Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa di pagi itu. Puluhan warga teluk Meranti datang dengan beberapa perahu pompong mereka, merapat dengan elok satu persatu di dermaga. Tua muda, pria wanita, dan anak anak sengaja datang untuk berdoa bersama memulai pembangunan kembali Kamp di Desa Teluk Meranti.

_ict0052-20-640x480

Kamp yang dibangun pada Oktober 2009 lalu itu dibakar secara sengaja oleh orang tak dikenal dini hari 14 April lalu. Bangunan utama berukuran 15 x 5 meter yang biasa digunakan sebagai tempat tidur, ruang kesehatan, dan ruang radio, habis terbakar tak tersisa, dan satu bangunan gudang disebelahnya habis dilalap api seluruh atap dan sebagian dindingnya. Peristiwa kebakaran itu sangat mengejutkan kami semua dari berbagai kantor Greenpeace mulai dari Riau, Jakarta, Thailand, hingga kantor Eropa, karena Kamp itu menyimpan begitu banyak kenangan, suka duka, dan cerita indah sejak hari pertama Greenpeace memulai kampanye penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar dari perusakan lebih lanjut oleh Perusahaan Pulp and Paper RAPP.

Sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran
Sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran

Sepeninggal Greenpeace pada akhir Desember 2009, kamp tersebut diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat dan digunakan sebagai pusat kegiatan dari berbagai komunitas untuk melanjutkan perjuangan menyelamatkan hutan Semenanjung Kampar karena masyarakat telah sadar akan pentingnya hutan bagi kehidupan mereka, dan kini masyarakat Teluk Meranti bersama Greenpeace, FPSK, dan Jikalahari bersama membangun kembali Kamp tersebut secara swadaya, melanjutkan komitmen dan usaha tiada henti untuk penyelamatan Hutan Lahan Gambut Semenanjung Kampar.

Pekerjaan di pagi itupun dimulai. Pemuka adat setempat tampil pertama membacakan doa bersama, kemudian menyiramkan air pada beberapa sudut Kamp sebagaimana prosesi adat istiadat yang biasa dilakukan disana dan dilanjutkan dengan makan bersama sambil duduk bersila di lantai, tak ada perbedaan, semua sama. Dukungan yang diberikan terhadap kampanye penyelamatan hutan Kampar dan Greenpeace itu sangat besar, puluhan masyarakat baik dari Hulu maupun Hilir Teluk Meranti, bahu membahu memperbaiki bangunan gudang yang terbakar, sementara kaum Ibu secara berkelompok bergantian menyiapkan makanan dan minuman di dapur Kamp yang untungnya tidak ikut terbakar. Secara teknis Kamp memiliki 5 bangunan utama, yaitu pendopo, dapur, bangunan utama tempat untuk tidur, gudang, dan satu pelataran besar untuk mendirikan tenda, ditambah beberapa bangunan pendukung seperti kamar mandi. Rencananya , bangunan utama yang terbakar akan dibiarkan seperti apa adanya, digunakan sebagai monumen atau situs pengingat bahwa perjuangan kami menyelamatkan Semenanjung Kampar tak akan pernah padam sampai kapan pun jua, meski harus menghadapi berbagai ancaman dan rintangan apapun.

Camp

Pihak perusahaan RAPP mencoba membujuk masyarakat untuk mendukung keberadan perusahaan dan segala aktivitas perusakan lingkungan yang mereka lakukan dengan dalih pembangunan dan kesejahteraan. Melalui para tokoh terkemuka dan para pemimpin seperti Lurah, mereka mencoba meraih hati masyarakat, namun dengan kesadaran kuat, masyarakat Teluk Meranti sudah tidak dapat dibohongi lagi, meskipun dengan iming-iming bantuan keuangan dan peralatan. Masyarakat sudah muak atas keberadaan dan aktivitas RAPP membuka lahan Hutan. Dengan tegas mereka mengatakan kepada pihak perusahaan, bahwa apabila memang benar RAPP ingin mensejahterakan masyarakat, mengapa pada kenyataannya desa-desa yang ada di sekeliling areal perusahaan tetap miskin dan tertinggal, sementara hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka makin rusak dan hancur. Sebelum adanya perusahaan dan hutan masih terjaga, masyarakat di Semenanjung Kampar tidak ada yang pernah mati kelaparan. Kini masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemimpin mereka yang berpihak kepada perusahaan. Para pejabat dan tokoh terkemuka itu sudah kehilangan harga diri mereka di mata masyarakat.

Melihat semangat masyarakat yang sangat kuat itu, maka diputuskan bahwa Kamp tersebut bukanlah hanya milik Greenpeace, melainkan milik masyarakat dan nama sebelumnya akan diganti dengan “KAMP MASYARAKAT UNTUK PENYELAMATAN HUTAN KAMPAR” sebagai penghormatan kepada masyarakat Kampar dan hutannya.

_ict0324-6-640x480

Pekerjaan itu belumlah selesai, ketukan palu, peluh warga yang bekerja, dan wangi masakan ibu-ibu desa teluk meranti dari dapur Kamp akan terus bergema di Kamp, memupuk semangat para penyelamat hutan melanjutkan komitmen dan perjuangannya untuk menyelamatkan Hutan Indonesia demi masa depan anak cucu kita.