activism is no crime

Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan. Bagi banyak orang, memilih artinya menetapkan komitmen untuk beraksi melindungi lingkungan, atau tidak sama sekali.

Bagi beberapa dari kami, tidak ada pilihan lagi. Kami melakukan apa yang harus dilakukan untuk menyampaikan pesan bagi dunia bahwa ada kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki. Sementara bagi banyak orang, membawa pesan bagi dunia membuat mereka kehilangan saat-saat berharga dalam hidup mereka, lebih lagi ada orang-orang yang harus kehilangan kebebasan dan mendekam dalam penjara demi membawa pesan bagi dunia.

Beberapa bulan terakhir dunia telah menyaksikan orang-orang berani yang mempertaruhkan kebebasan mereka saat merambat di atas tali, memanjat gedung tinggi dan bergantung di atas jembatan tinggi. Bagi banyak orang pemanjatan 15 jam yang dilakukan mereka adalah pemanjatan yang sangat melelahkan, tapi bagi mereka itulah yang akan dilakukan agar orang-orang yang perlu mendengarkan pesan yang disampaikan akhirnya sungguh-sungguh mau memperhatikan.

Bagi para aktifis dari Greenpeace Jerman yang bergantung di atas tali kapal kargo awal bulan Juli lalu di Hamburg, pesan sudah disampaikan. Aksi yang mereka lakukan merubah kebijakan pelabuhan dan daging ikan paus yang terancam punah kembali ke tempat asalnya. Musim ini, daging ikan paus tidak akan berakhir di lemari es orang-orang Jepang lalu menjadi makanan anjing orang-orang kaya di sana.

Bagi enam aktifis di London yang dengan berani memanjat gedung tertinggi di Eropa, pengalaman tersebut adalah pengalaman tak terlupakan bergelantungan selama 15 jam ditopang seutas tali.  Pengalaman tersebut adalah pengalaman yang membakar otot, pemanjatan maraton tapi mereka akhirnya berhasil tiba di atas gedung dan selama beberapa saat dunia harus mempertimbangkan dengan keras apa yang telah mereka lakukan untuk menyelamatkan Arktik. Dewi Fortuna tersenyum lebar  pada mereka karena setelah ditahan, diinterogasi akhirnya mereka dilepaskan.

activist ride

Di saat aktifis dari Greenpeace Jerman berjuang menyelamatkan sirip ikan paus di Hamburg, dan para pemanjat merambat gedung The Shard, di Korea Selatan empat orang aktifis dari Amerika Serikat, Indonesia, Taiwan dan Korea bergantungan setinggi 130 meter jauh di atas jembatan Busan. Mereka memberikan pesan peringatan kepada 3,4 juta orang yang tinggal berdekatan dengan reaktor nuklir Kori untuk memaksa pemerintah menyusun rencana darurat. Tiga hari penuh perjuangan di atas jembatan Busan membawa keempat aktifis ini pada vonis keras dari jaksa penuntut, sepuluh bulan bagi aktifis Korea dan enam bulan bagi aktifis Amerika Serikat, Taiwan dan Indonesia.

Namun kita semua akhirnya menyaksikan sebuah perubahan yang paling rasional dari semua persidangan yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain. Setelah menunggu dengan waswas, hakim memerintahkan para aktifis membayar denda. Ia mengakui aksi mereka adalah untuk menyampaikan pesan tentang undang-undang keselamatan kecelakaan nuklir dan apa yang telah dilakukan adalah demi keselamatan banyak orang.

Tahun lalu, di hari yang ketiga berkemah di sebuah lokasi pengeboran minyak, Lucy Lawles membuat sebuah video dengan pertanyaan sederhana: “Apakah ada yang mendengarkan? Apakah ada yang peduli seperti kami?”

Itulah inti dari setiap pesan yang disampaikan oleh para aktifis, mereka yang turun ke jalan-jalan di kota New York, bergantungan pada seutas tali di Hamburg, atau 300 meter di gedung tinggi di London, bahkan saat berdiri menunggu putusan hakim di Gedung Pengadilan Korea Selatan.  Ketika menghadapi kesulitan, ejekan bahkan penjara, ketakutan yang sesungguhanya adalah bahwa mereka tidak akan didengar.

Ketika para aktifis memilih untuk beraksi baik secara individu maupun secara kolektif dalam misi  bersama Greenpeace, kami berusaha untuk memastikan bahwa mereka tidak sendirian. Dengarkan mereka, gaungkan pesan mereka.