Anda pasti sering menyaksikan hasil kerja keras humas perusahaan penghancur hutan Asia Pulp and Paper (APP) berupa iklan TV, radio, billboard atau dalam bentuk lainnya yang berupaya meyakinkan masyarakat dunia bahwa perusahaan ini menjaga hutan, keanekaragaman hayati, dan membantu perekonomian rakyat Indonesia.

Namun apakah itu semua benar adanya? Yang mereka lakukan selama ini hanyalah upaya untuk merekayasa dan menutupi penghancuran hutan yang telah mereka lakukan. Hutan Indonesia yang menjadi tempat tinggal harimau Sumatera dan orangutan, serta tempat bergantung hidup bagi masyarakat lokal dibabat habis untuk mensuplai pabrik bubur kertas (pulp). Beberapa waktu lalu saya menulis blog tentang terungkapnya rencana penghancuran hutan oleh APP di artikel yang mereka buat sendiri. Analisa kami hanya satu dari sekian banyak bukti yang menunjukkan bahwa sepintar apa pun mereka bersilat lidah, kebenaran pasti akan terungkap. Ibarat upaya mereka membungkus kotoran serapat mungkin, baunya pasti akan tercium juga!

Sebuah artikel menarik berjudul “Apakah Menebangi Hutan Hujan untuk Kertas dan Bubur Kayu Bantu Kurangi Kemiskinan di Indonesia?” yang di tulis oleh Rhett A. Butler di situs www.mongabay.com  membuka secara gamblang hal-hal yang dikatakan oleh  APP dibandingkan dengan  fakta-fakta yang dikeluarkan beberapa organisasi lingkungan  yang selama ini memperhatikan hutan di Sumatra. 

Apakah APP benar-benar menolong yang miskin atau mereka mencoba menolong diri sendiri, ketika mereka dengan giat menghancurkan hutan-hutan alam yang kaya akan tumbuhan obat-obatan, tempat tinggal harimau dan orangutan, tempat di mana masyarakat bisa mengambil buah dan sayuran untuk keberlangsungan kehidupan mereka? Apakah menghancurkan hutan sumber penghidupan masyarakat tanpa henti bisa disebut  sebagai upaya mengatasi kemiskinan? 

Para pekerja yang bekerja di perusahaan penghancur hutan tersebut lebih banyak berasal dari luar daerah setempat.  Masyarakat setempat tidak dapat lagi mencari kayu untuk kebutuhan skala kecil, dan lingkungan mengalami penguranganwilayah peresapan air yang berguna  untuk mencegah banjir. Masyarakat yang dahulu kaya akan segala hasil bumi sekarang berada jauh dari kata sejahtera. Sekarang semuanya  diukur dengan uang, bahkan untuk kebutuhan sayuran yang dahulu bisa didapatkan masyarakat dengan Cuma-cuma, kini mereka harus membeli.

Kepentingan Siapa?

Mereka bilang moratorium konversi hutan akan menggangu investasi Indonesia secara signifikan dan mereka bilang moratorium konversi hutan akan membuat puluhan juta masyarakat kehilangan pekerjaan. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, APP beberapa tahun lalu menerima talangan dana dari pemerintah yang notabene merupakan uang rakyat jutaan dolar, dan mereka tidak membayar utangnya yang hampir sebesar 14 milyar USD (atau setara dengan Rp. 126 triliun) di tahun 2002-2003. Secara kasar, separuh dari hutang tersebut kini telah ditalangi sesuai dengan kondisi yang mereka “inginkan”.  Bagaimana dengan pajak perusahaan? Apakah mereka membayar pajak dengan bijak untuk negara? Sangat jelas APP dan beberapa anak perusahaan di bawahnya tercatat sebagai perusahaan yang nakal dalam pembayaran pajak.

Pemerintah dan rakyat Indonesia seharusnya lebih  kritis dalam melihat apakah keberadaan perusahaan selama ini menguntungkan atau merugikan negara dan masyarakat Indonesia. Apakah selama ini perusahaan kertas tersebut memberikan keuntungan yang seimbang dengan dampak kehancuran yang  mereka lakukan? Faktanya jelas: Tidak

Bulan lalu GAR (Golden Agri Resourses) telah melakukan langkah baik dengan menyatakan komitmen mereka akan menghentikan pembukaan hutan alam dan lahan Gambut. Mengapa APP yang berada di satu Group besar "SINAR MAS" tidak  melakukan hal yang sama? 

-- Zulfahmi, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara