Sebuah langkah menuju solusi

 

Ketika menyiapkan blog ini, saya mencoba mencari pencerahan tentang apa yang sebenarnya sedang dialami planet bumi, mengapa kita perlu mengambil langkah-langkah cepat dan seringkali cukup radikal untuk mengatasi tantangan global menyangkut lingkungan dan iklim?  Informasi pertama ini yang saya dapatkan:

Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia akibat deforestasi.

Pembuangan gas ke atmosfir yang menimbulkan efek rumah kaca berasal dari berbagai sumber dan dalam prosesnya dapat terjadi secara alamiah namun juga dapat dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembakaran material organik (tumbuhan/hutan). Seiring dengan bergeraknya tingkat emisi, ancaman bencana iklim akan mengikuti.

Sebagai organisasi lingkungan, Greenpeace bersama pendukung kami selama bertahun-tahun telah memperjuangkan Nol Deforestasi. Untuk mencapai target ini, salah satu langkah penting adalah dengan mengurangi laju konversi hutan dan lahan gambut  bagi semua sektor pembangunan, khususnya bagi sektor perkebunan kelapa sawit. Tanpa mengabaikan fakta kelapa sawit juga adalah produksi kebanggaan Indonesia yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan sumber penghidupan bagi rakyat.

Menyelaraskan kepentingan perlindungan lingkungan dan kepentingan ekonomi, membuka pintu bagi Greenpeace untuk menginisiasi solusi. Greenpeace bersama berbagai pemangku kepentingan yang terdiri dari praktisi bisnis, wakil pemerintah, LSM dan small holders (masyarakat lokal), mencoba merumuskan peta jalan menuju Nol Deforestasi di sektor kelapa sawit.  

Pertemuan Semiloka yang diadakan hari Selasa, 2 Juli 2013 (dihadiri oleh multi-stakeholder dan didukung oleh Yayasan Kehati, DNPI, Yayasan Perspektif Baru) mencoba mensirkulasikan visi pemerintah melalui Kementrian Pertanian, benih komitmen dari Golden Agri Resources, kompilasi riset dan pandangan GAPKI, keinginan dan inisiatif sederhana wakil masyarakat Dosan, dipertemukan bersama praktisi bisnis dan LSM sebagai benih yang ditabur menuju pengelolaan sawit berkelanjutan.

Berawal dari sebuah visi yang membutuhkan komitmen dan tindakan untuk merealisasikan keinginan bersama, menyangkut moratorium hutan, secara terbuka GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) telah menyatakan pendapatnya agar moratorium hutan dibuat permanen dan seruan untuk menghentikan konversi hutan alam yang mengandung stok karbon yang tinggi serta rumah bagi beragam keanekaragaman hayati. Selain menyatakan dukungannya terhadap Nol Deforestasi, GAPKI juga mendukung zero burning policy (tanpa pembakaran lahan).

Praktik terbaik yang lain telah dipromosikan oleh perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam sektor perkebunan sawit seperti GAR dan Nestle yang telah menerapkan Kebijakan Konservasi Hutan (KKH)/ Forest Conservation Policy (FCP) dalam bentuk Konservasi Hutan Stok Karbon Tinggi (HCS) dengan mengidentifikasi daerah yang harus dilestarikan dengan karbon cadangan oleh 35 ton karbon per hektar. Menjadi sebuah penanda bahwa kriteria perusahaan dengan titel “berkelanjutan” bahkan harus mempunyai inisatif diatas rata-rata, bahkan untuk prasyarat RSPO sekalipun.

Menjawab tantangan keberlanjutan yang sama petani dari desa Dosan mempunyai inisatif dan komitmen pengelolaan lahan berupa pembukaan lahan tanpa pembakaran, meminimalisir penggunaan herbisida, penerapan tata kelola gambut (dalam bentuk pengaturan drainase untuk manajemen level air) dan komitmen tidak membuka lahan gambut yang masih tersisa.

Pertanyaan selanjutnya: business as usual atau paradigma baru?

Sektor Kelapa Sawit yang berkelanjutan dapat tercapai bukan hanya dengan itikad baik namun juga perlunya komitment kuat, progressif dan menyeluruh.

 

Upaya inilah yang dilakukan Greenpeace bersama pendukung kami di Indonesia dan di seluruh dunia. Karena kita tengah berpacu dengan waktu dan kerusakan yang terjadi di planet ini. Tindakan dan solusi yang nyata dan seringkali radikal harus segera dilakukan. Dan karena kami tidak mungkin melakukan semuanya sendirian, maka benih kemitraan ditabur.  Semoga perkebunan sawit lestari yang berkelanjutan bisa terealisasi dan Nol Deforestasi bukan sekedar narasi.

Perubahan paradigma adalah benih menuju kemitraan berkelanjutan dan bahan bakar untuk mencapai visi: Nol Deforestasi Bisa!!!.