Sabtu pagi pekan lalu seorang teman mengabarkan berita duka. Dr. Iwan Kurniawan, seorang akademisi sekaligus motor gerakan anti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia telah berpulang pada Jumat dini hari, 3 Februari 2017. Setelah sekitar empat tahun berjuang melawan kanker paru-paru yang dideritanya. Akhirnya, Pak Iwan--begitu saya biasa memanggilnya-- menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pak Iwan adalah Doktor Fisika Nuklir lulusan Universitas Tsukuba, Jepang. Beliau adalah pakar nuklir Indonesia yang selama puluhan tahun dengan gigih berjuang menentang pembangunan PLTN dan telaten membagi ilmunya pada masyarakat dan aktivis gerakan anti nuklir di Indonesia.  

Saya mengenal Pak Iwan pada tahun 2009, saat itu para promotor nuklir Indonesia sedang gencar-gencarnya mempromosikan pembangunan PLTN di negeri ini. Pada satu forum diskusi soal nuklir yang diselenggarakan di Jakarta, saya bertemu pertama kali dengan beliau. Sejak saat itu, Pak Iwan menjadi  guru dan tempat bertanya saya untuk berbagai hal terkait nuklir dan PLTN.

Pada satu kesempatan, saya pernah bertanya pada beliau, kenapa Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan menjadi salah seorang yang paling kritis terhadap rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Pak Iwan menjawab "Mas Arif, dampak negatif dari PLTN  perlu disosialisasikan agar masyarakat  Indonesia paham segala risiko yang mungkin terjadi apabila menerima pendirian PLTN di derah mereka.  Selama ini promotor nuklir hanya mensosialisasikan dampak positifnya saja. Masyarakat harus menerima informasi yang utuh. Semua itu saya lakukan demi kemanusiaan, Mas"

11 Maret 2011, Gempa besar di Jepang memicu Tsunami yang menyebabkan meledaknya PLTN Fukushima Daichi. Hari-hari itu, kesibukan Pak Iwan makin bertambah dengan melayani berbagai wawancara dan talk-show soal kontroversi pembangunan PLTN di Indonesia dan kaitannya dengan bencana nuklir di Fukushima.

Sejak itu saya semakin sering pergi bersama beliau ke daerah-daerah dimana promotor nuklir mempromosikan rencana pembangunan PLTN.

Pernah pada satu kesempatan kami mendapat undangan untuk memberikan seminar soal PLTN bagi para santri di Pondok Pesantren An-Nuqayah di Sumenep Madura. Salah satu lokasi yang pernah diincar oleh BATAN sebagai lokasi pembangunan PLTN. Di sana, Pak Iwan disambut secara hangat dan antusias oleh para santri dan santriwati, moderator memperkenalkan beliau sebagai Kiai Nuklir dari Jakarta.

Pak Iwan hampir tak pernah menolak undangan untuk berbagi ilmunya soal PLTN. Dimana ada propaganda sesat dari promotor nuklir, Pak Iwan akan berkunjung ke daerah tersebut, meskipun tempat tersebut harus ditempuh berjam-jam. Pulau Bangka, Jepara, Semarang, dan Yogyakarta adalah beberapa kota yang pernah saya kunjungi bersama Pak Iwan untuk mengkonter propaganda sesat soal PLTN dari para promotor nuklir.

Percakapan terakhir saya dengan Pak Iwan terjadi beberapa bulan lalu, ketika itu saya menelpon beliau untuk memberitahukan bahwa seorang wartawan media cetak nasional baru saja menanyakan nomor teleponnya pada saya. Saat itu saya menanyakan kabar dan kondisi kesehatannya, Pak Iwan menjawab bahwa saat itu kondisinya masih kurang fit, namun dia menambahkan bahwa dia masih aktif mengajar dan mengisi seminar dan diskusi. 

Beberapa hari setelah percakapan telpon itu, melalui aplikasi Whatsapp, saya bertanya pada beliau soal kebenaran informasi yang dimuat di  laman Guardian soal teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang diklaim sebagai teknologi baru. Seperti biasa, Pak Iwan menjawab secara lugas dan jelas pertanyaan saya terkait PLTN.

Saya kehilangan, seorang guru terbaik, bukan hanya soal nuklir, tapi juga soal dedikasi dan konsistensi dalam memperjuangkan kemanusiaan.  Sayonara Pak Iwan, kami berjanji akan meneruskan perjuangan Bapak.