Joko Arif - Juru Kampanye Hutan
Joko Arif - Juru Kampanye Hutan

Berdasarkan studi ADB yang diterbitkan awal Mei lalu, kawasan Asia Tenggara memproduksi sekitar 12% emisi gas rumah kaca dari total produksi gas rumah kaca di seluruh dunia pada tahun 2008. Dengan trend pertumbuhan ekonomi yang positif dan populasi penduduk yang besar, maka diperkirakan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Asia Tenggara akan semakin meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Indonesia sebagai negara dengan wilayah terluas dan memiliki populasi penduduk terpadat di Asia Tenggara merupakan kontributor terbesar gas rumah kaca di kawasan ini, dengan kontribusi lebih dari 58%. Selain sebagai penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, Indonesia juga menempatkan diri sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak-dampak dari perubahan iklim, tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga di dunia. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim telah terjadi hampir di seluruh wilayah negeri ini. Mulai dari banjir, kekeringan, tanah longsor, badai tropis, sampai meningkatnya prevalensi penyakit-penyakit tropis yang yang terkait dengan perubahan iklim, seperti malaria, demam berdarah dan diare .

Paradi Debat Calon Presiden di Jogjakarta
Paradi Debat Calon Presiden di Jogjakarta

Menurut data dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, sepanjang tahun 2008 saja, tidak ada satu bulan yang bebas dari bencana terkait perubahan iklim di negeri ini. Berbagai bencana yang terkait dengan perubahan iklim datang silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, menewaskan ratusan korban jiwa, dan menyebabkan kerugian finansial triliunan rupiah.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Indonesia, datang dari dua sektor utama, yaitu sektor kehutanan dan sektor energi. Sektor kehutanan berkontribusi sebesar 75% dari total emisi gas rumah kaca yang diproduksi Indonesia, sementara sektor energi dan transportasi menyumbang 25% sisanya.

Tahun 2007 lalu, Indonesia bahkan mencatatkan rekor di Guinnes Book of Records sebagai negara dengan laju penggundulan hutan tercepat didunia, dengan kecepatan penggundulan hutan sebesar 1,8 Juta hektar pertahun, atau setara dengan luas 300 lapangan bola dalam satu jam.

Kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia terutama sekali diakibatkan oleh pembukaan hutan alam dan lahan gambut secara besar-besaran untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit, industri pulp and paper, dan pertambangan yang beroperasi di areal hutan lindung.

Komitmen politik dibutuhkan untuk melindungi hutan Indonesia

Besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh Indonesia akibat berbagai bencana perubahan iklim yang akan semakin intensif ini seharusnya menjadikan isu penyelamatan hutan sebagai salah satu isu penting yang harus segera ditangani secara serius oleh pemerintah. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk melindungi hutan Indonesia adalah dengan menerapkan moratorium penebangan hutan untuk membantu mengerem emisi gas rumahkaca Indonesia, menjaga kekayaan keanekaragaman hayati dan melindungi kehidupan jutaan penduduk yang bergantung pada hutan di seluruh Indonesia.

Di dalam berbagai kesempatan, pemerintah selalu menyampaikan janji-janji manis untuk melindungi hutan Indonesia. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah malah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang merusak hutan alam dan lahan gambut, yang kaya akan karbon. Ditengah-tengah kurangnya kesadaran masyarakat banyak akan pentingnya isu penyelamatan hutan, lemahnya implementasi hukum dan mandegnya mekanisme demokrasi untuk memperkuat masyarakat dalam mempengaruhi pengambilan keputusan, sebuah komitmen politik yang kuat dari pemimpin bangsa adalah salah satu jalan utama untuk melindungi hutan Indonesia yang tersisa dan menjauhkan Indonesia dari ancaman dahsyat dampak perubahan iklim.

Disinilah pentingnya kita memahami Pemilu Presiden 2009 sebagai sebuah kesempatan emas untuk melihat kesungguhan dan komitmen politik calon-calon pemimpin bangsa dalam upayanya menyelamatkan hutan Indonesia.

Hampir sama dengan Pemilu Legislatif pada bulan Maret lalu, sehubungan dengan Pemilu Presiden kali ini, Greenpeace juga berusaha untuk menyampaikan beberapa informasi mengenai program kerja masing-masing calon Presiden yang berkaitan dengan lingkungan hidup, terutama yang berhubungan dengan penyelamatan hutan Indonesia.

Kalau hanya sekedar aktifitas menanam pohon, anak TK dan SD juga sudah biasa. Oleh karena itu sebaiknya Presiden yang kita pilih adalah Presiden yang memiliki visi misi yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan program kerja yang berhubungan langsung dengan penyelamatan hutan Indonesia. Tapi selain visi dan misi dan penjabarannya dalam program kerja, salah satu hal penting yang perlu juga diperhatikan adalah rekam jejak masing-masing calon Presiden dalam konteks lingkungan hidup, agar kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas atas komitmen mereka untuk melindungi hutan Indonesia.

Sekarang sudah saatnya kita sebagai warga negara yang memiliki hak pilih dengan tegas memilih pemimpin yang dapat diandalkan dengan memilih hutan untuk masa depan!