© dokumentasi masyarakat

 

Ungkapan kekecewaan ini dituangkan masyarakat dalam bentuk tulisan pada sebidang kertas berukuran lebih kurang 50 cm x 30 cm, dengan harapan semoga saja perusahaan dan pemegang kebijakan bisa mendengar jeritan hati mereka, yang sedari awal sudah menolak keberadaan PT. RAPP di wilayah Kelurahan Teluk Meranti. Karena bagi masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Penyelamat Semenanjung Kampar (FMPSK), belum ada bukti satu desa pun yang berada di sekitar wilayah kerja PT.RAPP, masyarakatnya bisa berada dalam keadaan sejahtera.

“Kami tidak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan Tanah seberang... apapun akan kami lakukan...” demikian ungkapan syafrijal, anggota FMPSK yang juga merupakan Dewan Masyarakat Gambut Riau.

Pada Tanggal 30 Juli 2011 yang lalu, sekitar 50 orang warga Kelurahan Teluk Meranti yang tergabung dalam FMPSK melakukan aksi dengan menutup akses jalan koridor PT. RAPP di Semenanjung Kampar (Tanah Seberang). Kelompok perempuan yang terdiri dari Ibu rumah tanggapun ikut bersama dalam aksi tersebut. Lebih Kurang 30 buah truk penganggkut kayu perusahaan dihentikan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk mengangkut kayu sampai kepelabuhan bongkar muatnya (loading) perusahaan. Polisi, tenaga keamanan perusahaan dan juga perwakilan PT.RAPP meminta FMPSK untuk tidak melanjutkan lagi aksi mereka dan menawarkan untuk duduk bersama.

Aksi 30 Juli 2011, , sekitar 50 orang warga Kelurahan Teluk Meranti yang tergabung dalam FMPSK melakukan aksi dengan menutup akses jalan koridor PT. RAPP di Semenanjung Kampar (Tanah Seberang).© Dokumentasi Masyarakat

Aksi ini awalnya akan dilaksanakan oleh FMPSK pada Hari Kamis, Tanggal 28 Juli 2011, namun gagal dilaksanakan karena Polsek Teluk Meranti memanggil beberapa orang perwakilan warga untuk menawarkan mediasi, pertemuan dengan perwakilan perusahaan, sehingga tidak perlu melakukan aksi. Pertemuan yang rencananya akan diwakili oleh Pak Martius, “Beliau orang nomor dua di Humas Jakarta”, demikian ucapan masyarakat mengulangi apa yang disampaikan oleh aparat kepolisian. Perwakilan masyarakat memutuskan untuk membicarakannya kembali dengan masyarakat yang lain. Akhirnya pada Hari Rabu, Tanggal 27 Juli 2011, masyarakat memutuskan untuk tetap melanjutkan aksi yang akan dilaksanakan pada Hari Sabtu, Tanggal 30 Juli 2011.

Aksi hari Sabtu ini pun hampir saja tidak jadi dilakukan karena kembali pihak kepolisian mengatakan bahwa Pimpinan Polres melalui Kasat Intel tidak mengizinkan sehubungan dengan hari libur yang tidak dibenarkan melakukan aksi, namun masyarakat tetap saja berangkat melakukan aksi.

“Jika hari libur tidak dibenarkan melakukan aksi, kenapa perusahaan tetap saja beraksi dan tidak berhenti menghabisi kayu di semenanjung kampar pada hari libur?” demikian ungkapan  masyarakat.

Melihat PT.RAPP masih saja melakukan penebangan kayu dikawasan hutan semenanjung kampar dimana disana terhadap hak-hak masyarakat dalam bentuk lahan peladangan padi sebagai sumber penghidupan masyarakat, legalitas perusahaan yang masih belum ada kejelasan, penebangan kayu yang sampai ke bibir sungai, kanal perusahaan yang menembus ke sungai telah menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya nelayan mendapatkan ikan, menjadi alasan yang mendorong kenapa FMPSK melakukan aksi pemblokiran jalan koridor PT. RAPP di Semenanjung kampar.

Tentu saja masyarakat masih berharap dan tetap berharap suatu saat nanti akan ada kebijakan yang berpihak kepada mereka dan menghukum para perampas akses dan ruang kelola masyarakat terhadap sumberdaya alam, tentunya jauh sebelum Tuhan menunjukkan hukumNya bagi mereka yang berlaku tamak dan serakah dalam memanfaatkan apa yang telah Tuhan ciptakan bagi kemaslahatan hambaNya.

Foto: Dokumentasi Masyarakat

-- Rusmadya Maharuddin, Jurukampanye Hutan