Sepekan sudah kami di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Melengkapi tiga pekan bersama tim Mata Harimau menjalani petualangan ini. Sebuah perjalanan penting untuk menyelamatkan hutan alam Sumatera yang masih tersisa. Menjadi saksi atas keserakahan perusahaan yang menghabisi rimba belantara demi kepentingan ekonomi belaka. Tapi kepentingan ekonomi yang dirasakan oleh siapa?

Tim Mata Harimau melalui hutan yang telah hancur untuk perkebunan di sekitar hutan bukit tigapuluh © Ulet Ifansasti/Greenpeace

Begitu banyak bukti yang sudah kami temukan. Berbagai perusahaan yang bernaung di bawah bendera Asia Pulp and Paper (APP) melanggar kodrat keseimbangan alam. Dengan serakah, perusahaan mengupas belantara pusaka.  Merampas tanah leluhur yang menjadi hak ulayat kaum adat dan warga tempatan. Hutan yang menjadi rumah bagi satwa langka seperti harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) mereka rusak. Keseimbangan alam menjadi timpang. Hak spesies payung ini dirampas. Sang datuk marah, masuk kampung dan memangsa yang ada di sana. Tak perduli apa, manusia siapa pun mereka mangsa.

Pada suatu kesempatan pemerintah propinsi Jambi mengakui bahwa konflik satwa dan manusia ini telah menyebabkan korban jiwa sebanyak sembilan orang warga yang meninggal akibat diterkam harimau sumatera pada periode 2009. Celakanya, beberapa konflik itu pernah terjadi di sekitar wilayah konsesi HTI PT Wira Karya Sakti (WKS) yang merupakan anak perusahaan APP. Konversi kawasan hutan alam di Kabupaten Muara Jambi oleh PT WKS tersebut telah menyebabkan berkurangnya habitat harimau Sumatera hingga memicu konflik dengan manusia.

Berbagai fakta miris pengrusakan rimba ini harus kami bagi. Harus kami ceritakan dan tunjukkan dengan masayarakat Kota Jambi. Agar semua tahu dan tergugah kesadaran kolektifnya untuk menjadi Mata Harimau. Menjadi mata yang mengawasi dan mencegah segala bentuk kerusakan hutan alam dan lingkungan. Demi keberlangsungan bumi yang lebih ramah untuk anak cucu kita nanti.

Niat itu kami wujudkan pada Sabtu, (08/10). Kami, tim Mata Harimau, menunggang motor menuju bundaran air mancur, tepat di depan kantor Gubernur Jambi. Penuh, kawasan public area di Kota Jambi itu dijubeli warga. Keramaian yang menyambut kami ini menghapus lelah setelah dua pekan menjelajah belantara rumah harimau. Komunitas Tonggak Taman Budaya Jambi dengan aksi teatrikal berjudul Balada 

Anak Sialang menjadi persembahan selamat datang untuk kami. Pertunjukan seni ini menceritakan orang hutan yang sudah hilang akibat hutan sebagai rumahnya habis dibabat perusahaan.

Aksi Teater yang menceritakan kehancuran hutan dan satwa yang hidup di dalamnya
© Ulet Ifansasti/Greenpeace

Di luar dugaan, warga Jambi begitu antusias menyambut kehadiran kami. Warga��menyemut. Berbagai elemen masyarakat turut menyambut kedatangan tim Mata Harimau, mulai dari Komunitas Ontel, Bike to Work, Mapala, Sispala, Silma, Jambi Gitar Community, Teater. Mereka datang ke sana untuk mendapatkan cerita langsung dari Mata Harimau tentang kerusakan hutan yang menjadi rumah harimau. Warga juga disuguhkan panggung hiburan dan pameran foto yang memperlihatkan keserakahan perusahaan membabat hutan. Tidak hanya harimau yang terancam tapi juga Orang Rimba, penduduk asli Provinsi Jambi.

Asyik, Harimau Gowes. Keesokan harinya, Minggu, (09/10) sekitar pukul 07.00 WIB, tepat di depan bundaran air mancur kantor Gubernur Jambi, kami bersepeda. Membaur bersama masyarakat Kota Jambi di pagi hari yang menyegarkan ini. Individu dan komunitas pengayuh pedal kereta angin di Kota Jambi bergabung bersama kami. Terdengar di telinga saya mereka berseru,"Yuk, bersepeda dengan abang abang macan."

