PANAS! Cuma itu yang bisa saya rasakan sekarang. Pulau tidung salah satu pulau cantik di Kepulauan Seribu dengan ribuan wisatawan setiap minggunya.  Bersama  Solar Generation Indonesia dan Green Community Universitas Indonesia. Kali ini kami saling membantu bersama komunitas Kaki Gatel dalam event Gabung Mulung Tidung 2 (GMT2) untuk bersihin sampah, menanam bakau, dan membenahi perpustakaan rakyat di Tidung. Ada Green Radio Jakarta dan Trans TV juga sebagai media-partnernya.

Gabung Mulung Tidung (GMT) adalah sebuah event sosial gagasan komunitas travelling Kaki Gatel. Aksi mulung sampah di pulau ini sengaja diselenggarakan sebagai salah satu tindakan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam di sekitar kita. GMT1 telah diselenggarakan pada 14-15 Mei 2011 lalu bersama komunitas CouchSurfing Indonesia.

Setelah tiga jam menyeberangi laut Jakarta dan melihat kapal tanker dan batu bara yang lalu-lalang, sampailah kami di dermaga Tidung Besar. Kami disambut dengan penampilan seni tari dan bela diri dari anak-anak SD Tidung. Kami langsung menuju penginapan yang telah disediakan panitia. Beres-beres, shalat zuhur, makan siang, lalu kami cabut ke Taman Baca Nyiur, sebuah perpustakaan rakyat di Tidung. Selain nyumbang buku dan menyortir tumpukan buku di sana, kami juga memasang solar panel untuk sumber energi listrik. Supaya masyarakat Tidung semakin cerdas, dan tentunya hemat biaya.

Malamnya, kami melakukan presentasi tentang profil Greenpeace dan kampanye-kampanyenya di depan pejabat pemerintah Tidung dan peserta GMT2. Ternyata banyak lho peserta yang ingin tahu lebih banyak tentang Greenpeace. Untung kami sudah menyediakan goodie bags untuk mereka yang bertanya.

Pagi ini, setelah gagal menyambut sunrise—entah karena matahari yang terbit kepagian atau kami yang bangun kesiangan, kami snorkeling di pantai dekat penginapan. Ini adalah pengalaman snorkeling pertama saya. Saya senang sekali bisa melihat kekayaan bawah laut di pulau ini. Terumbu karangnya warna-warni, hewannya juga unik-unik. Salah satunya bulu babi yang bikin kami jadi agak norak. Saya juga liat seekor ikan aneh entah-apa-namanya yang serius banget ngeliatin saya dan bikin saya kaget ketakutan, karena bentuknya yang buntel, kuning mencolok, bibirnya agak monyong, dan mukanya mirip temen saya yang sama anehnya.

Senang sekali bersama membersihkan dan berbagi di Pulau yang saat ini menjadi pulau yang menjadi tujuan utama wisatawan. Pulau Tidung yang saya kunjungi kali ini sudah jauh lebih baik. Sampah di dermaga sudah jauh berkurang, walau di tempat lain masih banyak botol plastik berceceran, terutama di dekat warung makan. Tapi kemajuan ini patut diapresiasi. Tentunya berkat kepedulian masyarakat yang semakin tinggi terhadap lingkungan dan kegiatan GMT ini. Memang begitu semestinya, karena sebagai daerah tujuan wisata, kebersihan dan kelestarian alam menjadi fokus penting untuk Tidung.

Saya pribadi sebagai orang yang suka jalan-jalan, terlepas dari status saya sebagai aktivis lingkungan, tetap merasa harus menjaga kelestarian alam dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama, sebagai bentuk tanggungjawab saya kepada Tuhan sang pemilik alam. Saya sendiri banyak mengambil pelajaran dari dinamika alam untuk kehidupan. Alam jadi tempat saya untuk “escape” dari penatnya rutinitas.

Buat saya alam adalah tempat curhat yang paling tepat. Apapun yang saya lakukan: marah, tertawa, galau, nangis, sampe kelaperan, ia setia menemani. Alam adalah salah satu sahabat saya yang paling baik. Bedanya, ia lebih sabar. Walau mereka di cabik-cabik sana-sini sebagai pelampiasan pun, ia nggak membalas. Dan tanpa perlu banyak bicara, ia bisa menenangkan hati saya dengan rupanya yang luar biasa. Sahabat sejati selalu ada di kala senang dan susah.

Much love from Tidung,

Melodya Apriliana -- Aktivis