Tak ada kilatan kamera. Tak ada karpet merah. Jangan berbicara mengenai hotel nyaman bintang lima karena di sini, kita bahkan tidak punya toilet permanen.

Tetapi bintang Hollywood asal Prancis Melanie Laurent tampak sangat menikmati kehidupan di Kamp Pelindung Iklim (Climate Defender Camp) Greenpeace, yang berada di jantung hutan tropis Indonesia, Semenanjung Kampar, Provinsi Riau.

“Memang, saya merindukan tempat tidur saya yang nyaman di rumah. Tetapi saya sangat menikmati keberadaan saya di sini,” ujar artis yang menjadi lawan main Brad Pitt di film “Inglorious Bastards” ini dalam sebuah percakapan Minggu pagi yang terik.

Saat itu kami baru saja selesai sarapan. Semua orang berkumpul di bangunan utama camp. Acara sarapan tidak mewah tetapi kami punya semua yang kami butuhkan. Kopi, susu, roti, nasi goreng, dan tentu saja: para sahabat baik.

Sekitar 20 aktivis sedang menyiapkan peralatan untuk aktivitas pembuatan dam. Mereka siap untuk kembali bekerja keras. Melanie telah selesai melakukan persiapan perjalanannya ke wilayah konservasi Kerumutan, untuk melihat langsung hutan lahan gambut yang belum tersentuh.

Kerumutan akan memakan dua jam perjalanan menggunakan speed boat. Saya yakin Melanie akan menikmati keindahan alam di sana. Tetapi kecantikan ibu bumi bukan satu-satunya menu yang bisa dinikmati dalam perjalanannya ke Sumatra ini. Memulai perjalanan bersama Greenpeace Jumat lalu, Melanie telah melihat banyak kerusakan hutanyang mengerikan.

Dalam perjalanan ke Semenanjung Kampar ini, kami sempat berhenti di area konsesi PT. Arara Abadi, di Pangkalan Bunut. Membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di jalan pasir padat, Melanie tercenung melihat puluhan hektar yang harus hancur demi memberi jalan kepada perkebunan akasia ini. Daerah yang tadinya hutan lahan gambut kini terlihat hancur berantakan seperti baru saja terkena bom nuklir, dihancurkan oleh pembangunan kanal-kanal pengering dan dibakar untuk pembukaan lahan.

wr_indonesia_ml_tour_1206

“Betul-betul mengerikan. Saya sangat sedih melihat bagaimana tempat yang dahulu hutan yang indah ini sekarang lebih mirip medan perang,” dan Melanie tak henti-hentinya mengabadikan kerusakan hutan massal itu dengan kamera digitalnya.

Bagi perempuan cantik berusia 26 tahun ini, hutan adalah paru-paru dunia dan tak seharusnya dihancurkan seperti ini. Melanie ingin penghancuran hutan berhenti, dan dia tahun betul bahwa Climate Defender Camp Greenpeace dibangun untuk menghentikan penghancuran hutan.

“Saya kagum melihat semua upaya Greenpeace di tempat ini. Yang membuat saya lebih kagum lagi adalah semangatnya. Saya telah mengunjungi aktivitas pembangunan bendungan mereka dan melihat semua orang bekerja sangat keras. Tapi saya tidak melihat ada satu orang pun yang terlihat lesu dan kesal, semua orang bekerja dengan semangat tinggi dan tekad yang besar.”

Melalui binar di matanya yang indah, saya bisa melihat bahwa dia berkata sungguh-sungguh. Saya juga percaya ketika dia bilang sangat menikmati tinggal di Climate Defender Camp. Panas terik, serangga dan pasukan nyamuk tidak bisa mencegah Melanie untuk menikmati suasana. Selama dua hari dia berbaur dengan semua aktivis dan masyarakat lokal di kamp. Makan bersama, menikmati keindahan pemandangan Sungai Kampar bersama, bahkan ‘nongkrong’ dan bernyanyi diiringi gitar saat malam tiba.

“Di Kamp ini semua orang memperlakukan orang lain dengan rasa hormat. Saya sangat senang diperlakukan sama. Tanpa sorot kamera dan perhatian publik kepada saya sebagai seorang artis, saya bisa menikmati keberadaan saya dan menjadi diri sendiri,” ujar Melanie sambil tersenyum.

Tak ada kilatan lampu kamera dan karpet merah untuk Melanie Laurent di sini. Hanya banyak teman-teman yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama: Menghentikan penghancuran hutan!

Hikmat Soeriatanuwijaya Media Campaigner Greenpeace Southeast Asia