Bukti dari penghancuran hutan jelas terlihat di sekitar kami dan untuk itulah kami kami kesini - tetapi aneh karena kami tidak melihat seorangpun. Tidak ada pekerja. Tim penunjuk arah kami pergi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan kami tetap menunggu di tengah panas yang sangat ekstrim, karena tidak ada satu pun pohon yang tersisa untuk kami berteduh, di tengah hari pada hari Senin 26 April 2010.

Di Singapura pada 27 April 2010, Sinar Mas mengadakan rapat umum tahunan pemegang saham  dan kami memberikan bukti-bukti baru penghancuran hutan kepada publik, media dan juga pemegang saham. Bukti-bukti yang kami kumpulkan  sejak akhir pekan kemudian di umumkan di konferensi pres sebelum di mulainya rapat pemegang saham Sinar Mas. Mendapatkan bukti baru itu tentu tidak mudah.

Kami tiba di Palangkaraya Ibukota propinsi Kalimantan Tengah pada hari Jumat 23 April 2010 dan langsung bertemu dengan LSM-LSM lain untuk saling bertukar informasi dan mengumpulkan data terbaru sebanyak mungkin tentang PT. Buana Adhitama (BAT) anak perusahaan Sinar Mas, perusahaan raksasa penghancur hutan dan iklim.

Berjam-jam kami membedah semua dokumen dan akhirnya menemukan data secara terperinci bahwa perusahaan ini telah membuka hutan secara illegal tanpa adanya Izin Pemanfaatan Kayu  (IPK)  dan kegiatan illegal ini masih terus berlangsung. Daerah pembukaan hutan itu tumpang tindih dengan habitat orangutan. Kami melihat mereka melakukannya, walaupun beberapa bulan lalu Sinar Mas telah mengatakan suatu komitmen untuk menghentikan penghancuran hutan seperti ini.

Hari selanjutnya kami bersama wartawan Al-Jazeera pergi ke lapangan untuk mengumpulkan bukti-bukti. Perjalanan yang cukup jauh dan sangat tidak nyaman membuat kami seolah-olah berada di pertandingan reli Internasional, tanpa bendera dan lambaian penonton di kanan-kiri.

Akhirnya kami tiba di Kuala Kuayan, sebuah desa kecil di tepi sungai Mentaya, pemberhentian terakhir kami sebelum menuju tempat  kejadian. Perjalanan berikutnya akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam. Sebelum matahari terbit kami sudah bergegas untu menuju lokasi. Kami telah mengontak para pemburu rusa yang sering melihat orangutan di wilayah PT. BAT, mereka ikut serta bersama kami pagi ini. Lengkap sudah 12 orang bersama kami termasuk supir. Selama perjalanan kami tidak tahu apa yang akan menyambut kami disana, apakah masyarakat menerima kami yang sedang mengumpulkan bukti-bukti berkaitan dengan perusahaan di area wilayah itu.

Kira-kira 30 menit lagi kami tiba di tujuan, ketika dihadapan kami terdapat jalanan yang berlumpur cukup dalam. Keadaan ini membuat kami hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan karena tidak ada lagi angkutan yang bisa membawa kami ke tempat tujuan.

Seperti mendapat bantuan dari Tuhan, dua orang warga dengan bersepeda motor datang, kami memberitahu kemana tujuan kami dan mereka mau membantu kami. Tim kami kemudian pergi bersama jurnalis melewati jalur di depan dengan sepeda motor.  Dalam satu jam mereka kembali dengan berita buruk: ada dua parit besar yang harus kami lewati sebelum sampai di tempat tujuan. Matahari sangat terik dan menusuk kulit tetapi kami tetap berusaha untuk tidak menyerah.

Kami menahan nafas ketika mobil pertama akan masuk ke jalur berlumpur yang sangat dalam. Mobil akhirnya masuk ke dalam kubangan lumpur dan terjebak. Cukup lama kami berjuang menarik mobil agar bias keluar dari Lumpur, tapi kami tetap bersemangat dan itu berhasil. Keberanian dan kebersamaan akhirnya menghalau semua hambatan, walaupun kami harus turun beberapa kali untuk menarik mobil keluar dari lumpur.

Menjelang tengah hari akhirnya kami tiba di lokasi tujuan. Kami kemudian bergegas menuju kamp pekerja, berharap menemukan seorang pekerja yang cukup berani menceritakan kepada kami apa yang terjadi. Ada seorang pekerja dan seorang warga desa di sana. Dia adalah warga desa dari perbatasan wilayah perusahaan  yang telah menghancurkan hutan ini. Beliau menceritakan bahwa tidak akan ada kegiatan perusahaan hari ini karena kemarin telah terjadi konflik antara warga dan para pekerja, yang berasal dari sengketa lahan.

Kasus konflik tanah seperti ini sering sekali terjadi pada perusahaan seperti Sinar Mas, yang terkadang berujung pada kekerasan dan ancaman - yang akhirnya membuat warga desa tidak berani bicara banyak mengenai keadaan konflik ini.

Dan sekali lagi, dewi keberuntungan terus bersama kami. Seorang pria datang kepada kami dan memperkenalkan diri sebagai tetua dari desa tersebut dan korban dari PT. BAT. Beliau bersedia di wawancarai dan mengatakan bahwa seseorang telah menipu masyarakat hingga menyerahkan Surat Kepemilikan Tanah (SKT). Pada awalnya disampaikan bahwa tanah mereka akan dikembangkan menjadi perkebunan karet masyarakat. Namun akhirnya perkebunan kelapa sawit lah yang datang. Sekarang bukti yang kami miliki pun semakin lengkap.

Lelah-kami langsung kembali dan tiba sekitar tengah malam untuk mempersiapkan video-video bukti terbaru dari penghancuran hutan yang di lakukan Sinar Mas. Dan kami memastikan tidak boleh ada kebohongan lagi mengenai pengrusakan hutan. Pagi-pagi buta kami berupaya keras agar hasil penyelidikan kami bisa dikirimkan ke rekan kami yang berada di Singapura dan kepada kantor Greenpeace di seluruh dunia, agar semua orang bisa melihat apa yang dilakukan oleh perusahaan ini pada hutan Indonesia dan habitat orangutan.

Kami ingin Nestle menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari perusahaan penghancur hutan seperti Sinar Mas. Greenpeace  tidak anti perkebunan kelapa sawit. Tetapi kami tidak akan tinggal diam jika hutan di hancurkan untuk perluasaan perkebunan kelapa sawit.

Joko Arif Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara