Banjir yang mengepung Jakarta sejak tanggal 13 Januari 2014 mengakibatkan banyak titik banjir di Ibu Kota. Bencana banjir yang mengepung Jakarta ini menyebabkan banyak warga harus mengungsi karena rumahnya tenggelam.

Banyaknya korban, dan semakin meluasnya banjir menggerakkan saya dan teman-teman relawan di Greenpeace untuk ikut membantu evakuasi korban banjir. Setiap hari, selama 1 minggu saya dan tim relawan berpatroli. Sekitar 100 orang telah kami evakuasi. Kami berpatroli di daerah Kampung Melayu, yang meliputi kecamatan Tebet. Selain patroli siang hari, kami juga melakukan patroli malam yang dimulai dari pukul 22.00 hingga 04.00 pagi.

Kami membantu mengevakuasi korban banjir bukan tanpa alasan. Di Greenpeace, saya belajar tentang prinsip untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dan berbagi dengan sesama. Bagi saya pribadi, membantu sesama merupakan hal penting, sebuah panggilan yang tidak dapat saya tolak. Bencana banjir kali ini bukan pengalaman pertama saya ikut terjun membantu mengevakuasi korban banjir, saya telah melakukannya sejak tahun lalu. Bahkan ketertarikan menjadi tim evakuasi bencana sudah ada dalam diri saya sejak lama. Pengalaman saya membantu evakuasi korban Tsunami Aceh, pencarian pendaki yang hilang di gunung, dan gempa di Jogja memberi saya kepekaan untuk peduli dengan keadaan sekitar.

Bencana banjir di Jakarta memang terdengar sederhana, terjadi setiap tahun sehingga banyak warga yang menganggap  bencana ini sebagai hal rutin. Padahal, banjir memiliki bahaya di dalamnya. Arus yang deras, tubuh yang basah dapat menyebabkan kedinginan serta habisnya pasokan makanan adalah ancaman serius.  Saya selalu menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum turun berpartroli di kawasan banjir. Turun membantu evakuasi banjir bukan tanpa persiapan, terutama harus memiliki ketrampilan berenang, menyelam dan pernapasan yang baik. Tanpa ketrampilan, proses evakuasi akan menjadi bahaya dan ancaman.

Saya ingat, evakuasi yang saya lakukan ketika tanggul di daerah Kebon Baru jebol. Saat itu, saya dan tim relawan Greenpeace sedang berpatroli malam hari. Seorang Bapak datang meminta bantuan evakuasi. Ia meminta kami membantu mengevakuasi keluarganya. Saat itu sekitar pukul 2 dini hari. Bersama Bapak tersebut, kami segera menuju tempat yang dimaksud. Posisi rumah masuk gang, sekitar 1 meter. Saya masuk ke dalam air yang dingin dan berenang sepanjang gang menuju rumah Bapak tersebut.

Ketika sampai, saya melihat satu keluarga berada di atas atap, seorang bocah kecil, seorang nenek, dan ibu hamil. Padahal air hanya tinggal 2 jengkal tangan lagi mencapai mereka. Kami mengajak untuk evakuasi, namun keluarga itu menolak, ingin bertahan dahulu dan meminta dijemput pada pagi hari saja. Sebenarnya saya merasa sedih melihat ada yang masih ingin bertahan di tengah banjir dengan keadaan air yang sudah tinggi, baju yang basah, apalagi ada ibu hamil. Namun, saya tetap tenang dan ­­membujuk, mengajak mereka agar mau dievakuasi. Setelah keluarga tersebut meminta waktu untuk berpikir, saya dan tim akhirnya berhasil mengevakuasi mereka.

Di hari lainnya, saya dan tim melakukan patroli malam dan melakukan evakuasi satu keluarga. Rumah keluarga tersebut berada di dalam gang sekitar 100 meter. Ketika sampai, seorang ibu sudah menunggu di lantai 2 rumahnya. Ketika bertemu dengan ibu tersebut, dia memberikan saya ember besar. Saya terima ember itu, dan kaget ketika melihat ada bayi di dalam ember itu. Sambil berenang pelan saya membawa ember berisi bayi. Bayi tersebut kelihatan kedinginan, mungkin jika tidak dievakuasi saat itu, hasilnya akan berbeda.

Melakukan evakuasi, membuat saya merasa lebih baik. Meskipun banyak yang menolak dievakuasi dan masih ingin bertahan, tetapi saya hanya ingin mengevakuasi dengan hati. Saya ingin membawa sebanyak mungkin orang ke perahu, memastikan mereka di tempat aman, kering dan tidak kelaparan. Apa yang saya lakukan mungkin tidak mudah dipahami orang lain. Tetapi saya melakukan semua ini, terjun membantu korban bencana banjir karena panggilan hati untuk membantu sesama.

Adi, Volunteer Greenpeace