Kita tahu pohon adalah kekayaan keanekaragaman hayati dan kita tahu pohon menyediakan jasa ekosistem yang penting, seperti mengatur aliran air dan mempengaruhi pola cuaca. Salah satu jasa ekosistem yang sering didiskusikan saat ini adalah peran hutan dalam membantu mengatur jumlah gas rumah kaca, karbon dioksida di atmosfir. Sebuah analisa baru yang dimuat dalam sebuah jurnal ilmiah Nature, menjelaskan bahwa sebuah pohon dewasa yang besar memiliki peranan penting dalam mempengaruhi pola cuaca.

Hutan menyimpan sejumlah besar karbon yang juga berkontribusi pada perubahan iklim. Hutan menyimpan hampir 300 miliar ton karbon (biomass) – kira-kira 30 kali jumlah emisi tahunan yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil[1]. Tapi ketika hutan dihancurkan, karbon ini dilepaskan ke atmosfir.

Dulu diduga hanya hutan yang masih muda saja yang menyerap karbon dari atmosfir di saat hutan ini berkembang, dan hutan yang sudah tua (atau disebut juga hutan primer) hanya menyimpan karbon ini. Namun, beberapa penelitian baru-baru ini telah menunjukan bahwa hutan tua yang masih asli juga menyerap karbon dari atmosfir[2]. Penelitian baru ini juga dapat menjelaskan bagian hutan yang sudah tua terus menyerap karbon dari atmosfir.

Para peneliti telah menemukan bahwa penyerapan karbon dari pohon (yang diukur dengan tingkat pertumbuhan) terus meningkat dengan ukuran mereka karena luas daun keseluruhan meningkat saat mereka bertumbuh. Hal ini memungkinkan pohon besar menyerap lebih banyak karbon dari atmosfir. Dengan demikian, pohon-pohon yang paling tua di hutan mengambil karbon paling banyak dari atmosfir. Pohon-pohon yang paling tua dapat ditemukan di hutan-hutan kuno dan tua. Yang terpenting, pohon-pohon tua juga lebih berharga bagi keanekaragaman hayati dibandingkan pohon-pohon muda karena mereka membantu lebih banyak spesies. Contohnya, rongga pohon dan dahan menjadi habitat bagi burung untuk bersarang.

Para penulis memperingatkan bahwa dinamika hutan sangat kompleks, pohon-pohon besar memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dibandingkan pohon-pohon muda dan jumlah pohon di area tertentu bisa jadi lebih tinggi di hutan muda. Faktor-faktor ini dapat mengimbangi peningkatan pertumbuhan pohon dewasa di hutan. Dengan demikian jelaslah bahwa pohon besar yang dewasa adalah komponen yang sangat penting di hutan tua, dalam hal keanekaragaman hayati dan penyerapan serta penyimpanan karbon.

Tebang pilih di hutan, biasanya menargetkan pohon-pohon besar dan banyak deforestasi terjadi di hutan-hutan alam yang sudah sangat tua, yang banyak terdapat pohon-pohon besar yang menyimpan dan menyerap banyak karbon.

Penelitian baru ini menekankan kerugian ganda dari penebangan pohon khususnya pohon-pohon dewasa: pembuangan karbon ke atmosfir yang berkontribusi pada perubahan iklim, dan juga menghancurkan tempat penampungan yang dapat mengambil hasil emisi karbon dari atmosfir yang disebabkan oleh manusia. Itulah mengapa Greenpeace berkampanye untuk nol deforestasi.

  1. Biomass hutan global diperkirakan mengandung 289 Gt C (UN FAO Global Forest Resource Assessment, 2010), sementara emisi fosil diperkirakan pada  9.5 Gt/th untuk 2011 (IPCC Working Group 1, 2013).
  2. Stephens et al. 2007. Science 316: 1732-1735; Luyssaert et al. 2008. Nature 455: 213-215; Lewis 2009. Nature 457: 1003-1007.