Anda pikir menyelamatkan Arktik tidak ada hubungannya dengan Asia Tenggara? Pikir lagi! Mungkin lebih baik dengarkan dua remaja dari Asia Tenggara yang tahu bahwa menyelamatkan Arktik sangat berhubungan dengan mereka.

“Jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang, generasi kami akan menderita nantinya. Bumi kita akan menjadi semakin lemah, akan terjadi kekurangan pangan dan polusi dan hidup kami akan menyedihkan,” ujar Sarah Bartrisyia, dari Kuala Lumpur.

Sarah (13) memiliki komitmen yang kuat untuk menyelamatkan planet, dan semangat ini dengan kreatifitasnya, membuat ia terpilih menjadi pemenang dari kompetisi Bendera bagi Masa Depan (Flag for the Future) yang diselenggarakan Greenpeace.

Remaja Malaysia ada di peringkat atas kompetisi ini – sebuah kompetisi yang menarik banyak peminat dari 54 negara – untuk menciptakan sebuah bendera yang menyimbolkan komitment dari jutaan orang yang telah menanda tangani petisi untuk melindungi Arktik. Desain yang dimenangkan Sarah akan diproduksi sebagai bendera titanium dan ditancapkan di Kutub Utara, empat kilometer dibawah es dan diletakan di dasar laut dalam sebuah kapsul yang berisikan tanda tangan dari jutaan pembela Arktik.

Saat ini, tak sebuah negarapun memiliki perairan internasional di sekitar Kutub Utara, tapi saat perubahan iklim yang menyebabkan mencairnya es, negara-negara dan perusahaan-perusahaan bergerak masuk untuk mengeksploitasi sumber daya termasuk minyak dan ikan yang ada di Laut Arktik.

“Kita perlu menjaga Arktik karena Arktik adalah milik kita bersama dan bagian dari dunia kita. Pemanasan global berpengaruh pada kita semua,” Sarah menambahkan. “Para pemimpin dunia perlu bekerja sekarang untuk menyelamatkan lingkungan bagi generasi masa depan.”

Shi Yun Lim (13) dari Singapura adalah pemenang kedua kompetisi ini, yang berarti benderanya juga akan diberangkatkan ke Arktik.

“Saya mungkin tinggal di tempat yang panas, tapi saya tahu es polar sangat penting karena perannya menjaga seluruh planet tetap dingin. Jika es itu mencair, bumi akan memanas lebih dan lebih lagi dan pulau kecil seperti Singapura akan menderita karena permukaan air akan naik.”

Shi Yun juga tahu ada solusi bagi masalah ini: “Para pemimpin dunia harus tahu bahwa kita musti segera menghentikan penggunaan bahan bakar fosil yang kotor – ada banyak jenis energi yang bisa kita pergunakan, seperti tenaga angin.”

Kedua remaja ini adalah anggota aktif perkumpulan Girl Guides dan mengerti dengan jelas bahwa setiap individu bisa membawa perubahan ke tengah-tengah komunitas mereka. “Saya sangat aktif melakukan aktifitas perlindungan lingkungan seperti mengumpulkan Koran bekas dan mendaur ulang.” ujar Sarah.

Anak perempuan yang inspiratif ini adalah bagian dari generasi baru yang tak hanya menganggap bahwa  mengetahui hal-hal yang mempengaruhi masa depan mereka adalah sesuatu yang penting, tapi juga mengerti bahwa masalah global membutuhkan solusi global.

“Hanya ketika komunitas global bekerja bersama dalam perdamaian barulah tercipta harapan untuk menyelamatkan dunia kita.”  ujar Shi Yun.