Sebelumnya tidak pernah terpikir dalam benak saya, bahwa memanasnya bumi, berubahnya iklim benar adanya dan itu sudah terjadi. Ini adalah ancaman terbesar yang dihadapi dalam sejarah panjang umat manusia. Saya merasakannya, Anda mengalaminya, dan ratusan juta orang lainnya yang tinggal di seluruh belahan bumi ini, juga terkena dampaknya.

Bayangkan saja, konsentrasi CO2 saat ini telah melampaui kisaran alaminya antara 180 – 300 ppm yang telah bertahan selama 650.000 tahun terakhir. Sedangkan temperatur permukaan bumi telah mengalami peningkatan sebesar 0,19 - 0,76 oC dari masa 1850-1899 hingga 2001-2005. Sebelas dari 12 tahun terpanas sejak 1850 terjadi pada periode 1995-2006 (kecuali tahun 1996). Kenaikan temperatur permukaan bumi tersebut menyebabkan pencairan es di kutub dan ekspansi termal air laut; keduanya berdampak pada kenaikan permukaan air laut. Sejak tahun 1961-2005, rata-rata kenaikan permukaan air laut secara global adalah 0,5- 1,8 mm per tahun. (Assessment Report ke-4, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Dapat Anda bayangkan bukan, di belahan bumi lain sangat sulit untuk mendapatkan air akibat bencana kekeringan, sementara di benua lainnya orang-orang berbondong-bondong mengungsi akibat naiknya permukaan air laut. 

Sebagai negara kepulauan, dengan 17.500 pulau dan garis pantai kedua terpanjang di dunia, yaitu 81.000 km, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pada tahun 2006 area persawahan di Indonesia yang terendam banjir mencapai 262.984 ha; 104.802 ha diantaranya gagal panen. Sedangkan pada tahun yang sama, area persawahan yang terkena kekeringan mencapai 262.592 ha dengan 63.568 ha diantaranya mengalami gagal panen. Pada Februari 2007, banjir besar yang melanda Jakarta menyebabkan 80 orang meninggal dan kerugian materiil sekitar USD 453 juta. Selain akibat berkurangnya daerah resapan air, buruknya sistem drainase, dan belum siapnya infrastruktur pengendalian banjir, banjir besar tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan. 

Tahukah Anda, bahwa masing-masing dari kita turut menyumbang terhadap meningkatnya dampak pemanasan global dan perubahan iklim? Aktivitas kita sehari-hari ternyata mengeluarkan emisi karbon, dari mulai penggunaan sumber listrik hingga pemakaian jenis transportasi. Mengapa bisa begitu? Karena sebagian besar sumber energi kita berasal dari bahan bakar fosil. Sementara penggunaan bahan bakar fosil dikategorikan ke dalam salah satu penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca. Setiap penggunaan energi konvensional dari bahan bakar fosil (mis. konsumsi listrik, gas, dan bensin) menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Kalau begitu, selamanya iklim kita ini tidak akan pernah seimbang? Bumi akan terus memanas, hingga akhirnya berujung kepada bencana. Masa depan seperti apa yang mau kita hantarkan kepada anak cucu kita?

Sebelum semuanya terlambat, saya, Anda, dan kita semuanya masih punya waktu dan masih ada cara lain untuk menghentikan semua itu, agar tidak terjadi di masa mendatang. Solusinya adalah melakukan penghematan energi (efisiensi energi) dan mulai beralih kepada pemanfaatan energi terbarukan.

Jika kita ingin masa depan dengan lingkungan yang lebih bersih dan aman, perubahan itu harus dimulai dari diri kita, sekarang. Matikan lampu, serta peralatan elektronik lainnya (kipas angin, AC) saat meninggalkan ruangan, ganti bola lampu pijar dengan lampu LED hemat energi, maksimalkan cahaya matahari sebagai penerangan di dalam rumah, serta gunakan mass rapid transport ketika bepergian.

Belum terlambat bukan untuk melakukan sesuatu demi menyelamatkan bumi kita yang hanya satu-satunya ini? Mulailah sekarang juga dan gabung dengan gerakan perubahan ini di berani.greenpeace.or.id