Kampanye yang sedang berjalan saat ini adalah menghentikan penghancuran hutan di Indonesia – yang bertujuan untuk menghentikan bencana yang terus berlangsung seperti kebakaran hutan, longsor, banjir dan perubahan iklim, Karena itu kami harus berurusan dengan beberapa perusahaan besar yang memiliki pengaruh besar di tingkat yang tinggi seperti birokrasi dan politisi.

Selama ini Perusahaan-perusahaan besar sangat menikmati bisnis mereka seperti biasa selama beberapa dekade tanpa ada gangguan atau teguran dari penguasa, menghancurkan hutan dan seluruh keragaman hayatinya, membahayakan habitat dari hewan langka, mengganggu mata pencaharian masyarakat lokal yang bergantung pada hutan, memicu konflik sosial dan kekerasan yang menggunakan aparatur negara. Dan tentunya, mereka mengeruk banyak uang dari “neraka” itu.

Sejak tahun lalu, ketika kami mulai kampanye untuk menghentikan penghancuran hutan dengan menarget pelaku-pelaku dalam industri kelapa sawit, kami telah terbiasa menghadapi bentuk serangan negatif kepada organisasi kami di Indonesia dan bahkan serangan yang dirancang diluar negeri. Ini sebenarnya adalah bukti bahwa kami telah menekan“tombol” yang tepat untuk membuka jalan menuju perubahan yang nyata. Setelah usaha penolakan terhadap kapal legendaris Greenpeace Rainbow Warrior untuk masuk ke Indonesia dan diterbitkannya buku yang mendeskreditkan Greenpeace di akhir tahun lalu. Awal tahun 2011 ini, setelah kami meluncurkan kampanye global mendorong  perusahaan kertas Asia Pulp and Paper (APP) – sebuah perusahaan yang terkenal dengan kelakuan buruk mereka di jajaran perusahaan kertas dan pulp Indonesia, serangan negatif itu datang lagi. Bahkan lebih besar dan lebih terkonsolidasi.

Kami tidak pernah berharap bahwa kami dapat menghentikan serangan negatif ini karena ini sudah merupakan risiko yang harus kami ambil dan harus dihadapi sebagai organisasi kampanye. Selama kami terus melakukan kampanye-kampanye dan melakukan hal untuk mengubah arus utama, serangan ini akan terus datang kepada kami. Kami tidak bisa mengabaikan mereka, kami akan tetap menjaga fokus kampanye kami untuk mengungkap kejahatan kemanuasian dan kehutanan, untuk menghentikan kerusakan lingkungan dan mengubahan sikap dan perilaku dari pelaku utama yang menyebabkan kehancuran.

Aktivis Greenpeace menghentikan operasi penghancuran hutan yang dilakukan oleh industri pulp and paper APRIL di Semenanjung Kampar, Riau

Dalam dua tahun terakhir, kami telah melihat bagaimana keputusasaan mereka dalam membuat tipuan tuduhan-tuduhan terhadap kami, mencoba untuk menipu publik dengan memutar masalah dan membuat hal-hal yang terkadang tidak relevan dengan kepentingan publik. Namun masyarakat Indonesia dan global terlalu pintar untuk di bohongi, penghancuran hutan dan dampaknya kepada masyarakat Indonesia terlalu besar untuk ditutup-tutupi oleh propaganda bodoh yang mereka buat-buat. Di Indonesia ada sebuah kutipan bijak "Buruk muka Cermin dibelah" - yang berarti bukannya memperbaiki wajah buruk ,malah cermin dihancurkan. Itulah yang mereka lakukan terhadap kami saat ini.

Harus diakui mereka adalah orang-orang yang tidak hanya kreatif menghancurkan lingkungan tetapi juga dalam menemukan isu-isu licik untuk menyerang kami. Mungkin mereka memiliki "tim kreatif" khusus yang bekerja bagi mereka untuk menemukan materi apapun yang tidak ada di media. Serangan terbaru adalah peringatan dari Pemerintah kota Jakarta Selatan untuk menutup kantor kami dengan tuduhan karena peruntukan bangunannya adalah untuk tempat tinggal dan bukan untuk kantor, Sebenarnya izin resmi sudah kami miliki dari tingkat pemerintah terkait.

Jadi, kami diberikan waktu 3 hari untuk memindahkan kantor kami ke tempat lain sebelum pemerintah terkait menyegelnya pada hari Senin minggu depan. Staf kami di Jakarta telah berusaha yang terbaik untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa kami memiliki semua dokumen yang dibutuhkan dan kami beroperasi sesuai dengan semua peraturan yang diterapkan di Indonesia. Kita semua akan melihat apakah ini akan berhasil atau tidak.

Saat ini banyak organisasi masyarakat sipil, seperti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) / Friends of the Earth, juga beberapa tokoh masyarakat terkemuka di Indonesia telah menunjukkan dukungan yang luar biasa terhadap kami. Mereka merasa masalah serangan terhadap Greenpeace di Indonesia ini sangat serius, dan melihatnya sebagai gejala dari meningkatnya bentuk intervensi negatif dari kelompok bisnis ke dalam pemerintah dan mencoba untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan untuk tidak mengubah kebijakan negara menuju kearah yang baik - orang-orang yang benar-benar melindungi lingkungan dan hak-hak rakyat yang dijamin dibawah lindungan hukum Indonesia.

Bersama dengan mereka kami akan selalu berjuang agar pemerintah membela dan berdiri untuk rakyat yang memberi mereka wewenang, yaitu rakyat Indonesia dan berhenti membela kepentingan segelitir perusahaan yang membuat penghancuran lingkungan dan menambah penderitaan rakyat.

Nur Hidayati