Kampanye Minyak Sawit Greenpeace – divisi minyak kelapa sawit Sinar Mas, Golden Agri Resources (GAR).

  • 8 November 2007 – Publikasi laporan ‘Cooking the Climate’ (Menggoreng Iklim) – sebuah laporan yang menyingkap bagaimana perkembangan pasar global minyak sawit memicu kerusakan hutan hujan dan lahan gambut serta emisi gas rumah kaca di Indonesia. Laporan ini menyoroti peran Sinar Mas Grup (Golden Agri Resources - GAR dan Asia Pulp and Paper – APP) sebagai pemicu deforestasi di Indonesia.

  • 21 April 2008 – Laporan kami ‘Burning up Borneo’ (Membakar Kalimantan) mengumpulkan bukti dari ekspansi perusahaan minyak kelapa sawit, terutama Golden Agri Resources, ke dalam hutan hujan habitat orangutan dan lahan gambut di Kalimantan serta mengkaitkan keterlibatan perusahaan Unilever, konsumen minyak kelapa sawit terbesar  dunia.

  • 21 Mei 2008 – Laporan kami ‘The Hidden Carbon Liability in Indonesian Palm Oil’  (Kewajiban Karbon Tersembunyi di Minyak Kelapa Sawit Indonesia) membongkar skala ancaman terhadap hutan hujan Indonesia, lahan gambut dan iklim global yang disebabkan oleh operasi pulp dan minyak sawit Grup Sinar Mas dan Raja Garuda Mas.

  • 11 Desember 2009 – Unilever membatalkan kontrak dengan GAR.

  • Februari 2010 – Kraft membatalkan kontrak minyak kelapa sawit dengan GAR.

  • 17 Maret 2010 – Kami meluncurkan laporan ‘Caught Red-handed’ (Tertangkap Tangan) yang menghubungkan Nestle ke GAR. Video kampanye kami melejit dengan cepat di internet setelah Nestle mencoba menghentikan penyebarannya oleh pendukung kami di halaman-halaman media sosial mereka.
  • 18 Maret 2010 – Nestle membatalkan kontrak dengan GAR.

  • 17 Mei 2010 – Nestle berkomitmen pada kebijakan baru ‘tidak bagi deforestasi’. Kami meluncurkan kampanye untuk membujuk HSBC untuk menarik investasinya di GAR.

  • 8 Juli 2010 – HSBC lepas dari GAR.

  • 1 September 2010 – Burger King memutuskan kontrak minyak kelapa sawit dengan GAR.

  • September 2010 – The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengkritik praktek lingkungan dan sosial yang dilakukan GAR.

  • Oktober 2010 – Akses masuk Rainbow Warrior ke perairan Indonesia ditolak, satu bulan menjelang kunjungan.
  • 9 Februari 2011 – GAR mengumumkan rencana untuk menghentikan pengrusakan hutan hujan Indonesia termasuk menghentikan semua konversi lahan gambut lebih lanjut.

Ringkasan Kampanye Aktual Greenpeace Terhadap APP

Sejak peluncuran kampanye kami lebih dari 100 perusahaan nasional dan internasional telah memutuskan hubungan dengan APP.  Termasuk Adidas, Danone, Delhaize, Hasbro, ING, Kraft, Lego, Mattel, Mondi, Montblanc, Nestle, Tesco (di Inggris), Unilever dan Xerox.

  • July 2010 – Publication of ‘Pulping the Planet’, revealing that major companies, including KFC, Pizza Hut and Tesco, are buying from APP and showing how APP is contributing to the destruction of tiger habitat in Sumatra.

  • Juli 2010 – Publikasi laporan ‘Pulping The Planet’ menyingkapkan bahwa perusahaan-perusahaan besar termasuk KFC, Pizza Hut dan Tesco melakukan pembelian dari APP dan menunjukkan kontribusi APP dalam penghancuran habitat harimau Sumatera.

  • Juli 2010 – Publikasi laporan ‘Empires of Destruction’  (Imperium Penghancur)  menyingkapkan ambisi  ekspansi besar-besaran Grup Sinar Mas yang mencakup lebih dari satu juta hektar hutan hujan Indonesia dan lahan gambut termasuk habitat satwa liar.

  • November 2010 – Publikasi laporan ‘Protection Money’ (Uang Perlindungan) yang mengungkapkan ambisi ekspansi besar-besaran pemerintah dan sektor pulp yang mengancam jutaan hektar hutan hujan dan lahan gambut di Indonesia.

  • Juni 2011 – Publikasi laporan ‘Toying with Destruction’ (Bermain-main dengan Kehancuran) menunjukan bahwa beberapa perusahaan mainan membeli kemasan mereka dari APP yang mengandung serat hutan hujan. Greenpeace meluncurkan kampanye global terhadap Mattel dan meminta Hasbro, Disney dan Lego untuk berhenti membeli kemasan dari APP dan berkomitmen untuk membuat rantai pasokan mereka bebas deforestasi.

  • Oktober 2011 – Mattel membatalkan kontrak dengan APP dan menginstruksikan pemasok mereka untuk menghidari serat kayu dari sumber yang kontroversi, termasuk perusahaan-perusahaan ‘yang dikenal terlibat dalam deforestasi’.


  • November 2011 – Hasbro membatalkan kontrak dengan APP.

  • November 2011 – Greenpeace China meluncurkan laporan ‘The Disappearing Rainforest’ (Hutan Hujan Yang Menghilang) menunjukan bahwa hutan alam tropis di kawasan ekologi pegunungan di pusat Hainan berkurang sekitar seperempatnya sepanjang tahun 2001 dan 2010. Setengah dari pengurangan ini disebabkan oleh ekspansi perkebunan pulp yang dilakukan APP.

  • Maret 2012 – Peluncuran laporan ‘The Ramin Trail’ (Jejak Ramin) menunjukan bahwa pohon ramin, spesies yang dilindungi di bawah undang-undang internasional CITES telah diperdagangkan secara illegal ke pabrik pulp utama APP.

  • Maret 2012 – National Geographic, Xerox dan Mondi memberikan konfirmasi bahwa mereka tidak akan melakukan pembelian dari APP.

  • April 2012 – Danone membatalkan kontrak dengan APP dan berkomitmen untuk mengembangkan kebijakan baru. Norway Pension Fund menjual sahamnya di pabrik kertas APP Indah Kiat. Tak lama setelah itu, Skagen Funds, investor asing terbesar nomor 3 Indah Kiat menjual sahamnya di pabrik kertas APP.

  • Mei 2012 – Investor Asing terbesar Indah Kiat APP, Mackanzie Financial menjual sahamnya setelah Greenpeace Kanada menyingkapkan raksasa investasi itu memiliki $24 juta saham di APP.

  • Mei 2012 – Greenpeace Internasional meluncurkan laporan ‘Jungking the Jungle’ dan menyingkapkan bahwa kemasan KFC yang dibeli dari APP mengandung serat hutan hujan. Peluncuran kampanye global untuk mengajak KFC dan perusahaan induknya, Yum!  agar berhenti membeli dari APP dan membuat rantai pasokan mereka bebas deforestasi.


  • Juli 2012 – KFC Indonesia membatalkan kontrak dengan APP.

  • Oktober 2012 – KFC Inggris dan Irlandia membatalkan kontrak dengan APP.

  • 5 Februari 2013 – APP berkomitmen untuk mengentikan semua penebangan hutan termasuk hutan gambut.