Sore itu sejumlah warga Tebet Timur yang tinggal di sekitar kantor Greenpeace Indonesia menyaksikan film 100% Indonesia yang bercerita tentang keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Diantara warga tersebut hadir beberapa ulama dan sesepuh di sekitar wilayah Tebet Timur, diantaranya adalah Bp.H.Syahbani (Imam masjid Taqwa) dan Habib Muhammad Ridho bin Yahya yang merupakan adik dari Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, yang memang diundang untuk menghadiri acara berbuka puasa di kantor kami.

“Itulah beberapa keindahan hutan milik bangsa yang patut dilestarikan”, ujar Kiki Taufik, Senior GIS Specialist Greenpeace Indonesia. “Seperti yang dilihat di dalam film, beberapa kegiatan kami di Indonesia adalah kegiatan yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan termasuk hutan Indonesia, seperti juga yang terlihat pada foto-foto yang terdapat di ruangan ini,” tambahnya sambil menunjuk seisi ruangan.  Mas Kiki, begitu ia biasa dipanggil menjelaskan apa itu Greenpeace Indonesia dan apa saja kegiatannya sebagai pembukaan.

Kegiatan berbuka bersama ini diadakan dengan tujuan bersilaturahmidan memperkenalkan serta mengakrabkan diri dengan warga sekitar Tebet. Pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” menjadi landasan kami mengadakan acara ini. Kami sangat menyadari bahwa manusia adalah makhluk social yang tak bisa lepas dari peran orang lain, dan sebagai warga yang baru saja menempati kantor di kawasanTebet Timur, sudah sepatutnyalah kami datang dan memperkenalkan diri kami kepada warga sekitar. Hal ini juga dimaksudkan agar warga sekitar bisa berbagi peran dan informasi mengenai apa saja kepada kami terutama tentang permasalahan lingkungan.

Seperti kita ketahui bersama Jakarta adalah salah satu kota yang memiliki persoalan lingkungan yang cukup pelik. Sebut saja soal banjir, jika musim penghujan datang, Tebet adalah satu daerah yang rawan terkena bencana banjir. Untuk itulah, pada kesempatan buka puasa bersama ini, kami juga menyampaikan ajakan kepada warga sekitar untuk mengikuti kegiatan Bersih-bersih Ciliwung. Kegiatan membersihkan sungai ini adalah kerjasama antara Karang Taruna setempat bersama para aktivis Greenpeace yang akan diadakan dalam waktu dekat.

Habib Muhammad Ridho, salah satu pemuka agama setempat menyampaikan rasa terima kasihnya atas undangan dan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang Greenpeace. Dalam kesempatan ini, Habib Muhammad Ridho juga menyampaikan tausiyah sebelum berbuka puasa tentang dimulai dari sirahnabawiah, beliau menceritakan bagimana Rasulullah SAW berserta sahabat mencontohkan kepada umat manusia untuk hidup sederhana yang sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan. Pada masa itu banyak sahabat yang kaya raya, namun mereka tetap hidup sederhana.Karena dengan hidup sederhana maka secara otomatis tidak ada exploitasi berlebihan di alam ini pada saat itu.Dan dengan hidup sederhana kita dapat mengekang sifat tamak yang sangat merusak. Ketamakan ini lah yang sekarang banyak terjadi, kita bisa lihat banyaknya hutan-hutan di tebang, tambang-tambang batubara yang tidak memperhatikan lingkungan dan lautan yang tercemar yang menunjukkan betapa tamaknya manusia saat ini.

Beliau mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruumayat41 :“. Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”. Beliau melanjutkan dengan menjeleaskan bahwa sesungguhnya ini semua berpulang kepada bagaimana cara kita sebagai manusia untuk memanejemen hati, karena orang-orang yang suka nebang pohon, gundulin hutan sewenang-wenang,membuka tambang tanpa aturan adalah orang yang tidak mampu melakukan manajemen hati yang lebih mengutamakan sifat tamakdalam dirinya.

Dari tausiah yang disampaikan Habib Ridhoini kami dapat mengambil satu kesimpulan, jika kita, manusia mampu melakukan manajemen hati, tentunya lingkungan termasuk sumber air, hutan, udara dan tanah akan terpelihara dengan baik, sepertihalnya yang telah di contohkan Rasulullah SAW Kita disini adalah pemerintah, pelaku industri, penggiat lingkungan, masyarakat pada umumnya, dan seluruh umat manusia di muka bumi. Sebagai refleksi pernyataan diatas, kami ingin mengutip perkataan Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional dalam salah satu tweetnya, “Saatnya kita mengesampingkan kepentingan politik dan ekonomi demi masa depan cerah generasi mendatang”.