Hi, nama saya Cakra, saya adalah “Mata Harimau”. Sudah sepuluh hari bersama tim Mata Harimau melakukan perjalanan untuk menjadi saksi kondisi hutan Indonesia di Sumatera saat ini. Upaya untuk menyelamatka hutan tersisa kita di Indonesia selalu menyemangati saya dan teman-teman lainnya walaupun ini melelahkan. Kami menyusuri perjalanan melewati beberapa kota di pulau Sumatera, hutan yang hancur habis tak tersisa itu yang sering kami temukan! Sangat menyesakkan namun juga memberi tamparan untuk tetap melawan perusakan hutan yang terus dilakukan oleh industri-industri perkebunan dengan skala besar seperti APP (Asia Pulp and Paper).

Meninggalkan kota Pekanbaru, tujuan kami adalah Taman Nasional Tesso Nilo, salah satu tempat dimana hutan alam masih tersisa namun keberadaannya berada dalam ancaman. Saya terbayang keindahan hutan Indonesia yang kaya akan keaneragaman hayati dan saya berharap menemukannya di Taman Nasional Tesso Nillo.

Dan yang kami saksikan sungguh memprihatinkan. Truk-truk pengangkut kayu alam tetap menjadi pemandangan kami sepanjang perjalanan. Si Maung (nama motorku) terus kupacu, guratan loreng si raja hutan selalu menginspirasi perjalanan ini. Ketua tim kami Adhon memberikan instruksi untuk perlahan dan menuju suatu lokasi. Aku tidak melihat hutan disini.  Tidak berapa lama kemudian terpampang lah papan nama besar yang bertuliskan PT. Arara Abadi. Hem… Ini adalah salah satu perusahaan di bawah APP. GPS (global positioning system – alat penunjuk lokasi berbasis satelit) saya menunjukkan lokasi ini tidak jauh dari lokasi harimau yang terjerat dan kemudian mati  pada bulan Juli lalu. Kejadian yang sangat menyedihkan dan itu terjadi di dalam kawasan konsesi perusahaan ini. Nyawa si harimau tidak dapat tertolong.

Memasuki areal konsesi PT. Arara Abadi, kami kembali disuguhkan pemandangan yang membuat hati kami miris. Kami berhenti dan mendokumentasikan areal kehancuran itu, dan secara spontan semua tim Mata Harimau mendekati pinggiran hamparan  lahan gambut  yang sudah dihancurkan dan di kejauhan kami menyaksikan alat-alat berat terus menghancurkan kawasan hutan gambut yang dahulu merupakan “rumah harimau”. Kanal-kanal dibuka untuk mengeringkan gambut, inilah yang menyebabkan emisi gas rumah kaca Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China. Setelah pengeringan lahan gambut perusahaan perusak hutan ini akan menanam tanamanan monokultur (sejenis) untuk menjadi bahan bubur kertas. Kegiatan penghancuran ini harus dihentikan.

Setelah mendokumentasikan kehancuran yang dilakukan oleh PT. Arara Abadi, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan semula. Sekitar 3-4 jam lagi menuju Tesso Nilo. Wah…kami di sambut Novi, Dono, Indro,Tesso, Nela, Ria, Rahman, Lisa ,Villa dan si kecil Imbo. Mereka adalah kawanan gajah dari kamp Flying Squad WWF yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo. Penyambutan dilakukan dengan memberikan pengalungan bunga oleh para kawanan gajah lucu ini.

Koordinator Flying Squad WWF Riau Bapak Syamsuardi mengatakan gajah dan harimau menjadi satwa payung (umbrella species) karena daerah jelajahnya (home range) yang sangat luas. Seekor harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) dapat menjelajah hingga 100 kilometer persegi. Sedangkan gajah dapat menjelajah hingga 60 kilometer persegi. Bila habitat yang menjadi daerah jelajahnya bisa terjaga, species yang lainnya juga dapat lestari keberadaannya.

Sore hari saatnya gajah-gajah mandi. Kami mendapat kesempatan memandikan dan membuat makanan untuk gajah lalu melakukan patroli di sekitar kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo. Sangat menarik dan sebuah tantangan, inilah hutan tersisa yang harus terus dijaga.

Juru kampanye hutan Greenpeace Rusmadya Maharrudin mengatakan bahwa hutan yang indah ini sedang terancam. Itulah yang memang kami temukan. Hutan yang seharusnya dijaga, namun kami meyaksikan kawasan ini terus dirambah perusahaan-perusahaan. Sangat tipis sekali jarak pembukaan hutan itu dengan wilayah hutan.

Saat kami melintasi hutan tepatnya tak jauh dari sebuah sungai yang mengalir jernih di kawasan TN Tesso Nillo,  kami menemukan jejak harimau. Jejak-jejak ini menunjukan bahwa kawasan ini memang habitat asli harimau sumatera yang tersisa. Menemukan Jejak harimau disini semakin membuat kami tim Mata Harimau bersemangat. Kami akan terus mengumpulkan fakta-fakta terbaru dari hutan alam Sumatera. Mengajak Anda dan seluruh masyarakat Indonesia dan dunia menjadi Mata Harimau, “mengaum” bersama mendesak seluruh perusahaan untuk segera menghentikan perilaku perusakan hutan alam dan beralih pada tindakan yang lebih bertanggung jawab melindungi alam.

Saya adalah “Mata Harimau” dan sebagai anak bangsa saya tahu bahwa ancaman kehancuran hutan dan kepunahan satwa yang hidup di dalamnya akan sangat berkaitan erat dengan hilangnya budaya bangsa Indonesia.

Saya tidak mau menjadi generasi yang gagal melindungi hutan Indonesia dari keserakahan. Masa depan hutan alam kita adalah masa depan Indonesia. Saya berharap generasi muda nanti yang seumur dengan Almira (cucu dari presiden SBY) masih bisa menikmati indahnya Taman Nasional Teso Nilo dan keaneka ragaman satwanya. Semoga kakek Almira dan kita bangsa Indonesia bisa bertindak segera untuk melindungi hutan Indonesia.

Masih ada waktu untuk kita menghentikan kehancuran ini.

Salam,

Cakra