasan laut dunia serta langkah-langkah yang perlu ditempuh oleh berbagai pihak untuk mewujudkan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya hayati lautan dunia secara adil dan lestari.

Laut kita sedang krisis. Ia butuh suara, aksi dan tindakan.  Saksikan video “Drop into the Oceans”  dan buktikanlah sendiri, betapa laut saat ini sedang membutuhkan kita.  

Laut Kita Sedang Krisis
Laut Kita Sedang Krisis.

Berikan dukungan Anda untuk mewujudkan 40% jejaring cagar alam laut dunia dengan mengisi dan menyebarkan petisi ini.

Bergabunglah dalam Kampanye Kelautan Greenpeace Indonesia disini. Bersama kita serukan Pemerintah Indonesia mewujudkan komitmennya untuk melindungi dan mengelola sumberdaya hayati lautan kita secara berkelanjutan.


Jadilah pembela lautan!


Tulisan Terkait: