22 Maret 2014 − Saya dan beberapa rekan berangkat ke Riau untuk menjalankan aktivitas penting yang menjadi DNA bagi Greenpeace: Bearing Witness. Bearing Witness kali ini berkaitan dengan kampanye Protect Paradise, sebuah kampanye untuk menghentikan tangisan berkepanjangan dari hutan Sumatera. Sejak ditugaskan kantor (RAcK Digital) untuk membantu kampanye Protect Paradise, perlahan paradigma saya terhadap mekanisme berjalannya dunia berubah, menjadi lebih utuh. Dari hanya sekedar usaha menaikkan angka dalam petisi untuk menyelamatkan harimau dan hutan Sumatera, kemudian dibuat mual saat mendapat induksi dari Greenpeace mengenai keadaan hutan dan dunia saat ini, hingga merasa hampir putus asa, seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan, saat menjalani Bearing Witness ke Riau. Perjalanan ini adalah pengalaman yang mengoyak kotak nyaman saya dan mengirim saya pada realita akar dunia.

Kami mengunjungi tiga tempat dengan cerita yang amat berbeda. Desa Dosan, yang sering saya ceritakan melalui tulisan maupun secara langsung pada lingkungan saya adalah lokasi pertama yang kami kunjungi. Desa ini memiliki kearifan yang terpancar melalui Pak Dahlan, tokoh desa yang menyediakan tempat bermalam bagi tim kami yang berjumlah 14 orang. Desa Dosan adalah desa yang sudah memiliki komitmen untuk tidak lagi melakukan deforestasi, dan melakukan perkebunan sawit yang berkelanjutan. Mereka menerima asupan ilmu pengetahuan dari LSM setempat, Perkumpulan Elang, yang menekankan intensifikasi produksi, bukan ekstensifikasi. Di balik komitmen ini adalah kesadaran warga bahwa hutanlah yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan mereka, dan generasi penerus mereka.

Berkendara sekitar 5 jam dari Dosan, kami tiba di Teluk Meranti, di tepi Sungai Kampar. Kami bermalam di rumah Pak Daus, seorang warga lokal yang hingga kini bertahan untuk tidak menerima rayuan perusahaan yang membuka hutan di daerahnya. Berbeda dengan Desa Dosan, obrolan lepas makan malam kami dengan beberapa warga menimbulkan kegelisahan. “Kuncinya di pemerintah, kalau begini terus, sudah tidak ada harapan lagi di Teluk Meranti ini” ucapan Pak Dani malam itu mengunci mulut saya. Pak Dani adalah warga tertua yang berdiskusi dengan kami malam itu, di tahun 2009, saat Greenpeace melakukan kampanye di daerah itu, Pak Dani adalah salah satu warga lokal yang memberi dukungan penuh. Teluk Meranti dikelilingi konsesi milik beberapa perusahaan besar juga perusahaan menengah yang sering disebut toke atau cukong, yang sering melakukan penebangan ilegal.

Di depan rumah pak Daus ada dermaga kecil yang menjorok ke aliran Sungai Kampar. Berbaring di dermaga saat malam hari, memandang begitu banyak bintang di langit, mendengar suara debur air sungai dan sesekali cengkrama nelayan-nelayan yang sedang menangkap udang, adalah pengalaman yang membawa otak dan hati saya pada kondisi tenang yang belum pernah saya alami.

4.5 jam perjalanan darat dari Teluk Meranti, kami tiba di lokasi akhir perjalanan Bearing Witness, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Sama seperti di Teluk Meranti, di TNTN mata kami dimanjakan pemandangan luar biasa, namun telinga dan hati kami dilukai berita buruk yang tengah terjadi. Sejak diresmikan tahun 2004, hingga kini, luas TNTN telah berkurang hingga separuh, dari 83,000 hektar kini hanya sekitar 40,000 hektar, selebihnya telah berubah menjadi perkebunan sawit dan akasia. Kebanyakan lahan yang beralih fungsi ini dimiliki atau dioperasikan oleh warga setempat atau para toke, mereka mengaku ‘tidak tahu’ bahwa lahan yang mereka kelola adalah wilayah TNTN.

Erich Fromm, seorang tokoh di dunia psikologi, sosial dan filosofi, melalui buku “To Have or To Be?” menyatakan pemikirannya mengenai dua mode yang mendasari manusia dalam menandakan eksistensinya: having dan being. Mode having terfokus pada kepemilikan material, kekuasaan, agresi, dan merupakan basis dari keserakahan, iri, dan kekerasan. Sementara mode being berbasis cinta kasih, kepuasan dalam berbagi, dan aktivitas produktif. Having dan being bisa dipahami sebagai pilihan gaya hidup.

Saya pernah berpikir bahwa saya dinilai dari apa yang saya miliki, sehingga saya terpacu untuk memiliki sebanyak mungkin dan sebagus mungkin, dan inilah yang menyebabkan dunia tidak lagi seimbang. Berkat pemikiran saya saat itu, dan mungkin anda, produsen terus memacu produksi, pemasar menggenjot permintaan masyarakat, masyarakat terbuai. Kenyataan bahwa sumber daya alam terus dikuras, binatang dan tumbuhan punah, kutub mencair, dan bahwa pola iklim berubah, tidak sampai ke hati manusia.

Kenyataannya, kita dinilai dari apa yang kita lakukan, dan penilaian sesungguhnya bukan oleh manusia, melainkan oleh Sang Pencipta. Saya tidak bermimpi untuk bisa mengubah dunia menjadi lebih baik, saya bermimpi untuk mati sebagai orang yang tidak pernah berhenti menyerah mengusahakan perubahan, melakukan kebaikan.

***

Jadilah bagian dari perubahan dengan bergabung bersama ribuan orang yang berkomitmen melindungi hutan. Klik di sini.