Pagelaran seni bertajuk ‘Air Seni Citarum’ adalah sebuah pagelaran unik di atas sungai yang disebut sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia. Bukan suatu kebetulan istilah ‘air seni’ digunakan. Mungkin hanya itu yang dapat menggambarkan ke khawatiran yang terjadi dengan warna, bau dan kandungan racun tak terlihat yang ikut mengalir disepanjang Citarum.

Sehari menjelang  hari air sedunia (World Water Day), Bersama sejumlah seniman ternama, rekan-rekan dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB,  perwakilan LSM dan masyarakat kami berkumpul bersama dibataran sungai Citarum yang melintasi di desa Cigeber, Bale Endah, Bandung.  

Sehelai kain berukuran  2x 100 meter dibentangkan di atas sungai Citarum untuk menjadi kanvas.  Salah satu seniman yang ikut bergabung adalah Tisna Sanjaya, melukis diatas air sungai citarum diiringi musik-musik tradisional yang juga dimainkan para pemusik tradisional tanah pasundan yang juga beraksi bersama di atas air. 

Dahulu pada masa kolonialisme hidia belanda terkenal lahirnya aliran seni Mooi Hindie, berarti Hindia yang cantik. Mooi Hindie menggambil objek pemandangan alam Indonesia. Alangkah berbedanya detail lukisan tersebut dengan kenyataan yang kita lihat di badan air kita hari ini. Dari cerita itulah para seniman ini akan membuat suatu karya yang menggunakan material apapun yang ditemukan di sepanjang aliran sungai Citarum seperti sampah, lumpur maupun limbah lainnya yang mereka temukan. Material yg mengalir tersebut akan di gunakan untuk menggambarkan betapa indahnya alam Indonesia.

“Seni Daya Hidup, kolaborasi kreatifitas seni dan aktivis Greenpeace untuk memberikan solusi pada situasi dan kondisi sumber daya hidup alam, mata air Citarum yang sekarat karena terjadi pembiaran secara sistemik dari berbagai pihak untuk melemahkan daya hidup Sang Air dan lingkungannya. Posisi kesenian, kreatifitas dan kebudayaan bisa memberikan inspirasi untuk memberdayakan lingkungannya dengan merevitalisasi tradisi gotong royong” Tisna Sanjaya

Perjalanan membersihkan Citarum masih sangat panjang.  Mendesak industri untuk memenuhi standar minimum yang ditetapkan regulasi pemerintah saja bukan hal mudah. Data dari industri yang tidak memiliki sistem pengolahan limbah atau memilikinya namun tidak dioperasikan sudah jadi hal biasa. Pada tahun 2009 saja jumlah industri besar dan kecil menengah di wilayah Sungai Citarum mencapai total 81,934 industri[1]dari berbagai sektor seperti tekstil, electroplating, kimia, farmasi, kertas, rumah sakit dan lainnya. Industri tekstil adalah salah satu industri yang berkontribusi besar terhadap perubahan kualitas air Sungai Citarum yang di daerah hulu mencapai lebih dari 70% dari total industri[2]. Menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia dari 600 industri yang bergerak di bidang pertekstilan ini hanya 10% saja yang mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah standard.

Saat ini Greenpeace menyelidiki keterkaitan merek-merek internasional ternama dengan supplier/pabrik di negara berkembang, secara berantai menekan rantai industri tekstil untuk meninggalkan material beracun dan menghentikan pelepasannya langsung ke sumber mata air masyarakat. Apabila regulasi pemerintah yang minimal saja belum dapat dipenuhi , bagaimana kita akan mengerjar  target Zero Discharge Commitment (atas semua bahan B3, diseluruh siklus hidup produk dan aktivitas produksi) pada tahun 2020 ?

Tanggal 22 Maret yang dicanangkan PBB sebagai Hari Air Sedunia. Lukisan di atas sungai Citarum dapat menjadi pendorong semua pihak baik itu masyarakat dan pemangku kepentingan bahwa kita bisa bergerak dan bergotong royong untuk mempertahankan “Sang Air dan lingkungannya” tetap terjaga bersih dan bermanfaat untuk Indonesia, Kami juga mengajak Anda semua untuk tetap memperhatikan sungai-sungai di sekitar dan jika melihat adanya pencemaran ayo kilik dan laporkan di waterpatrol.greenpeace.or.id



[1]Peta Informasi Citarum 2011, Hal 2. Balai Besar Wilayah Sungai Citarum

[2] Diolah dari Status Sungai Citarum. Pusat Penelitian Sumber Daya Alam & Lingkungan Universitas Padjadjaran.