Pernahkah kamu bertemu dengan hiu? Hanya mungkin melihatnya di televisi atau di layar monitor saat internetan? Menyeramkan dan merasa takut? Itu hal lumrah dan wajar! Namun jika kemudian menjadi stigma bahwa hiu jahat. Itu tuduhan berlebihan yang menjurus pada pencemaran nama baik hiu! Mengapa? 

Sebagian besar jenis hiu memang bertampang tegas, berkarakter hiperaktif dan termasuk perenang gesit dan tangguh. Bisa dijumpai di perairan payau, pantai maupun di kedalaman lautan. Tidak heran sebagian besar jenis hiu dikenal sebagai kelompok ikan kosmopolitan yang memiliki ruang jelajah luas dan dapat dijumpai di semua bentang samudera.

Beberapa diantaranya juga sangat agresif dan bernyali. Bahkan tidak segan melakukan serangan fatal terhadap suatu objek, termasuk manusia. Namun hiu hanya akan menyerang perenang dan penyelam apabila dianggap ancaman, lawan ataupun mangsa. 

Hiu juga buta warna, maka dalam memangsa ataupun menyerang, hiu-hiu yang sangat agresif justru cenderung lebih taktis. Mereka juga punya kemampuan mendeteksi aroma amis dan bau darah dalam radius ratusan meter serta mendeteksi keberadaan mangsa terutama kawanan ikan dalam jarak belasan mil. Oleh karena itu, naluri untuk menyerang dan ketangguhan melumpuhkan target dari beberapa jenis hiu ini tidak dapat diremehkan.

Sebut saja Hiu Putih Apakah sudahkah pernah menonton ‘Jaws’ film garapan sutradara kondang Steven Spielberg yang diluncurkan tahun 1975? Film inilah yang ditenggarai menjadi penyebab Hiu Putih menjadi sangat terkenal hampir 4 dekade terakhir dan termasuk yang paling sukses membangun prasangka publik, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa kala itu bahkan sampai sekarang, bahwa hiu itu buas, kejam dan jahat!

Namun apakah prasangka demikian benar? Tunggu dulu! 

Meskipun hiu umumnya cenderung bersifat agresif dan turut menyandang gelar sebagai pemangsa teratas (top predator) di lautan, dan hampir tidak memiliki predator alami di levelnya kecuali dari kelompoknya sendiri, nyatanya saat ini populasi mereka terancam, menurun drastis dan beberapa jenis diantaranya mendekati kepunahan!

Nah loh! Bagaimana bisa? Apa penyebabnya?

Adakah yang lebih buas, kejam dan jahat dari hiu? Sudah menjadi rahasia umum! Meski belum menjadi kesadaran kritis publik secara luas bahwa faktor utama menurunnya populasi hampir semua jenis hiu, tidak terkecuali dari beberapa jenis-jenis yang dikenal paling agresif, disebabkan oleh kegiatan perikanan yang tidak bertanggungjawab (Baca juga: Ada Hiu Dibalik Tuna). 

Lebih dari 6 dekade terakhir, sejak lembaga pangan dunia, FAO, memulai pencatatan statistik perikanan global, tingkat eksploitasi manusia terhadap hiu terus meningkat tajam. Tidak kurang dari dari 273 ribu ton pada tahun 1950 hinga 765 ribu ton pada tahun 2012, atau meningkat hampir 3 kali lipat. Catatan FAO tersebut sekaligus membukukan tingkat eksploitasi manusia terhadap hiu sejak 1950 sampai dengan 2012 mencapai lebih dari 589 ribu ton per tahun. Dan angka-angka itu hanya data tangkapan yang dilaporkan!

Tingginya permintaan atau konsumsi terhadap sirip hiu,terutama di Hong Kong dan Cina, menjadi faktor utama pemicu pembantaian hiu –terutama dengan metode kejam yang disebut shark finning–terus masif dan sistematis terjadi di lautan dunia. Diperkirakan 100 juta hiu terbunuh tiap tahunnya bahkan perkiraan maksimum mencapai 273 juta per tahun.

