sawit

Dari buah dan biji kelapa sawit berubah menjadi sabun, deterjen, alat-alat kecantikan, biskuit dan mungkin bahan bakar yang Anda pakai – minyak sawit ada dimana-mana.  Dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan banyak minyak nabati lainnya, tidak terlalu banyak membutuhkan tempat dan memiliki kesempatan hidup lebih lama, tak heran kalau semakin banyak produk kesayangan Anda menggunakannya dalam skala yang semakin meningkat.

Tapi jika Anda membaca blog ini, maka tak diragukan lagi kalau Anda mengerti bahwa minyak sawit bukanlah komoditas yang ramah lingkungan. Kerusakan hutan, hilangnya habitat, sengketa tanah, pelanggaran hak asasi manusia dan kebakaran hutan: minyak sawit bermasalah dengan reputasinya. Ia adalah penyebab terbesar deforestasi di Indonesia and pertumbuhannya terkait dengan beberapa kasus kejahatan lingkungan terburuk di Asia Tenggara – tanyakan saja pada kawan-kawan kita di Singapura! Sekarang telah menjadi ancaman yang terus meningkat bagi kawasan lain seperti, Afrika, yang dipandang sebagai perbatasan baru bagi industri minyak sawit.

deforestasi hutan sumatra

Baru beberapa minggu lalu, kami menyingkap peran pedagang minyak sawit terbesar di dunia, Wilmar International, dalam pengrusakan ini. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini berada di tengah jaringan korporasi global – mulai dari perusahaan yang membuat produk-produk seperti Oreo, Clearasil dan shampoo Head & Shoulder – yang membuat kita tanpa disadari menjadi kaki tangan pengrusakan hutan.

Tapi untuk semua masalah yang ditimbulkannya, memboikot minyak sawit bukanlah sebuah solusi.

Minyak sawit ada dimana-mana. Saat kita mengunyah biskuit, menggunakan sabun mandi, mencuci pakaian, kita tidak bisa menghindar dari minyak sawit dan turunannya. Minyak sawit adalah juga bagian penting dari perekonomian Indonesia, memberikan penghasilan penting bagi masyarakat pedesaan dan memompakan uang ke negara Indonesia yang terus berkembang.

Tapi inilah kenyataannya, minyak sawit memiliki masalah mendasar yang berhubungan dengan pencitraannya, dalam kenyataannya banyak kasus dimana minyak sawit tidak diproduksi secara bertanggung jawab. Jawabannya pastinya tidak tergantung dari RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil), yang meskipun memiliki sebutan ‘sustainable’ (berkelanjutan) di namanya, tetap tidak dapat menjamin bisa memutuskan hubungan antara minyak sawit dan kerusakan hutan. Dan jawabannya juga bukan memboikot komoditas yang penting bagi Indonesia dan secara pasti tidak dapat dihindari dari produk-produk yang kita beli.

deforestasi

perkebunan sawit

Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Ini adalah 3 langkah awal yang bisa dilakukan:

 1. Desak perusahaan-perusahaan untuk menjalankanKebijakan Nol Deforestasi

 Greenpeace memiliki visi tentang produksi minyak sawit yang dihasilkan oleh komunitas lokal dan pemain industri yang melindungi hutan serta mengikuti praktek-praktek agrikultur yang bertanggung jawab serta menghormati hak-hak sosial ekonomi masyarakat adat. Ini bukan idealisme kosong. Ini bisa dilakukan dan bahkan, ini tengah dilakukan. Perusahaan-perusahan konsumen, pedagang dan produsen minyak sawit harus mengimplementasikan Kebijakan Nol Deforestasi untuk memastikan minyak sawit di rantai pasokan mereka bebas dari kerusakan hutan, konflik tanah dan pelanggaran hak asasi.

 2.  Bagikan pesan ini: minyak sawit baik itu ada. 

Greenpeace percaya minyak sawit dapat diproduksi secara bertanggung jawab. Produksi minyak sawit telah menjadi bagian dari penghidupan masyarakat lokal di Asia dan Afrika selama beberapa dekade dan dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi sementara di waktu yang bersamaan melindungi hutan dan ekosistem lainnya. Contoh nyata dari minyak sawit yang baik adalah apa yang dilakukan masyarakat desa Dosan di pulau Sumatera. Produsen minyak sawit seperti anggota Palm Oil Innovation Group telah menunjukan ada kasus bisnis untuk produksi minyak sawit yang tidak mengarah pada perusakan hutan atau pelanggaran hak asasi masyarakat lokal.

 3. Bergabung dengan kami sekarang!

Ini bukan terakhir kalinya Anda akan mendengar kabar dari kami. Perjalanan untuk melakukan transformasi dalam industri minyak sawit dan mengakhiri deforestasi masih jauh. Minyak sawit bisa dan harus menghasilkan kontribusi  nyata  bagi pertumbuhan negara-negara berkembang seperti Indonesia, dan bukan malah menghancurkan masa depan masyarakatnya, satwanya serta iklim global. Bergabung dalam menyelamatkan hutan firdaus Indonesia di www.protectparadise.org