Awal September kemarin, saya kembali bergabung dengan ratusan warga Batang, Jawa Tengah untuk beraksi menentang rencana pembangunan PLTU  terbesar di Asia Tenggara. Kali ini mereka mengantarkan nasi tumpeng berwarna hitam kepada Gubernur terpilih Jawa Tengah yang baru Bapak Ganjar Pranowo sebagai simbol petaka lingkungan jika gubernur tidak berusaha menghentikan rencana pembangunan PLTU di desa mereka.

Ini adalah aksi yang kesekian kalinya yang dilakukan tanpa kenal lelah oleh para petani dan nelayan Batang, mulai dari Kejaksaan Negeri Semarang, Balai Kota Jateng, Istana Negara, kantor Menteri Perekonomian, hingga kedutaan besar Jepang didatangi untuk menyampaikan aspirasi mereka. Tidak ada kata takut meskipun beberapa diantara mereka pernah dikriminalisasi dan dipenjarakan, dan walaupun banyak warga, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak yang mengalami intimidasi dari aparat, akibat gencarnya suara mereka menolak PLTU

Mungkin kalian berpikir bahwa warga Batang hanya berjuang untuk menyelamatkan desa mereka sendiri dari kerusakan lingkungan oleh PLTU, sehingga tidak perlu dibantu. Tapi kenyataannya tidak,  mereka saat ini sedang menyelamatkan kita. Ya kita yang sedang duduk manis ini.

Semua ini berawal dari era revolusi industri awal 1750 dimana penemuan mesin uap menyebabkan penggunaan energi dari batubara menjadi sangat masif dipergunakan dan menciptakan teknologi baru, mulai dari kereta uap, mesin pabrik, hingga pembangkit listrik batubara yang berkembang di berbagai belahan dunia termasuk di nusantara kala itu.

Tetapi pembakaran batubara dan bahan bakar fosil selama lebih dari satu abad ini telah meninggalkan jejak tebal CO2 hingga titik tertinggi sepanjang sejarah di atmosfer kita. Akibatnya dapat dirasakan saat ini, Bumi kita semakin panas suhunya, lapisan es Arktik meleleh, merubah pola iklim dunia, membuat cuaca semakin tidak menentu, musim tanam terganggu, petani yang semakin sulit mencari nafkah karena panen merugi, pasokan pangan yang berkurang, dan bencana banjir serta kekeringan yang semakin sering terjadi dimana-mana. 

Tidak seperti gempa bumi atau tsunami yang langsung terasa dampaknya,  perubahan iklim adalah bencana global yang sedang terjadi perlahan-lahan dan diam-diam. Jika kita terus tidak peduli dan mengabaikan ancaman bahaya besar ini, maka anak cucu kita, generasi masa depan harus berhadapan dengan resiko-resiko besar dari bencana iklim. Kecanduan  batubara disisi lain hanya akan memperparah situasi ini, termasuk kebijakan pemerintah Indonesia yang terus mengandalkan sektor pertambangan batubara tanpa memperdulikan masa depan hutan tropis Kalimantan yang sangat berharga, dan tanpa mengindahkan kerusakan lingkungan serta kesehatan masyarakat akibat debu kotor dari cerobong PLTU.

Dampak buruk PLTU semakin bertambah baru-baru ini oleh temuan penelitian yang mengungkapkan adanya jejak bahan kimia berbahaya merkuri pada spesies laut yang umum dikonsumsi akibat dari banyaknya operasi PLTU di Asia. Kamu tentu tidak akan membiarkan spesies laut tersebut berakhir di meja makanmu dan dikonsumsi oleh anak-anak dan keluargamu, bukan?

Pemerintah harus menyadari bahwa ini bukan lagi era Revolusi Industri dimana batubara adalah satu-satunya sumber energi. Telah banyak kemajuan teknologi yang dikembangkan dan tersedia untuk kita nikmati saat ini, termasuk teknologi untuk menghasilkan listrik. Mulai dari tenaga angin, surya, panas bumi, hingga gelombang laut, tersedia dan telah terbukti bekerja dengan baik menyuplai energi di berbagai negara.  Semua itu adalah contoh energi bersih yang tidak akan menghasilkan bencana seperti yang dilakukan energi kotor batubara. Jika kita ingin melindungi masa depan anak cucu kita dari dampak terparah perubahan iklim yang kita ciptakan sendiri, itulah solusi yang harusnya gencar kita kembangkan.

Dan di sana, sebuah desa kecil di kabupaten Batang, Jawa Tengah, mereka sedang berjuang untuk masa depan yang bersih bagi anak cucu kita, bagi generasi masa depan bangsa ini.