Sabtu malam lalu puluhan aktivis, volunteer dan anggota Greenpeace menggelar acara nonton bareng Debat Capres-Cawapres di sebuah tempat dekat acara debat Capres itu berlangsung. Itulah Debat terakhir dari lima putaran Debat Capres dan Cawapres yang mengangkat tema tentang Pangan, Energi dan Lingkungan. Pihak panitia Debat Capres menyebutkan bahwa sekitar 150 juta pemirsa menyaksikan langsung debat tersebut yang disiarkan oleh hampir seluruh stasiun televisi nasional. Sungguh sebuah kesempatan besar bagi kedua Capres-Cawapres untuk menjelaskan visi, misi serta rencana program mereka untuk tema besar ini kepada rakyat Indonesia.

Malam itu saya datang dengan harapan besar untuk mendengarkan perdebatan segar tentang perjalanan Indonesia ke era baru pembangunan abad 21 yang meletakkan tri-tunggal pembangunan berkelanjutan yakni pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial dan perlindungan lingkungan. Namun sayang sekali baik pasangan Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK melewatkan kesempatan emas ini untuk menjelaskan apa konsep pembangunan berkelanjutan yang mereka tawarkan dan bagaimana strategi mereka membalik krisis energi, pangan dan lingkungan yang kita hadapi saat ini.

Berita tentang hutan-hutan Indonesia yang menyusut dengan kecepatan tertinggi di dunia, masalah kebakaran hutan kronik seharusnya menjadi sebuah peringatan darurat untuk bertindak cepat mengatasi krisis kehutanan dan iklim tersebut. Di sisi lain kedua pasang kandidat juga misalnya, masih enggan untuk menghentikan deforestasi serta ketergantungan energi fosil dimana keduanya adalah pendorong utama bencana iklim yang buruk. Wacana tentang  masa depan pembangunan rendah karbon pun tidak muncul wacana dalam debat tersebut.

Perlindungan lingkungan bukan saja penting bagi generasi yang akan datang namun juga merupakan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan. Kita tidak dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi di dalam lingkungan yang terdegradasi. Kita perlu memastikan bahwa lingkungan kita yang unik dan berharga ini dikelola dengan lebih baik sebelum terlambat. Krisis ekologis telah berdampak luas bagi masyarakat di seluruh nusantara khususnya bagi masyarakat miskin.

Di seluruh Nusantara, kita menyaksikan contoh-contoh kerusakan lingkungan yang paling parah di dunia. Beberapa sungai kita (seperti Citarum) merupakan sungai paling tercemar di dunia; kualitas udara kota-kota kita termasuk yang terburuk di dunia; tingkat deforestasi hutan kita tertinggi di dunia; laut-laut kita mengalami over-fishing dan pencemaran; eksploitasi batu bara telah menjadi penyebab kehancuran dan bencana lingkungan seperti tanah longsor dan banjir menjadi salah satu sumber emisi karbon utama dunia peyebab pemanasan global.

Sudah saatnya mengarus-utamakan kebijakan pembangunan hijau dan lebih berpihak kepada masyarakat lokal di atas kepentingan profit korporat. Negeri kita menyediakan segalanya yang diperlukan untuk mengembangkan pertanian selaras alam bagi pangan yang cukup dan sehat serta energi yang bersih, aman dan terbarukan. Kita berkejaran dengan waktu dengan proses kerusakan yang tidak terpulihkan akibat pola pembangunan ekstraktif yang eksploitatif.  Pemerintah dan masyarakat Indonesia memiliki tantangan besar untuk mengatasi masalah ini.

Kita tanpa henti harus terus menyuarakan agar pemerintah baru memilih model pembangunan yang tidak mengorbankan kelestarian lingkungan dan mendorong pembangunan ekonomi hijau dan rendah karbon. Pembangunan ekonomi seharusnya tidak dipertentangkan dengan pelestarian lingkungan. Saat ini Indonesia menghadapi berbagai permasalahan terkait dengan degradasi lingkungan, banyak sekali kasus dimana suatu daerah harus menanggung beban kerugian ekonomi yang begitu besar karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas industri yang tidak ramah lingkungan. Industri batu bara misalnya, bukan saja berdampak terhadap lingkungan, namun dalam jangka panjang dapat melukai perekenomian Indonesia.

Kita mengapresiasi prioritas diversifikasi energi dari sektor energi bersih terbarukan. Langkah-langkah meningkatkan energi non fosil melalui kebijakan insentif seperti feed-in tariff dan efisiensi transport massal perlu dilakukan secara strategis untuk dapat mencapai target penggunaan energi bersih terbarukan yang lebih ambisius hingga 40% pada 2030. Sudah saatnya mengatakan selamat tinggal bagi energi kotor fosil, dan menjalankan (R)evolusi Energi.

Pemerintah baru harus berani memilih model pembangunan hijau yang berkelanjutan serta tegas menegakkan hukum pada industri-industri yang terbukti merusak badan-badan sungai dan air permukaan yang vital bagi kehidupan kita. Komitmen kedua Capres-Cawapres untuk menyelesaikan masalah-masalah sektor kehutanan termasuk tumpang tindih perijinan kawasan hutan seharusnya diawali dengan memperkuat dan memperpanjang kebijakan moratorium yang akan berakhir pada Mei 2015, yang sejalan dengan ide kebijakan satu peta.

Kedua Capres-Cawapres luput membicarakan isu kelautan dan perannya dalam menjawab masalah pangan, energi dan lingkungan nasional. Laut adalah sumber protein penting bagi masyarakat Indonesia khususuya di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dan menjanjikan energi masa depan. Mengatasi over-fishing dan pencemaran adalah kunci bagi laut sehat dan terlindungi.

Akhirnya, tidak terasa proses kampanye panjang Pipres yang dimulai sejak dua bulan lalu usai sudah dan kini saatnya rakyat Indonesia akan menentukan pilihannya pada tanggal 9 Juli 2014. Pilihlah calon presiden yang memiliki komitmen yang lebih besar bagi lingkungan, dan yang memberikan ruang lebih besar bagi warga untuk berpartisipasi di dalamnya. Kedaulatan pangan, energi dan lingkungan tidak mungkin tercapai tanpa peran serta masyarakat.

Kampanye 100% Indonesia Hijau Damai telah memasuki bulan ketiga sejak dimulai pada tanggal 11 April lalu di Bunderan HI Jakarta.  Kampanye tahap pertama telah selesai minggu ini bersamaan dengan pemilihan umum. Hingga kini lebih dari 20.000 orang telah turut menandatangi Petisi 100% Indonesia, yakni sebuah tuntutan kepada Capres dan Cawapres untuk membuat komitmen nyata untuk melindungi hutan dan lahan gambut, iklim, sungai serta lautan Indonesia. Hampir 2000 twit juga telah dilayangkan kepada kedua Capres melalui Tweet Storm.

Kita tidak akan berhenti di sini, karena Kampanye 100% Indonesia Hijau Damai akan memasuki babak baru melanjutkan kampanye bersama Presiden terpilih nanti. Kampanye ini akan semakin atraktif dan kreatif dan kita akan terus melanjutkan perjalanan bersama untuk memastikan Presiden terpilih nanti berkomitmen 100% bagi perlindungan lingkungan hidup Indonesia.

Jangan kemana-mana tetaplah bersama kami.