Pagi ini rakyat Riau berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara di sekitar rumahnya untuk menentukan pilihan Gubernur Riau. Hari ini, pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2013-2018 putaran kedua berlangsung setelah tiga pasangan lainnya gugur di putaran pertama pada tanggal 4 September 2013 lalu. Pemilihan putaran kedua dilakukan karena tidak ada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang memperoleh suara lebih dari 50 persen pada putaran pertama sehingga dua calon peroleh suara terbanyak dari pemilihan tersebut maju pada putaran kedua ini.

Meski hanya diikuti oleh 38% dari total jumlah pemilih Riau pada putaran pertama, namun pemilihan kali ini diperkirakan oleh sejumlah pihak akan berlangsung sangat ketat. Siapa pun itu yang terpilih kali ini, jabatan Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau seharusnya menjadi titik balik untuk tidak mengulangi kesalahan pemimpin sebelumnya dan menjadikan Riau lebih baik dalam berbagai sektor terutama dalam penyelamatan hutan dan lingkungan.

Kenapa hari ini harus menjadi titik balik bagi masyarakat Riau? Dalam lima tahun terakhir, sudah banyak pejabat Riau yang terjerat kasus korupsi di sektor kehutanan, ini belum lagi menyebut kasus korupsi di sektor lain. Bahkan pemilihan gubernur hari ini juga tengah berlangsung persidangan Rusli Zainal, Gubernur Riau yang baru saja dinonaktifkan karena menjalani sidang dengan dugaan tersangka kasus korupsi kehutanan dan PON. Apakah hari ini masyarakat Riau tidak (lagi) salah memilih pemimpinnya terutama harus bersih dan berpihak pada rakyat dan lingkungan hidup.

Banyak konflik sumberdaya alam yang terjadi di Riau yang masih menyisakan luka yang dalam bagi masyarakat dan lingkungan hidup, seperti masalah kebakaran hutan yang terjadi hampir di setiap musim kemarau, akan menjadi pekerjaan yang tak terelakan untuk calon Gubernur Riau yang terpilih nantinya. Kita berharap masyarakat Riau menjadi pemilih yang cerdas dan bijaksana untuk masa depan Riau. “Pilih hutan untuk masa depan”.

Isu lingkungan hidup dan hutan menjadi perhatian pada setiap kampanye yang di usung oleh setiap calon Gubernur Riau. Apakah nantinya salah satu dari calon gubernur dan wakil gubernur terpilih masih ingat dengan hal penting ini, hutan hujan yang tersisa akan menjadi saksi untuk komitmen mereka.

Berbagai seruan kepada masyarakat Riau yang dilakukan Greenpeace bersama Jikalahari dan Walhi Riau dalam rangkaian kegiatan Vote For Forest (Pilihlah Hutan), agar memilih calon gubernur yang benar-benar peduli terhadap lingkungan hidup dan hutan. Pohon harapan yang tergantung 1000 daun bertertulis harapan masyarakat Riau yang ditujukan kepada calon gubernur Riau yang terpilih nantinya untuk lingkungan hidup dan hutan. Pohon harapan ini sebagai bentuk kepedulian masyarakat yang merindukan pemimpin Riau yang bersih dan memiliki komitmen yang kuat pada lingkungan hidup dan hutan untuk pembangunan yang lestari dan berkelanjutan di Propinsi Riau. Hanya pemimpin yang bersih serta memiliki  kepedulian kuat serta aksi yang nyatalah yang mampu wujudkan harapan masyarakat Riau ini.

Berikut ini tiga dari seribu harapan yang diberikan oleh masyarakat Riau kepada Gubernur terpilih:

 “Semoga Gubernur kali ini lebih bisa menata lingkungan dan tidak sembarangan memberikan izin untuk menebang pohon bagi keuntungan satu golongan” - Claudy

 “Jangan Menebang atau membakar hutan demi kepentingan pribadi, jaga hutan, lestarikan alam kita, semoga hutan Riau hijau kembali” - Ceng (Siswa SMA 5 Pekanbaru)

 “tetap mensugestikan diri untuk menjaga hutan kita dan jangan sampai karena janji investasi perkebunan, warisan anak cucu kita dikorbankan pak gubernur” - Shaquille (SMA 1 Pekanbaru)

Bersama WALHI dan Jikalahari, Greenpeace akan menyerahkan pohon harapan tersebut kepada gubernur terpilih, berharap suara masyarakat menjadi pertimbangan bagi pak gubernur dalam mengambil kebijakan untuk masa depan lingkungan dan masyarakat Riau yang lebih baik. Harapan yang besar dari masyarakat Riau terhadap Gubernur Riau yang terpilih nantinya, Saatnya Riau menuju nol Deforestasi, Nol Asap dan Nol Konflik Sumberdaya Alam.