Sungai Citarum, yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat, mempunyai sejarah panjang dalam perkembangan peradaban bangsa ini. Citarum menjadi sumber kehidupan. Di tepian sungai inilah lahir salah satu kerajaan Hindu tertua di Nusantara, Kerajaan Tarumanegara. Sungai ini juga dulu menjadi batas antara Kerajaan Galuh dan Sunda dan juga kemudian Kerajaan Cirebon dan Banten.

 

Hingga saat ini pun Citarum masih memainkan peranan penting. Delapanpuluh persen kebutuhan air ledeng Jakarta berasal dari Citarum. Citarum juga menjadi sumber air untuk mengairi sawah-sawah yang memproduksi 5% beras negeri ini, sementara 20% output atau produksi industri Indonesia pun berasal dari daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Tidak itu saja, Citarum juga menjadi sumber air bagi pembangkit listrik Jatiluhur yang memasok jaringan listrik utnuk Jawa-bali. Dengan lebih dari 28 juta warga Indonesia bergantung kepadanya, Citarum diakui sebagai sungai strategis bagi negara ini.

Namun ironisnya, berkebalikan dengan nilai historis dan signifikansi Citarum bagi bangsa Indonesia, saat ini Citarum sedang mengalami krisis. Air yang mengalir melalui Citarum telah tercemari oleh berbagai limbah, yang paling berbahaya adalah limbah kimia beracun dan berbahaya dari industri. Saat ini di daerah hulu Citarum, sekitar 500 pabrik berdiri dan hanya sekitar 20% saja yang mengolah limbah mereka, sementara sisanya membuang langsung limbah mereka secara tidak bertanggung jawab ke anak sungai Citarum atau ke Citarum secara langsung tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak yang berwenang (pemerintah).

Bahan kimia beracun dan berbahaya tidak dapat dikelola dengan baik oleh teknik ‘end-of-pipe, termasuk fasilitas pengolahan air limbah biasa. Banyak diantara bahan kimia beracun dan berbahaya tersebut dapat membahayakan dalam waktu yang sangat panjang dan jauh dari sumber pencemarnya. Bahan kimia tersebut dapat menempuh jarak yang jauh dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan dan pada akhirnya dapat meracuni sumber makanan kita.

Aktivis Greenpeace telah menyaksikan secara langsung bagaimana pabrik-pabrik ini membuang limbahnya ke Citarum tanpa pengolahan apapun dan telah menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat yang bergantung kepada sungai terpaksa menggunakan air yang tercemar tersebut untuk keperluan mencuci, memasak, mandi bahkan minum.

 

Kondisi Citarum merupakan potret parahnya pengelolaan badan-badan air permukaan di Indonesia. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh 30 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi pada tahun 2008 terhadap 35 sungai menunjukkan bahwa pada umumnya status mutu air sudah tercemar berat.

Walaupun Indonesia memiliki sumber air permukaan sebanyak 6% dari seluruh sumber air permukaan dunia, dan 21% dari total sumber air di wilayah Asia Pasifik, namun masalah air bersih menjadi masalah yang terus menghantui masyarakat di Indonesia. Lebih dari 100 juta warga Indonesia tidak memiliki akses atas sumber air yang aman, dan lebih dari 70% warga Indonesia mengkonsumsi air yang terkontaminasi. Penyakit yang diakibatkan konsumsi air yang tidak bersih –seperti diare, kolera, disentri, menjadi penyebab kematian balita kedua terbesar di Indonesia. Dan setiap tahunnya, 300 dari 1.000 orang Indonesia harus menderita berbagai penyakit akibat mengkonsumsi air yang tidak bersih dan aman.

PBB mendeklarasikan bahwa hak atas air adalah hak asasi manusia, demikian pula Undang-Undang Dasar 1945. UUD 1945 juga mengaskan bahwa lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah hak asasi manusia yang harus dijamin oleh negara/pemerintah.

Greenpeace secara global melakukan kampanye untuk menyelamatkan badan-badan air dari pencemaran bahan kimia berbahaya dan beracun. Kami menyerukan kepada pemerintah-pemerintah berbagai Negara di seluruh dunia untuk membuka informasi kepada publik tentang bahan kimia pencemar yang terkandung di dalam air sungai yang menjadi sumber kehidupan jutaan orang di dunia. Lebih lanjut Greenpeace juga mendorong untuk dihentikannya pemakaian bahan kimia berbahaya dan beracun dalam proses industri, dan mendorong industri menerapkan praktik produksi bersih.

Citarum, dan berbagai sungai lain di Indonesia sedang berada dalam kondisi yang menyedihkan. Apakah kita hanya akan duduk berpangku tangan?

Kami menggelar Kompetisi Cerita Foto di Fan Page.

Salam!

Ashov
Juru Kampanye Air
Greenpeace Asia tenggara