Saya kembali ke kota Magelang 50 KM dari kota Jogjakarta. Candi Borobudur itu tujuan saya kali ini, sebuah candi megah yang berdiri sejak abad ke 9, tepatnya di tahun 824 Masehi. Tak ada yang tak berdecak kagum ketika melihat kemegahan Borobudur. Candi ini menandakan betapa jayanya pada masa itu sebuah kerajaan bernama Mataram yang dipimpin oleh Raja Samaratungga.

Borobudur dibangun dengan kejelian seorang arsitek bernama  Gunadharma. Luas Borobudur mencapai 118 m dengan ketinggian 42 m. Kemegahannya ditambah dengan jumlah tingkatnya yang mencapai 10 tingkat, 6 diantaranya berbentuk persegi panjang, 3 lainnya bundar, serta satu stupa utama tempat berdirinya patung Sang Buddha.

Banyak cerita mitos yang mengiringi sepanjang berdirinya Borobudur hingga saat ini. Kisah-kisah tersebut diceritakan oleh para pengunjung setelah bertandang kesana, yang entah darimana asalnya. Namun, konon katanya, barang siapa yang mampu menyetuh batu yang terdapat di dalam stupa, maka keinginannya akan terwujud. Itu baru satu mitos, belum lagi mitos lainnya yang menurut logika tidak masuk akal, namun Borobudur memang selalu punya magnet tersendiri, untuk menarik orang pergi kesana.

Tak heran jika aktor kenamaan Richard Gere menyempatkan diri untuk mengunjungi Candi Borobudur dalam rangka tur spiritualnya. Alasan dia datang ke Borobudur adalah untuk memperingati perayaan 1.000 tahun kedatangan Atisha.Atisha adalah pendeta yang membawa gelombang Buddha ke Tibet. Pada tahun 1011 ia belajar Buddha di Sriwijaya. Tahun 1012, Atisha mengunjungi Candi Borobudur. Ajaran yang ada di Candi Borobudur ia bawa ke Tibet. Jadi akar ajaran Buddha di Tibet sampai sekarang ini berasal dari Candi Borobudur.

Borobudur memang punya daya tarik tersendiri, baik itu secara fisik, cerita mitos, ataupun secara spiritual. Bahkan pada tahun 1991, lembaga dunia UNESCO menobatkan Borobudur sebagai warisan dunia. Hal ini menambah kebanggaan tersendiri di hati masyarakat Indonesia, dan dunia tentunya.

Cerita spiritual lainnya datang dari Patung Buddha yang terdapat di stupa utama Borobudur. Saya yakin, berdirinya patung Buddha disitu bukan hanya sebagai objek agar Candi Borobudur terlihat megah dan agung. Lebih dari itu, patung tersebut merupakan simbol penghargaan tertinggi terhadap Sidharta Gautama, sebagai pembawa ajaran Buddha.2,500 tahun yang lalu, Siddhartha Gautama Shakya menyadari adanya sebuah ketergantungan antara kehidupan dan eksistensi, dan kemudian memilih menjadi Buddha. Menurut tradisi, ada keajaiban yang dipercayai bahwa Buddha terlahir, mendapatkan pencerahan, dan mati di hari yang sama ketika itu, tepat bulan purnama di bulan keenam, dan pemeluk agama Buddha di seluruh dunia merayakan peristiwa tersebut. Ketika dia mendapat pencerahan, saat itu juga dia mati dari dirinya yang dahulu sebagai seorang pangeran, dan kemudian berlanjut terlahir kembali sebagai Buddha.

Berangkat dari cerita diatas tadi, saya menemui adanya keselarasan antara momen pencerahan dengan kampanye revolusi energi. Revolusi energi merupakan langkah yang tepat, untuk meninggalkan jejak kegelapan yang ditorehkan oleh sumber energi fosil menuju kepada sumber energi yang bersih, aman, dan berkelanjutan.

Pemenuhan kebutuhan energi Indonesia selama ini masih bergantung pada bahan bakar fosil, dimana bahan bakar fosil ini mengisi 95% dari total pasokan energi Indonesia. Namun, yang harus diingat adalah energi menempati urutan kedua sebagai penyumbang gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim yang makin hari makin memburuk akibatnya. Dengan kebutuhan energi yang besar dan peningkatan tiap tahunnya yang cukup signifikan, maka sektor energi akan menempati urutan pertama sebagai penyebab perubahan iklim dalam kurun waktu beberapa puluh tahun ke depan. Akankah kita membiarkan hal ini terjadi pada saat kita mempunyai kemampuan untuk mencegahnya?

Sementara, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa berlimpah.Tenaga angin, air dan matahari serta panas bumi yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif, keberadaannya sangat mudah ditemui di berbagai pelosok negeri ini. Tidak ada yang tidak mungkin untuk pengembangan energi terbarukan yang aman dan bersih di Indonesia.

Sekarang, pada titik balik dalam sepanjang sejarah manusia, dibawah ancaman perubahan iklim, kita membutuhkan pemikiran baru, cara baru untuk memberi energi pada dunia. Kita butuh sebuah revolusi. 

Ini adalah saat yang tepat bagi generasi kita. Greenpeace mengajak Anda semua untuk menjadi bagian dari upaya pembukaan lembaran baru terhadap sebuah peninggalan. Mari kita perangi ancaman terbesar yang pernah ada bagi keberadaan umat manusi, ancaman tersebut adalah perubahan iklim, gerakkan masyarakat untuk beralih dari bahan bakar fosil dan membangun sebuah era baru yaitu era energi bersih dan terbarukan, dan berikan warisan berharga bagi anak cucu kita. Inilah saatnya membuat sebuah perubahan,dan Borobudur adalah titik yang tepat untuk memulai perubahan tersebut, mencerahkan pemikiran masyarakat Indonesia, pemerintah juga  warga dunia untuk saatnya menggunakan energi terbarukan demi kelangsungan peradaban umat manusia.

Ajaran Buddha dalam memaknai momen pencerahan, menyadarkan kita semua akan pentingnya mengatasi perubahan iklim dan menandai titik awal perjalanan menuju revolusi energi.