Setelah kemarin kami menyerahkan hasil investigasi kami ke Kementerian Kehutanan dan Kepolisian terkait dengan APP yang memperdagangkan kayu ramin secara illegal, mungkin Anda semua perlu mengetahui mengapa ramin menjadi begitu penting untuk dilindungi dan kaitannya dengan legalisasi perdagangan di dunia internasional. Saya akan berbagi informasi mengenai kayu ramin dari mulai habitat, ekologi, undang-undang perlindungan, hingga konsesi perdagangan.

Jurukampanye Greenpeace Zulfamhi menyerahkan laporan hasil penyelidikan Greenpeace selama setahun kepada Kementrian Kehutanan pada 1 Maret 2012 © Greenpeace/ Ardiles Rante

Gonstylus spp yang nama perdagangannya disebut ‘RAMIN’ termasuk salah satu kelompok jenis pohon yang akhir-akhir ini keberadaanya termasuk langka. Di Indonesia, saat ini jenis kayu ramin hanya dapat dijumpai di kawasan hutan rawa pulau Sumatera, kepulauan selat Karimata, dan Kalimantan. Di Pulau Sumatera, jenis kayu ramin dijumpai di kawasan sebelah timur mulai dari Riau hingga Sumatera Selatan. Di pulau Kalimantan, kayu jenis ramin dapat dijumpai di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sedikit di Kalimantan Timur.

Kayu jenis ramin telah sejak lama dikenal sebagai penghasil produk kayu komersial dan memiliki harga jual yang cukup mahal sehingga digolongkan dalam kategori kayu indah. Penampakan fisik jenis ramin yang bertekstur halus membuat jenis ini cukup digemari di pasar kayu internasional. Harga jual dari produk jadi kayu ramin di pasar internasional hingga saat ini telah mencapai US $ 1.000 per meter kubik. Produk yang dihasilkan umumnya berbentuk kayu olahan (sawn timber), produk setengah jadi (moulding, dowels) dan produk jadi (furniture, window blinds, snooker cues). Negara pengimpor jenis kayu ini antara lain Italia, Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, China, dan Inggris.

Tingginya harga jual dan besarnya kebutuhan pasar terhadap jenis kayu ini ternyata membuat maraknya kegiatan penebangan di kawasan hutan rawa gambut. Setelah menjadi andalan dari perusahaan HPH hutan rawa tahun 1990-an, dalam beberapa tahun belakangan ramin juga telah menjadi incaran aktivitas illegal logging. Sejak tahun 1998 aktivitas Illegal logging telah teridentifikasi menjadi semakin marak dan kayu ramin menjadi salah satu kayu terpopuler yang menjadi incaran para penebang di Sumatera dan Kalimantan. Bahkan pada tahun 1999, aktivitas illegal logging di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting volume penebangan ilegal kayu ramin mencapai 5.000 m3 setiap minggunya. Penebangan jenis kayu ramin secara ilegal tidak hanya dijumpai di TN Tanjung Putting saja melainkan telah menjalar ke beberapa kawasan konservasi hutan rawa gambut. Sementara data tentang berapa besar volume kayu ramin yang telah diperdagangkan dan diekspor dari Indonesia secara ilegal tidak ada orang yang tahu. Yang jelas sampai saat ini kayu ramin ilegal yang berasal dari Indonesia masih beredar di pasar-pasar internasional. Padahal sejak pertengahan dekade 90-an jenis kayu ramin telah dinyatakan langka. Ancaman kepunahan terhadap jenis kayu ramin dengan maraknya aktivitas illegal logging yang telah merambah ke kawasan konservasi serta adanya tekanan tekanan dari organisasi.

Dalam hubungannya dengan konservasi, maka seluruh jenis ramin yang ada, oleh IUCN (International Union for Conservation and Nature) dimasukkan ke dalam golongan tumbuhan langka (red list). Hal ini disebabkan populasinya di alam sangat menurun tajam dan terancam kepunahan. Pelarangan ekspor kayu ramin melalui Keputusan Menteri Kehutanan No 1613-KPTS-IV/2001 juga merupakan upaya penyelamatan jenis pohon tersebut yang pada tahun 2004 telah dimasukkan ke dalam CITES Appendix II. (Panduan Identifikasi Jenis Ramin Di Indonesia, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan, 2010)

Apa yang dimaksud dengan kategori Appendix II?

Spesies yang termasuk ke dalam kategori ini adalah daftar spesies yang belum terancam punah tetapi mungkin akan menjadi terancam punah kecuali jika perdagangan erat dikendalikan. Harus ada izin atau sertifikat impor yang hanya diberikan jika pihak yang berwenang dalam hal ini adalah CITES puas bahwa kondisi tertentu terpenuhi, yang tentunya tidak akan merugikan kelangsungan hidup spesies di alam liar.

 

Kedua hal tersebut sangat mencirikan dengan jelas bahwa kayu ramin secara tegas dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan dan secara internasional dilindungi oleh CITES. Tak ada toleransi untuk hal ini. Kemudian yang menjadi tidak kalah penting juga adalah bahwa ramin adalah salah satu jenis indikator pada lahan gambut. Menghancurkan lahan gambut berarti juga menghancurkan spesies kayu ramin.

Selain itu, lahan gambut juga menjadi habitat penting bagi satwa seperti Harimau Sumatera dan Orangutan. Lahan gambut termasuk vegetasi yang tumbuh di atasnya seperti kayu ramin merupakan bagian dari sumberdaya alam yang mempunyai fungsi untuk pelestarian sumberdaya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, pendukung berbagai kehidupan keanekaragaman hayati, dan pengendali iklim. Kelestarian lahan gambut ini ternyata berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Bukti yang didokumentasikan selama investigasi di Indah Kiat Perawang menunjukkan bahwa pemasok kayu pulp APP - Sinarmas Forestry dan operasi dan pemasok afiliasinya - tanpa pandang bulu menebang habis habitat ramin dan melanggar larangan penebangan ramin di Indonesia dan peraturan nasional CITES.

Kementrian Kehutanan Indonesia harus menegakkan peraturan nasional CITES dan segera menyita setiap ramin ilegal dalam pabrik-pabrik APP. Pemerintah juga harus memulai kajian komprehensif dari semua konsesi pulp, kelapa sawit dan konsesi lain yang ada yang bertumpang tindih dengan hutan alam untuk memastikan apakah operasi mereka sepenuhnya sesuai dengan hukum ramin Indonesia dan peraturan CITES. Pemerintah harus mengikuti rekomendasi yang dibuat dalam Kementrian Kehutanan melaporkan ramin dan mengakhiri semua penebangan habis hutan rawa gambut.