Bandingkan dengan data ISAF (International Shark Attack File), antara 1580-2013 (selama 433 tahun) di seluruh dunia hanya tercatat 2.665 serangan hiu terhadap manusia dan 492 diantaranya dikategorikan sebagai serangan fatal mematikan. Data ini menunjukkan bahwa rata-rata tidak lebih dari 1 orang terbunuh akibat serangan hiu per tahunnya.

Dan kamu pasti dengan mudah tahu hasil perbandingannya: untuk setiap 1 orang yang terbunuh, sekurangnya ada sekitar 100 juta ekor hiu yang dibantai, setiap tahunnya! Siapa yang lebih kejam? Hiu atau manusia?!

Pola pikir dan perilaku bijak tentu tidak akan berujung hanya di perdebatan tanpa solusi dan berhenti pada alasan siapa yang lebih kejam. Namun haruslah menjawab dengan suara dan tindakan nyata bahwa hiu, terutama beberapa jenis hiu yang terancam punah perlu segera mendapatkan perlindungan-jenis termasuk perlindungan-habitat, yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi hajat hidup umat manusia.

Diatas kertas kebijakan banyak negara, tidak terkecuali di Indonesia, hiu dianggap jenis ikan non-
target, bahkan beberapa jenis sudah mendapatkan perlindungan. Namun kenyataanya, setiap saat semua jenis hiu terus diburu, termasuk terpancing ataupun terjaring oleh kapal-kapal ikan komersial di laut lepas, dan sebagian besar dicampakkan kembali ke lautan tanpa siripnya. Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan terus terjadi!

Laut yang sehat yang kita cita-citakan dipastikan tidak akan terwujud jika pembantaian terhadap hiu terus berlanjut dan kepunahan beberapa jenis hiu tidak bisa dicegah. Sebagai salah satu predator teratas, hiu berjasa dan berperan vital menjaga keseimbangan rantai makanan di lautan, menjaga agar lautan bumi dapat menjadi terus menjadi lumbung ikan di masa depan!

Lalu apa yang masih bisa kita lakukan? Mari bergabung dengan lebih dari 25 ribu orang di Indonesia yang sudah mendukung kampanye 100 Persen Indonesia keberanian pemerintah kita menjadi bagian dari solusi perikanan yang bertanggungjawab dan mengambil peran kepemimpinan dunia.

Pemerintah Indonesia perlu aktif bersuara pada sidang-sidang perserikatan bangsa-bangsa untuk turut mendukung dan mewujudkan sejumlah kawasan suaka laut global di laut lepas yang akan memberikan kesempatan berbagai populasi jenis hiu dapat pulih kembali dan terhindar dari kepunahan.

Di bulan Agustus 2014 ini, tepatnya dari tanggal 10 sampai dengan 16 Agustus, Greenpeace bersama Save Sharks Indonesia dan komunitas lainnya di seluruh dunia juga akan turut ambil bagian dalam #SharkWeek termasuk ‘memulihkan nama baiknya’ dari stigma berlebihan selama ini!

Saya yakin kamu juga tidak akan melewatkan momentum penting #SharkWeek ini kan?! 

Jadi, ayo para Pembela Lautan! Terus berbagi fakta-fakta menarik mengenai hiu dan lautan kita. Jadilah bagian dari suara dan kekuatan damai untuk mewujudkan #lautsehat dan menegaskan kembali suara publik akan pentingnya perlindungan hiu, dan terlindungi!

One of the many reefs in Raja Ampat, Papua, Indoneisa, 22th May 2013.  The Rainbow Warrior is in Indonesia to document one of the world’s most biodiverse – and threatened –  environments, just three years after the Indonesian navy escorted the Rainbow Warrior II out of its territorial waters in October 2010. Photo: Paul Hilton / Greenpeace