membela hutan indonesia, menuju nol deforestasi

Semuanya bermula di tahun 2003, sepuluh tahun lalu ketika industri kayu lapis, kayu gergajian, kertas dan minyak kelapa sawit milik beberapa keluarga pebisnis mendorong hutan hujan Indonesia ke arah tingkat kehancuran yang sangat tinggi, setara hingga kerusakan hutan seluas Belgia setiap tahunnya. Tingkat deforestasi ini lebih cepat daripada yang terjadi di hutan mana pun di dunia ini.

Pada saat itu, para periset kami yang tak kenal mulai melacak operasi kayu lapis ilegal di Indonesia yang diambil dari hutan-hutan alam di pedalaman Sumatra, Kalimantan dan Papua. Kayu lapis ilegal ini lalu dibawa ke pabrik-pabrik di Cina dan berakhir di proyek pembangunan gedung-gedung pemerintah Eropa dan Cina. Hasil riset tersebut berhasil membongkarn kasus ini menjadi sebuah skandal besar.

Pada tahun 2004, Rainbow Warrior pertama kali masuk ke Indonesia. Bersama aktivis Indonesia dari Telapak, WALHI dan beberapa jurnalis Indonesia menghentikan upaya penyelundupan kayu yang diangkut oleh beberapa kapal di perairan Kalimantan Tengah, temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada kapal angkatan laut Indonesia yang berada di perairan tersebut.

kerusakan hutan

illegal logging

Investigasi demi investigasi yang kami lakukan telah mengungkap kejahatan besar perusahaan yang di antaranya menemukan spesies kayu langka di logyard pabrik perusahaan kertas terbesar di Indonesia milik Asia Pulp and Paper. Perusahaan itu terbukti menghancurkan hutan, lahan gambut kaya karbon dan habitat satwa dilindungi yang terancam punah untuk dijadikan kertas pembungkus sekali pakai dan tisu toilet. Kampanye kami selama lebih dari tiga tahun berhasil mendorong lebih dari 130 perusahaan global mengkaji ulang hubungan bisnis mereka dengan perusahaan yang terbukti merusak hutan.

Sejumlah aksi konfrontasi langsung tanpa kekerasan yang kami lakukan berhasil membongkar hubungan perusahaan merek global dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang juga mendorong kepunahan satwa dilindungi Orangutan dan habitatnya. Dan akhirnya di tahun 2011, perusahaan sawit milik kelompok Sinar Mas, Golden Agri Resources (GAR) mengumumkan kebijakan perlindungan hutan meski komitmen itu dikeluarkan setelah sejumlah perusahaan merek terkenal memutuskan hubungan bisnisnya dengan GAR.

Kami tidak hanya membongkar kejahatan hutan tapi kami juga mempromosikan solusi. Di Papua Barat kami bekerjasama dengan masyarakat yang berada di barisan terdepan  menjaga hutan, untuk memastikan hutan tetap lestari dan memberi kesejahteraan kepada mereka. Di Sumatra kami mendukung penguatan kelompok petani sawit independen di Desa Dosan, Kabupaten Siak, Riau yang tengah berusaha mendapatkan sertifikasi perkebunan yang bertanggungjawab.

Selama itu juga kami terus mendorong solusi nyata bagi penyelamatan hutan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan menjadikannya sebagai langkah penting menuju transformasi pasar internasional, industri sektor pulp dan kelapa sawit.

Ini tentang bagaimana Greenpeace bersama jutaan orang di Indonesia dan seluruh dunia menghentikan deforestasi di Indonesia dan mempertahankan kelestarian, habitat dan fungsinya yang memberikan manfaat bagi masyarakat lokal serta menahan laju pemanasan global.

hutan gundul

palm oil

Dulu, adalah suatu mimpi ketika kami meminta pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan moratorium (jeda tebang) yang akan memberikan waktu bagi alam untuk bernafas dan satwa liar dilindungi bebas bermain-main di rumah mereka, di hutan belantara. Namun di tahun 2011, pada tahun ke delapan kampanye hutan kami, Presiden Indonesia mengumumkan moratorium untuk dua tahun pertama yang berakhir pada 2013 dan kemudian diperpanjang lagi untuk dua tahun kedepan.

Ibarat pungguk merindukan bulan, kami ingin mengubah sikap industri dan perusahaan raksasa seperti Sinar Mas untuk menghentikan praktik buruk mereka terhadap lingkungan. Tapi melalui riset, dokumentasi, ekspos, aksi dan lobi yang kami lakukan secara konsisten selama satu dekade ini membuahkan hasil. Kelompok Sinar Mas dan Asia Pulp and Paper mengeluarkan kebijakan perlindungan hutan mereka di tahun 2011 (GAR) dan 2013 (APP).

Menuju Nol Deforestasi bukanlah perkara mudah. Moratorium berjangka waktu bukanlah akhir kebaikan bagi hutan, satwa dan manusia karena harus ada penguatan kebijakan dan pengawasan. Mengubah prilaku perusahaan-perusahaan besar lainnya masih butuh waktu panjang dan energi yang besar.

Dan itu semua mungkin terjadi berkat dukungan para supporter kami, yang membuat kampanye ini tetap independen bersuara lantang dan beraksi konfrontatif damai. Itulah kenapa kami, Greenpeace terus berbicara kebenaran terhadap kekuasaan. Kami berdiri menghadapi yang berkuasa, bersaksi pada kesalahan mereka, mendorong solusi dan selalu siap untuk berdiri bersama masyarakat di antara buldozer dan hutan hujan.

Momen satu dekade kami turut membela hutan Indonesia kami merekam semua perjalanan ini dalam sebuah buku Menuju Nol: Bagaimana Greenpeace Menghentikan Deforestasi di Indonesia 2003-2013 dan Selanjutnya. Dengan buku ini kami turut mengenang sahabat kami Hapsoro (1971-2012) yang merupakan salah satu orang yang memulai kegiatan ini sepuluh tahun silam.

hutan indonesia