Sebuah blog yang ditulis oleh Jennifer Morgan – 3 November 2017

Ada sebuah paradigma umum sepanjang sejarah yakni para pemimpin besar melakukan hal yang benar pada waktu yang tepat dengan keberanian dan integritas. Krisis iklim saat ini telah mendorong generasi kita ke hal tersebut. Hari ini, kita sedang menghadapi sebuah ancaman dan peluang yang belum kita lihat sebelumnya dan hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan aksi yang berani mengatasi perubahan iklim dan memberikan keamanan dan keadilan sejati kepada setiap orang.

Ini bukan tantangan yang mudah, tapi tantangan ini bisa dijawab dengan kepemimpinan bersama. Besarnya perubahan iklim tidak bisa dihadapi sendiri, tapi tantangan ini bisa diatasi secara kolektif. Kita tidak bisa mencegah bencana perubahan iklim bila hanya beberapa orang saja dari kita yang melakukan aksi. Ini membutuhkan sesuatu dari kita semua: dari masyarakat ke walikota, dari CEO korporasi hingga mereka yang berada di garis terdepan perubahan iklim, dan juga para pemimpin dunia.

alon udara melintasi Hamburg selama pertamuan G20 - 5 Juli 2017

Seiring dengan para politisi dan aktor non-pemerintahan tiba di Bonn untuk menghadiri perundingan iklim PBB (COP 23-Konferensi Para Pihak UNFCCC), kita akan mencari pemimpin iklim bersama untuk muncul. Dalam kurun waktu dua tahun sejak Perjanjian Iklim Paris memberikan sinyal untuk membatasi kenaikan suhu global maksimal 1,50C, para pemimpin dunia telah gagal untuk memenuhi janjinya.

Hal itu terlihat dalam Laporan Kesenjangan Emisi Program Lingkungan PBB 2017, yang menunjukkan janji-janji yang telah diucapkan banyak negara hanya akan memberikan sepertiga yang diperlukan untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. Aksi mengatasi perubahan iklim dari sektor swasta dan sub-nasional tidak cukup untuk menutup kesenjangan tersebut.

Buletin Gas Rumah Kaca Organisasi Meteorologi Dunia mengungkapkan bahwa level karbondioksida telah meningkat dengan kecepatan yang memecahkan rekor ke level baru pada tahun 2016. Mereka mengingatkan, kenaikan kadar CO2 dan gas rumah kaca lainnya yang cepat dapat menyebabkan perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sistem iklim.

Waktu hampir habis. Sejumlah bencana terkait iklim seperti badai, banjir, dan kekeringan akan terus memburuk bila kita gagal memanfaatkan momen kita. Lebih cepat kita bertindak, akan lebih baik. Pertemuan di Bonn harus bisa mengubah arus. Kepemimpinan bersama. Kita tidak bisa melakukannya sendiri.

Itu pesan yang diberikan para pemimpin G7 dan G20 untuk Presiden AS Donald Trump setelah dia mengumumkan AS akan mundur dari Perjanjian Paris. G7 dan G20 tetap kokoh dan meneguhkan kembali komitmennya terhadap Perjanjian Paris, dengan tidak mempedulikan Trump.

Relawan untuk Perjanjian Paris di COP 22 di Marrakesh – 18 November 2016

Delegasi besar non-federal AS akan hadir di perundingan iklim minggu depan. Mereka akan menceritakan hal berbeda bahwa AS sebenarnya masih berkomitmen terhadap aksi mengatasi perubahan iklim, memperlihatkan sebuah kepemimpinan yang kita dengar dalam sejarah: kekuatan untuk membela yang benar. Dan, dua anggota dari Perwakilan Kepulauan Pasifik akan berada di Bonn untuk meminta para pemimpin dunia menghargai komitmen Paris mereka.

Dan mereka tidak sendiri. Di Norwegia, negara maju pertama yang meratifikasi Perjanjian Paris, masyarakat menyeret Pemerintah Norwedia ke pengadilan terkait pemboran minyak bumi di Arktik, mengungkapkan kemunafikan iklimnya. Tuntutan ini adalah bagian dari gerakan publik di global yang menuntut pemerintah dan para pencemar besar untuk memperhitungkan laju perubahan iklim yang cepat melampaui kemampuan kita beradaptasi.

Kepemimpinan itu perlu keberanian untuk berkata "cukup ya cukup".

Tetapi mereka membutuhkan dukungan. Jerman sebagai tuan rumah perundingan iklim PBB bersama dengan Fiji yang rentan terhadap perubahan iklim, punya sebuah kewajiban untuk memimpin jalan. Jerman belum juga mempunyai rencana untuk mengurangi mesin pembakaran atau batubara, seperti negara Eropa lainnya yakni Italia, Perancis, dan Inggris. Ini bukanlah kepemimpinan bersama.

Kami memanggil para pemimpin dunia untuk bergerak maju, tidak hanya di Bonn, tetapi dalam beberapa hari, minggu, bulan ke depan untuk mengatakan bahwa mereka akan berdiri di titik sejarah yang tepat, di mana mereka akan diingat akan keputusan yang mereka ambil saat ini.

Mereka akan melakukan itu karena momennya sekarang ini. Ini adalah saatnya.

Jika tidak, sejarah akan menghukum mereka dengan kejam.

Jennifer Morgan adalah Direktur Eksekutif Greenpeace International.