Pemenang Kedua Lomba Blog Hutan Greenpeace Indonesia


 

Namaku Kalet. Sekarang aku sudah bersekolah di kelas 1 SD Negeri Tangap - Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Diantara teman-temanku di hulu (sebutan nama desaku yang jauh disana), hanya aku dan Tius saja yang bersekolah. Selainnya, belum dibolehkan oleh orangtuanya. Aku dan Tius beruntung, karena Ayah kami bekerja di Perusahaan di hilir (sebutan lokasi perusahaan yang ramai). Di tempat kerja itu, kami diberi rumah tinggal oleh perusahaan. Dari mess itu lah, kami bisa bersekolah ke SD yang tak jauh dari mess perusahaan. Sedangkan di hulu, tidak ada sekolah.

Setiap pagi aku ke sekolah, biasanya ikut mobil pick-up milik perusahaan, bersama anak-anak karyawan lainnya. Baju seragam sekolah kami sama, cuma beda di sepatu, tas sekolah dan uang jajan saja. Milik mereka bagus-bagus, tapi aku tetap semangat ke sekolah supaya bisa membaca, dan ketika besar nanti tidak asal tandatangan jika bertemu orang-orang pintar dari kota.

Saat pulang sekolah, aku biasa berjalan kaki. Kadang aku ikut om Nugie juga yang biasanya menjemput keponakannya yang satu kelas denganku.

Jika hari libur tiba, teman-temanku pergi ke kota. Ada juga yang berlibur ke Pulau Derawan dan Danau Labuan Cermin. Sementara aku, jika hari libur mudik ke hulu, ke desaku yang jauh di tengah hutan dan hanya bisa ditempuh dengan perahu. Di beberapa bagian saat perjalanan menuju desa, Ayah terpaksa menarik perahu karena banyaknya andras (jeram) dan arus deras. Kalau di Pulau Jawa, sungai seperti ini dibuat wisata dan bersenang-senang. Sedangkan kami, arung jeram seperti ini sudah menjadi bagian dari keseharian.

Ketika sore tiba aku berenang di sungai. Bermain sampan dan juga memanjat pohon bakau. Kera dan Bekantan masih sering dijumpai di tepi sungai ini. Begitu juga dengan buaya sungai. Sedangkan ikan dan udang, sudah sulit ditemukan.

Kata Om Nugie, aku ini si bocah Tiga Hutan. Karena aku tinggal di tiga hutan yang berbeda. Hutan Bakau, Hutan Hujan Tropis dan satu lagi Hutan Sawit. Untuk yang ketiga, adalah canda Om Nugie saja. Om Nugie, adalah orang perusahaan yang biasa bertanya banyak hal saat aku ikut di kendaraannya ketika aku pergi atau pulang sekolah. Dari Om Nugie juga, aku tahu kalau di Tulin Onsoi terdapat binatang gajah khas Pulau Kalimantan. Cerita Om Nugie itu, sama seperti cerita Akin (paman) yang mengatakan bahwa di Suku Dayak Agabag menyebut kawanan gajah itu dengan nama Nenek. Mereka, tidak pernah berburu Nenek karena miliki keyakinan bahwa si Nenek akan marah besar jika diusik. Kini gajah-gajah kecil itu sudah sulit untuk dijumpai, karena hutan tempat mereka tinggal telah berubah menjadi hutan kelapa sawit.

buah hutan

Selain bermain di hutan bakau, aku juga biasa bermain di hutan hujan tropis. Di hutan, aku masih biasa mencari buah-buahan yang tidak pernah aku lihat di televisi. Ada buah kelincauan, ada buah kapul, buah terap, buah lepyu dan buah kerantungan. Semua aku dapatkan dengan tidak mudah, karena harus beradu cepat dengan monyet dan babi.

obat-obatan alami

Di mess, ada juga tempat berobat. Namanya poliklinik. Berobat di sana tidak dipungut bayaran. Meski sudah ada tempat berobat, obat-obatan tradisional masih sering digunakan. Untuk memperolehnya juga tidak sulit. Misalnya, sarang semut dan gingseng. Kalau mencari sarang semut, hanya mencari di dahan-dahan pepohoan yang berada di pinggir-pinggir sungai. Sementara untuk gingseng, saya belum pernah ikut ayah mencarinya. Kata Ayah, tempatnya jauh dan sulit.

Di hutan, masih sering aku temukan binatang-binatang yang biasa diburu Ayah. Cukup dengan direbus lalu ditaburi garam, daging-daging binatang seperti Biawak, Rusa hingga Labi-labi (sejenis kura-kura) sudah bisa menjadi santapan kami. Terakhir, aku baru tahu kalau binatang-binatang itu ternyata dilindungi pemerintah. Aku tahu hal itu dari poster besar yang ada di mess Ayah bekerja. Di mess perusahaan itu banyak photo-photo hewan yang dilarang untuk ditangkap hingga diperjualbelikan. Akan tetapi, di poster-poster itu tidak ada gambar burung-burung yang biasa dipelihara om-om yang bekerja di perusahaan tersebut.

Selain bermain di sungai dan hutan, aku juga biasa diajak ke Jakau. Jakau adalah hutan luas yang ditumbuhi pohoh buah-buahan. Me, Akin dan Itti (Ayah, Paman dan Bibi), dulunya memiliki Jakau yang luas. Akan tetapi kebanyakan mereka sudah menjual Jakaunya ke perusahaan yang kemudian berubah menjadi kebun sawit.

Kata Om Nugie, hutan itu sangat penting. Hutan membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar yang jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim. Bahasa om Nugie, kadang diperjelas dengan contoh-contoh sederhana supaya aku bisa mengerti penjelasannya. Om Nugie juga pernah mengatakan bahwa jika hutan sudah tidak ada lagi, maka ribuan jenis tanaman dan binatang akan punah.

 hutan kalimantan

Aku bisa sedikit mengerti penjelasan Om Nugie. Seperti saat ini, burung-burung enggang yang biasanya sering aku lihat, kini sudah jarang sekali. Kera-kera berekor panjang juga tak mungkin ada di dahan kelapa sawit. Sementara suara si Beruk sudah tak ada lagi, karena takut oleh suara alat berat yang biasa membuat jalan hingga menarik kayu di tengah hutan.

Namaku Kalet. Kalet itu adalah nama sebuah pohon yang kata Ayah hanya ditemui di Pulau Kalimantan. Pohon ini katanya bagus dijadikan bahan pembuatan rumah. Selain bahannya yang kuat, Kalet juga terlihat indah. Mungkin itu maksud Ayah memberi aku nama Kalet. Supaya aku tumbuh menjadi anak yang kuat dan berparas yang indah.  Bukan hanya kuat dan indah, aku juga harus pintar, sehingga aku bisa menjaga hutan ini agar tetap ada. Sehingga aku tak perlu membayar hanya untuk bermain air seperti teman-temanku di kota, atau membayar sekian rupiah hanya untuk melihat kera bermain-main di pepohonan. Aku harus giat belajar agar bisa menjaga hutan ini tetap ada. Kalau kata Om Nugie, “protect paradise”, yang artinya jagalah hutan ini.

Tulisan dan foto oleh:

Iman Rabinata, Tarakan
Sebagai pemenang lomba blog untuk hutan #protectparadise