Kalimantan telah lama dikenal sebagai lumbung energi nasional. Alih-alih menjadi sebuah status yang membanggakan, perlu kiranya kita menengok langsung apa yang terjadi pada alam Kalimantan yang dulunya begitu hijau lestari.

Entah telah berapa lama eksploitasi emas hitam ini terjadi, tetapi ini benar-benar bisnis yang menguntungkan. Kalau tidak menguntungkan bagaimana bisa 70% dari total luas kota Samarinda berubah menjadi tambang batubara. Dan jelas sekali menguntungkan karena para pebisnis batubara berlomba-lomba menggali lebih dalam lagi, lebih banyak lagi dan menjualnya keluar negeri.

Hari begitu terik siang itu, tampak air kekuningan mengalir di salah satu tempat yang terpojok di Kebun Raya Samarinda. Mungkin tidak banyak pengunjung yang sadar, apa yang terjadi dengan air tersebut? Mengapa warnanya kekuningan dan keruh? Dan darimana sebenarnya air ini berasal? Usut punya usut, tim kami yang saat itu sedang melakukan survey singkat menemukan bahwa air itu mengalir dari tambang batubara yang terletak dibalik lokasi Kebun Raya Samarinda tersebut. Seberapa beracunnya air itu? Mungkin tidak banyak juga yang tahu atau bahkan peduli, tetapi dari riset singkat tim kami, ditemukan tingkat keasaman (Ph) 2,3 dimana standard normal berkisar antara Ph 6-9. Jadi bisa dibayangkan betapa berbahayanya air tersebut.

Lain tempat lain lagi ceritanya. Tetapi semua air beracun yang mengalir menghasilkan cerita yang sama. Para petani ini bukannya semakin makmur dengan kehadiran tambang batubara di area persawahan mereka. Tidak ada lagi air irigasi yang bersih, berhadapan dengan tanpa pilihan sama sekali, mau tidak mau mereka mendapat air irigasi yang dipompa keluar dari lubang-lubang tambang. Apa dampaknya bagi hasil pertanian mereka? Ternyata air irigasi yang terkontaminasi ini menyebabkan berkurangnya produktifitas sawah mereka. Disamping itu, para petani ini harus menambahkan seakin banyak pupuk, penyubur juga zat kapur untuk menetralkan air tambang yang asam.

Ini hanya sekelumit cerita dari kehidupan sekitar tambang batubara di kota Samarinda. Masih banyak lagi kisah tentang air di masyarakat di Kalimantan Tengah ataupun lokasi-lokasi tambang lainnya. Kelangkaan air menjadi masalah lain lagi yang banyak dialami oleh masyarakat, sungai menjadi kering dan lama-kelamaan mati.

Mungkinkah kebijakan pemerintah ini berubah? Kebijakan energi yang saat ini menempatkan Indonesia sebagai pengekspor batubara terbesar di dunia, tetapi meninggalkan jejak kehancuran dan kerusakan yang menyedihkan.

Menyongsong pemilihan Presiden pada Juli tahun ini, masih adakah harapan yang bisa kita gantungkan kepada pemimpin kita untuk menghentikan ekspansi batubara di Indonesia? Sejauh apa pemimpin yang akan duduk di kursi kepresidenan selanjutnya mempunyai visi dan misi untuk menyelamatkan lingkungan Indonesia?

Kita semua punya hak untuk bersuara. Tidak ada kata tidak mungkin untuk sebuah perubahan, asal perubahan tersebut diupayakan dan diperjuangkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mari bersama-sama Greenpeace menyatukan langkah dan berseru kepada presiden mendatang untuk menyelamatkan lingkungan Indonesia demi masa depan generasi mendatang yang lebih baik.

Klik disini untuk bersuara bersama 100% Indonesia