Indonesia kaya akan produk tekstil, dan ada begitu banyak teknik yang dapat kita temui dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya yang dikenal luas adalah batik, yang bahkan telah dinobatkan sebagai warisan dunia dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Awalnya Batik tradisional sendiri menggunakan pewarna alam atau natural dyes selama bertahun-tahun, ia kaya akan pewarna alam seperti indigo, akar pohon mengkudu, tanaman putri malu bahkan kunyit.

Namun demikian kesadaran Eco Fashion di Indonesia, masih terbilang sangat kecil. Definisi Eco Fashion sering dikaitkan dengan fashion ramah lingkungan atau Green Fashion, atau juga Sustainable Fashion. Banyak orang menyalah artikan bahwa untuk membuat sebuah produk eco fashion, ia harus memakai organic cotton atau menggunakan recycle material . Tapi, Eco fashion sendiri sebenarnya adalah subjek yang luas, dengan cabang-cabang yang mempunyai relasi dengan konsep-konsep fashion yang lain, seperti Ethical Fashion yang merupakan suatu pendekatan etis antara fashion desain dengan konsumsi produk dan produksi pakaian yang memaksimalkan manfaat bagi orang lain dan komunitas, sembari meminimalisir dampak buruk terhadap lingkungan.

Ada lagi konsep Slow Fashion yang merupakan sebuah gerakan yang muncul untuk menentang konsep Fast fashion karena banyak menimbulkan polusi – baik dalam proses produksi pakaian dan pembuatan bahan sintetis, juga limbah tekstil yang ditimbulkan dari hasil mass production. Fast fashion juga memberikan kontribusi terhadap kondisi kerja yang buruk di negara-negara berkembang.

Menurut saya, orang akan lebih mengerti bila mereka memahami strategi-strategi yang  mendukung terciptanya sebuah produk eco fashion. Strategi desain tersebut antara lain adalah desain untuk meminimalisir sampah (limbah), design untuk upcycling yang merupakan proses mengolah sampah atau barang-barang yang sudah tidak digunakan menjadi material yang baru dan inovatif, dengan kualitas yang lebih baik atau dampak yang lebih baik untuk lingkungan.  Meminimalisir bahan kimia, design untuk ethical production bahkan design activism; memberikan suara atau kritik sosial dengan membangun kesadaran lingkungan lewat produk. Strategi-strategi ini bisa digunakan oleh seorang designer untuk lebih bertanggung jawab terhadap cara kerja dan bagaimana dampaknya untuk lingkungan.

Balik lagi ke isu tekstil di Indonesia, dengan perkembangan jaman dari tahun ke tahun, pewarna alami, telah terganti dengan pewarna kimia yang lebih menyediakan banyak variasi warna, juga batik print (cetak) yang motif coraknya dicetak mesin. Di sini bisa mulai muncul pertanyaan, apakah inovasi tersebut akan mematikan kekreatifitasan designer yang dimanjakan dengan “mesin cepat saji”?, walaupun tetap digarisbawahi sisi baik penggunaan mesin cetak digital adalah print by demand; yang berarti seorang designer bisa memperkirakan berapa meter yang ia butuhkan untuk produksi tanpa menghamburkan bahan yang menghasilkan lebih banyak lagi limbah kain. Seorang designer harus mampu mempertimbangkan dampak-dampak terhadap lingkungan tersebut dan tetap mengedukasi para pekerja grosiran batik print,  misalnya untuk tetap tidak meninggalkan teknik-teknik lama membuat batik, baik dalam cara pengerjaan maupun cara produksinya.

Bila tetap dibiarkan, kecenderungan seperti yang saya sampaikan di atas, dapat membuat makna dan seni dari batik itu sendiri hilang, padahal ia penuh dengan sarat kekayaan cerita dan sejarah dari corak-corak yang tertera di batik tersebut. Dengan merayakan semangat hari air yang jatuh pada tanggal 22 maret ini ada baiknya praktisi seni & design (designer) tetap melestarikan dan menggunakan pewarna alam dalam teknik designnya, juga mempertimbangkan konsep slow fashion yang meminimalisir limbah tekstil dan pengerjaan teknik garmen yang tinggi untuk menambah value yang tinggi pula di setiap koleksi design dengan menambahkan juga value designer sehingga tidak hanya semata-mata meraup keuntungan bisnis saja. Bila hanya sekedar mendapatkan keuntungan lantas apa dong yang membedakan designer dengan retailer dan manufacturer? Untuk para Indonesian fashion designers, mari bekerja lebih giat lagi agar karya kita lebih orisinil, kreatif dan ekspresif!

Indita Karina
Fashion Educator & Fashion Designer