Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada 16 Juni lalu, bertempat di hutan kota Babakan Siliwangi, Bandung,  secara kebetulan kami menjadi saksi  yang mendengar dan melihat langsung bagaimana Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan kepada khalayak luas, bahwa ia akan menjadikan air Sungai Citarum layak diminum pada tahun 2018 nanti, atau 5 tahun dari sekarang. Jujur saja, itu adalah pernyataan yang kami tunggu-tunggu datang dari pemimpin Jawa Barat, provinsi dimana Sungai Citarum mengalir. Dengan besarnya kewenangan dan sumber daya yang dimiliki oleh Gubernur dan jajarannya, cita-cita untuk Citarum bersih akan lebih mudah terwujud, dan tentu kami sangat mendukung penuh komitmen ini. Tidak diragukan lagi

Ini rekaman video pernyataan Gubernur tersebut:

Empat bulan setelah janji itu terdengar, saya beserta Juru Kampanye Toksik Ahmad Ashov Birry dan volunteer yang tergabung dalam Team Boat Greenpeace, menuju kota Bandung untuk mendayung kembali di Sungai Citarum, guna melihat seperti apa kondisi Citarum yang harapannya akan menjadi layak minum pada 2018 nanti.

Menggunakan empat perahu karet dengan pakaian pelindung dari bahan kimia berbahaya, kami ingin menguji kualitas dan kandungan yang terdapat dalam pekatnya air Citarum.  Meski panasnya cuaca  Dayeuh Kolot makin terasa di baliknya, pakaian ini sangat penting karena menghalangi kami dari bahaya limbah kimia berbahaya yang dapat menyebabkan banyak hal buruk pada makhluk hidup.

Ada tiga titik sampel yang kami ambil dari beberapa saluran pembuangan yang terindikasi merupakan pembuangan industri, dan diuji langsung di atas perahu menggunakan alat uji. Hasilnya, indikator pH (tingkat keasaman) menunjukkan tingkat yang ekstrem atau diluar ambang batas bahkan mencapai angka 12!. Jangankan untuk diminum, cairan ini bahkan dapat menyebabkan sejenis luka bakar pada kulit manusia yang terkena kontak langsung, serta menimbulkan dampak parah (bahkan fatal) bagi kehidupan akuatik di sekitar area pembuangan.

tes air citarum

test kandungan bahan kimia citarum

Hasil ini menunjukkan bahwa sama sekali tidak dilakukan penanganan terhadap buangan tersebut, bahkan dalam tingkat yang paling dasar sekalipun. Dan ini baru dari tiga titik pembuangan saja,  masih banyak saluran yang terindikasi merupakan pembuangan industri yang bisa kita temukan di sepanjang sungai dengan warna-warni yang beragam seperti pelangi. Namun pelangi di Citarum ini sangat berbahaya.

Ini dapat menjadi bukti jelas bagaimana industri yang membuang limbah ini, telah mencederai harapan Gubernur dan kita semua.  Industri seolah memperlakukan sungai Citarum bagaikan saluran pembuangan pribadinya! padahal jutaan masyarakat Jawa Barat hingga Jakarta menggantungkan hidupnya dan suplai air minum pada sungai ini.

Gubernur beserta jajarannya harus memberlakukan pengawasan yang ketat, penegakan hukum yang tegas dan juga membuat kebijakan yang tepat untuk mencegah pembuangan limbah kimia berbahaya ke dalam sungai ini terjadi terus menerus..Transparansi informasi polusi bahan kimia berbahaya industri yang mengungkap pelepasan bahan kimia berbahaya industri detail per pabrik, per bahan kimia, minimal per tahun, dan dengan akses yang mudah bagi masyarakat (lewat internet misalnya) yang menjadi hak masyarakat juga wajib ditunaikan oleh Pemerintah.

Pemerintah Pusat pun harus membuat kebijakan yang mengarah pada eliminasi bahan kimia berbahaya, karena satu-satunya cara agar bahan kimia berbahaya yang bersifat persisten dan bioakumulatif  tidak terlepas ke lingkungan adalah dengan industri tidak menggunakannya sedari awal. Ini adalah langkah awal yang harus ditempuh untuk mewujudkan Citarum yang bersih dan layak minum seperti yang Gubernur Jawa Barat impikan.