Lima sepeda tandem Mata Harimau berada di barisan depan. Saya tandem dengan Arif Munandar, sang punggawa Walhi Jambi. Di kawal pak polisi, kami bersepeda sejauh tujuh kilometer mengelilingi Kota Jambi. Senyum dan sapa warga Jambi menjadi penambah semangat saya dan teman teman lainnya mengayuh sepeda hingga kembali ke bundaran air mancur. Tiada dera lelah di tubuh ini. Berbagai kegiatan kami ikuti mulai dari menemani anak anak yang berkreasi membuat Kartu Pos untuk Presiden, hingga ikut menandatangani lembar dukungan untuk menyelamatkan rimba rumah harimau.

Tim Mata Harimau bersama masyarakat Jambi berSepeda santai sekaligus berkampanye penyelamatan hutan © Ulet Ifansasti/Greenpeace

Miris, sesak dada ini ketika mata menatap bingkai foto kehidupan Orang Rimba yang terekam kamera. Mereka tersisih di tanah moyangnya sendiri. Program Manager Komunikasi, Informasi dan Pembelajaran Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Rudi Syaf menjelaskan pemerintahlah yang paling bertanggungjawab atas masalah ini. Dengan cara sistematis negara telah melakukan etnosida terhadap komunitas Orang Rimba yang merupakan penduduk asli Jambi. Sistematis, karena pemerintah tidak pernah mengakui status penduduk Orang Rimba. Mereka ini tidak pernah mendapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) apalagi selembar akta kelahiran. "Tanpa pengakuan atas status kependudukan ini pemerintah dengan mudahnya merebut hutan yang merupakan wilayah adat Orang Rimba untuk dikonversi menjadi HTI, perkebunan dan permukiman," kata Rudi.

 

Saya menjadi mahfum atas penjelasan pak Rudi. Tanpa hutan, jati diri Orang Rimba semakin hilang. Orang Rimba pun kemudian secara perlahan meninggalkan identitas dirinya berubah menjadi warga mayoritas hanya untuk mendapatkan status kependudukan tadi. Pengrusakan hutan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek ini tidak hanya mengancam jati diri Orang Rimba. Tapi juga mengancam habitat harimau sumatra dan satwa langka lainnya.

Ditengah keramaian pengunjung pameran photo yang dilakukan oleh Walhi Jambi, Warsi dan Greenpeace, selentingan pertanyaan saya dengar di lontarkan oleh seorang jurnalis  RRI Jambi  kepada juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia Zulfahmi.  Apakah Orang Rimba harus hidup seperti yang anda saksikan dilapangan? apakah mereka tidak boleh maju sederjat dengan warga negara Indonesia lainya..? kira-kira seperti itu saya menyimpulkan pertanyaan dari sang jurnalis.  Sejenak saya lihat Zulfahmi menghela nafas dan kemudian menjawab, Orang Rimba harus mendapat hak yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya, mereka harus mendapat pelayanan pendidikan, kesehatan, jaminan keamanan dan lainya  dari  Negara. Tapi kami menolak mereka dicabut dari akar budaya mereka, Rimba (Hutan) adalah entitas bagi orang Rimba, tanpa Rimba mereka bukan lagi orang Rimba. Mereka harus maju sama dengan suku-suku lainya di Indonesia, seperti kemajuan  yang dialami oleh suku Jawa, Minang, Batak, Melayu, bugis dan lainnya, kemajuan tidak mencabut mereka dari akar budaya. Karena itu pemerintah harus segera bertindak menghentikan penghancuran hutan agar Orang Rimba tetap ada dalam kebihinakaan Indonesia, pungkas Zulfahmi

Saya menjadi tahu, Orang Rimba dan harimau memiliki hubungan batin yang sangat erat. Orang Rimba menganggap harimau sebagai salah satu dewanya selain beruang dan gajah. Ketika pemerintah memberi hak kepada perusahaan untuk membabat hutan alam, kedua entitas alam ini sangat terancam keberadaannya. Pemerintah, tolong lihat dan rasakan penderitaan Orang Rimba saudara kami. Mereka juga rakyatmu, yang berhak untuk hidup dan melestarikan jati diri budayanya di hutan yang telah menjaga keluarga mereka turun temurun.