Sebuah Kisah dari Pulau Togean

Pulau Togian di Sulawesi Tengah dikenal sebagai salah satu lokasi pusat wisata menyelam yang cukup terkenal di Indonesia. Pulau yang indah ini menjadi saksi nyata perubahan iklim. 

Yasin Labente, kepala adat di desa Bankagi menjelaskan kepada kami betapa kehidupan masyarakat Bankagi telah berubah selama 5-10 tahun terakhir ini. “Apakah ini yang disebut dengan perubahan iklim?”, tanyanya. Bisa dibayangkan hasil tangkapan para nelayan Bankagi berkurang secara signifikan, yang dulunya 0,5 ton untuk sekali berlayar saat ini  turun menjadi 100 kg. “Apakah ini karena meningkatnya suhu air laut? Atau karena siklus angin dan cuaca yang tidak menentu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Tidak cukup hanya itu, mereka juga mengalami kesulitan dalam memprediksi cuaca dan pola angin, sementara para nelayan sangat menggantungkan jadwal melaut mereka pada alam. Mereka tidak lagi bisa meneruskan ilmu nenek moyang yang bisa mendeteksi kapan waktu tangkap ikan yang paling tepat sepanjang tahun. 

tetua adat orang togian

nelayan togian

Yang menjadi fakta ironis adalah mereka termasuk  dari 25% masyarakat Indonesia yang belum menikmati akses listrik. Sampai saat ini  secara swadaya masyarakat Bankagi membeli diesel dan mengumpulkan uang untuk membeli solar guna menerangi satu sampai dua bola lampu di rumah mereka saat malam hari. Tapi ternyata usaha swadaya itupun mengalami kendala, selain harga solar yang semakin mahal, tidak dipungkiri bahwa solarpun menjadi bahan bakar langka di daerah mereka.

Fakta ini membuat menyimpulkan bahwa mereka yang hidup dengan jejak karbon sangat minimal justru terkena dampak paling parah dari perubahan iklim. Tidak hanya berpengaruh terhadap pendapatan, tetapi juga kenaikan permukaan air laut  sedikit demi sedikit mulai menenggelamkan rumah-rumah mereka dari tahun ke tahun.

Pak Yasin Labente dan masyarakat Bankagi tidak sendirian, jutaan masyarakat pesisir di Indonesia juga mengalami kesulitan yang sama sebagai ancaman pemanasan global. Mereka adalah bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi mitos, dan betapa rapuhnya  kita sebagai bangsa  menghadapi ancaman global ini.

Energi adalah penyumbang terbesar kedua dari perubahan iklim. Ketergantungan Indonesia yang sangat besar terhadap energi fosil, khususnya batubara sebagai energi terkotor di dunia  musti dihentikan. Harus berapa banyak cerita lagi yang  kita dengar dari orang-orang yang menjadi korban perubahan iklim ini? Apabila kita tidak bergerak sekarang untuk melakukan perubahan, maka jutaan masyarakat Indonesia bersama dengan jutaan lain di muka bumi ini akan menjadi korban langsung dan terenggut kehidupannya.

Kita harus segera membuat perubahan, Energi terbarukan sekarang!

Penduduk Togian

Keindahan Togian yang segera hilang