Apa jadinya jika keluarga dan anak-anakmu harus menghirup udara yang bercampur

          debu batubara setiap saat?

          Bagaimana kamu akan bertahan jika kamu kehilangan orang-orang yang kamu

          sayangi karena bencana topan akibat perubahan iklim semakin sering terjadi?

Menjadi saksi mata dan melihat apa yang terjadi langsung di garis depan bukanlah persoalan mudah, apalagi jika yang kamu saksikan adalah rentetan bencana dan kerusakan akibat ketergantungan yang begitu tinggi terhadap batubara, batu hitam bahan bakar paling kotor di planet ini. Berbagai dampak dari kecanduan batubara mengancam bukan hanya bagi satwa dan pepohonan di tanahnya namun juga menjadi ancaman kehancuran bagi masyarakat adat dan penduduk lokal yang bermukim disekitar pertambangan dan PLTU Batubara, bencana yang datang perlahan, pasti, dan tidak bisa dipulihkan. Karena itulah  menjadi tanggung jawab kami dan juga kita semua, untuk menyuarakan permasalahan yang tidak hanya mengancam kehidupan lokal, tapi akan berdampak pada semua manusia yang bernaung di bawah langit Bumi ini. 

Seorang penggembala menatap cerobong sebuah pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya di Jepara, Jawa Tengah. Batubara adalah penyebab utama perubahan iklim, dan kecanduan kita terhadap energi kotor ini hanya akan memperburuk kondisi iklim global dan masa depan dunia.

            Melalui sebuah pameran foto di Galeri Antara, Jakarta, yang dibuka secara resmi pada Selasa malam, 29 Januari kemarin, Greenpeace mencoba menggaungkan pesan penting tentang perubahan iklim. Mengambil tajuk : Perubahan Iklim: Tantangan dan Solusinya Bagi Asia Tenggara, acara ini memamerkan hasil tangkapan mata dari tiga fotografer ternama kelas dunia dari Asia Tenggara, yaitu Kemal Jufri (Indonesia), Athit Perawongmetha (Thailand) dan  Veejay Villafranca (Filipina).

           Longgena Ginting, Pimpinan Greenpeace Indonesia dalam sambutannya mengingatkan kepada sekitar 150 orang pengunjung yang hadir, akan bahaya dari kecanduan Indonesia terhadap batubara. Bencana banjir, cuaca yang tidak menentu, dan kekeringan adalah harga mahal yang harus kita bayar jika kita tidak segera memulai perubahan dan menatap kepada solusi energi bersih terbarukan. Sudah waktunya kita semua memikirkan secara serius penggunaan energi terbarukan. Rangkaian foto yang dipamerkan menampilkan berbagai kisah dari lokasi penambangan dan pembakaran batubara di berbagai daerah di tanah air. Ini adalah contoh nyata dari bencana iklim akibat penggunaan batubara. Namun juga ada solusi nyata yang berhasil dibingkai dalam pameran ini, solusi nyata pemanfaatan energi terbarukan yang lebih bersih, dan aman bagi masa depan kita, dan solusi inilah yang perlu kita dorong bersama.

 

            Kami mengundang kamu semua untuk hadir dalam pameran foto ini dan menjadi saksi bagi ancaman yang ditimbulkan bahan bakar fossil dan batu bara.

Jadilah suara bagi bumi dan bagi  jutaan masyakat Indonesia   yang menjadi korban  dari kehancuran yang disebabkan pertambangan dan PLTU batubara

Pesan penting yang dituturkan melalui foto-foto yang dipamerkan akan membawa kita mengerti akan sebuah fakta, dan pilihan ada di tangan kita: terus kecanduan atau melawan batubara.

Kita bisa berdiri bersama dan menyampaikan pesan yang sama, cukup untuk batubara.

Info Pameran Foto Greenpeace Indonesia bersama Kemal Jufri dan Galeri Foto Jurnalistik Antara

Perubahan Iklim :Tantangan dan Solusinya di Asia Tenggara

Buka setiap hari dari pukul : 09.00 – 18.00 WIB

Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jalan PasarBaru no. 59