Greenpeace baru saja meluncurkan laporan global “Dirty Laundry” untuk menyoroti pencemaran industri pada Sungai Yangtze dan Delta Pearl di Cina. Hasil investigasi selama kurang lebih setahun menyingkap hubungan antara beberapa merek pakaian olahraga ternama di dunia (Nike, Adidas dan beberapa lainnya) melakukan praktek pembuangan limbah kimia berbahaya ke Sungai Yangtze dan Delta Pearl di Cina oleh dua pabrik tekstil; Youngor Textile City Complex dan Well Dyeing Factory Limited.

Dari hasil investigasi berupa sampel limbah cair kedua pabrik tersebut ditemukan kandungan bahan kimia berbahaya yang persisten (sulit terurai), bioakumulatif (terakumulasi dalam jaringan makhluk hidup) yang dapat mengganggu sistem hormon yang dalam jangka panjang dapat mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Beberapa bahan kimia yang ditemukan dalam sampel tersebut adalah alkyphenols (termasuk nonyphenol), perfluorinated chemicals (PFCs) dan Perfluorooctane sulphorate (PFSs).

Sungai Yangtze secara merupakan pusat dari aktivitas industri negara Cina (menyumbang 40% GDP Cina) dan juga sumber air minum untuk 20 juta orang di Shanghai dan 15 kota lainnya. Temuan bahan kimia berbahaya yang dibuang ke dalam Sungai Yangtze tentunya sangat mengkhawatirkan. Pada tahun 2008 setidaknya 15% sungai di Cina tidak memenuhi standard untuk menjadi sumber air minum.  Pada tahun 2010, investigasi Greenpeace bahkan menemukan kandungan bahan kimia berbahaya serupa dalam sampel tubuh ikan yang biasa disantap dari sungai Yangtze.


Temuan investigasi Greenpeace merupakan suatu potret dari jenis bahan kimia berbahaya yang dibuang oleh industri tekstil kedalam air di seluruh dunia dan merupakan indikasi dari suatu masalah yang jauh lebih luas dan besar yang mempunyai konsekuensi serius dalam jangka panjang bagi manusia dan lingkungan.

Apakah Sungai Citarum mengalami hal serupa?

Salah satu sungai di Indonesia yang serupa fungsinya dengan Sungai Yangtze adalah sungai Citarum. Sungai Citarum merupakan pusat aktivitas industri (20% total produksi  industri) Indonesia dan menyediakan 80% kebutuhan air minum masyarakat Jakarta dan sekitarnya.Citarum mendukung kehidupan lebih dari 28 juta orang. Predikat sungai terkotor di dunia yang didapat Citarum pada 2007 dari beberapa media internasional terkonfirmasi oleh hasil polling yang Greenpeace lakukan bersama LP3ES. Dari 79,8% masyarakat di DAS Citarum percaya bahwa polusi sungai secara mayoritas disebabkan oleh limbah industri dan 81% masyarakat setuju bahwa industri harus berhenti membuang limbah bahan beracunnya ke sungai.

Dengan tekanan industrialisasi di sepanjang Citarum selama lebih dari 30 tahun, penelitian Institute of Ecology Universitas Padjadjaran memberikan catatan bahwa sedimen sungai makin ke hilir makin beracun dan telah terjadi akumulasi berbagai logam berat pada ikan keramba jaring apung dan juga ikan liar. Informasi dari pemerintah dan penelitian yang masih terbatas masih menyembunyikan banyak fakta mengenai pencemaran di Sungai Citarum.

Sudah saatnya kita mulai bertanya, apa saja bahan berbahaya yang mencemari Sungai Citarum kita yang tercinta?